
Sepanjang jalan, Tisya terus mengajak bicara suaminya. Ia khawatir jika suaminya sampai kenapa-kenapa gara-gara perjalanan jauh. apalagi tubuhnya masih sangat terluka.
Memang sangat jauh hingga mereka harus beberapa kali singgah untuk sekedar makan atau melepas penat.
"Wil, yakin masih nggak pa pa? kalau nggak laut mending kita berhenti dulu deh di hotel atau penginapan, gimana?"
"Nggak usah, semakin cepat akan semakin baik!"
Wilson memperhatikan penampilan Tisya yang memakai rok pendek dengan baju tanpa lengan dan juga out fit rajut.
"Kamu cantik!"
"Jangan gombal deh di situasi kayak gini!'
"Enggak, tapi nanti saat di kampung jangan pakek yang terlalu pendek ya!"
"Kenapa?"
"Takut kamu di ambil orang!"
"Ada-ada kamu!"
Setelah singgah sejenak untuk mengisi perut, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Tisya juga tidak lupa mengingatkan suaminya untuk minum obat. Hingga akhirnya mereka memasuki sebuah kampung yang ada di pesisir pantai, langit juga sudah semakin gelap.
"Yang mana rumahnya, Wil?"
"Pokoknya kamu lurus aja, nanti di pertigaan belok kanan, kalau nggak salah dulu warna catnya biru muda!"
"Kalau empat tahun, emang warna catnya masih sama?"
"Mungkin saja!"
Issstttttt
Tisya berdesit karena suaminya memberi petunjuk yang tidak pasti. Tapi ia sedikit memelankan laju mobilnya,
"Sebenarnya aku sudah sangat lapar?"
Mendengar ucapan sang istri, Wilson hanya tercengang di buatnya.
"Serius? Kita makan baru dua jam yang lalu loh!"
"Aku kan nyetir Wil, butuh tenaga ekstra untuk ini!"
"Baiklah_, baiklah, nanti ibu pasti membuatkan makanan yang enak untuk kita."
"Aku suka itu!" Tisya tampak begitu bersemangat, ia sudah membayangkan hidangan makanan rumahan ala pesisir, pedas manis yang menggoda selera. Hingga ia teringat sesuatu,
__ADS_1
"Eh tunggu, tunggu!"
"Apa?"
"Memang kamu sudah bilang sama bapak sama ibu kalau kita pulang?"
"Iya!"
"Kok nggak kasih tahu aku sih?"
"Kan mereka belum tahu kalau kita sudah menikah!"
Hahhhh
Tisya teringat kembali dengan rencana orang tuan suaminya yang akan menikahkan dengan orang lain. Itu artinya ia tidak bisa memperkenalkan diri sebagai istri suaminya sampai batas waktu tertentu.
"Gimana kalau mereka syok saat tahu kita sudah menikah?"
Wilson menatap Tisya dengan tatapan yang entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, yang pasti sekarang pikirannya sedang terbelah menjadi dua. Di sisi lain ada kedua orang tuanya dan juga keluarga gadis itu, perasan gadis itu dan di satu sisi ada istrinya yang sangat ia cintai.
"Aku akan mengatakan kalau kamu istriku!"
"Saat ini?"
"Iya!"
"Jangan deh, besok pagi atau setidaknya sampai keadaannya sudah tenang!"
"Kan ada kamu, aku percaya kamu nggak akan buat aku terluka!"
Wilson mengusap kepala istrinya dengan begitu lembut,
"Berhenti-henti!" ucapan Wilson benar-benar mengagetkan Tisya hingga mambuatnya mengerem dengan cepat.
Ciiitttttttttttt
Suara rem itu begitu nyaring walaupun jalannya tidak sehalus di kota.
"Kenapa sih Wil?"
"Sudah sampai!"
"Astaga, kau mengagetkanku saja, aku kan jadi menginjak pedal rem, untuk jalanan sepi!" Tisya juga memperhatikan sekeliling, sudah terlihat sepi walaupun baru setengah jam yang lalu ia melihat matahari tenggelam.
"Sepi sekali!"
"Ya memang begini suasana di kampung!"
__ADS_1
Tisya masih asik mengamati, "Yang mana rumah kamu?"
Pertanyaan Tisya berhasil membuat Wilson menoleh ke beberapa rumah yang ada di sisi kanannya, dan ia bis melihat rumah dengan cat yang masih sana, ia tersenyum.
"Masih sama kan, apa aku bilang!" Wilson merasa bangga dengan istingnya yang ternyata masih tajam.
"Itu karena mungkin mereka suka warna biru!"
"Bukan mereka, tapi aku!"
Mendengar perkataan suaminya, Tisya pun menoleh. Sebelumnya ia bahkan tidak tahu apa warna kesukaan suaminya,
"Jadi kamu suka warna biru?"
Wilson tersenyum, "Hmm!"
Tisya mengangukkan kepalanya dengan mantap beberapa kali, ia merasa bangga karena sekarang tahu apa warna kesukaan suaminya, mungkin mulai hari ini dia akan suka dengan warna biru juga dan mengganti beberapa benda dengan warna biru.
Hingga seseorang terlihat keluar dari rumah berwarna biru yang mereka bicarakan itu, seorang pria yang berumur sekitar enam puluhan tapi masih terlihat sehat dan kekar dengan rambut sedikit memutih yang terlihat jelas karena pantulan lampu yang tepat di atas kepalanya. Ia sepertinya juga melihat ke arah mobil Meraka.
"Itu bapak!"
Tisya mengamati wajah suaminya bergantian dengan pria yang masih berdiri di depan rumah itu, walaupun tidak terlalu jelas tapi Tisya masih bisa melihat kemiripan di antara mereka berdua.
"Mirip ya?"
"Memang dia bapakku! Ayo turun!"
"Bentar aku bantu turun!" Tisya pun segera melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.
Melihat yang keluar dari dalam mobil itu seoranga wanita, pria tua itu terlihat kecewa, tapi sejurus kemudia dia tersenyum saat pria yang sedang di bantu keluar itu adalah putranya. Pria tua itu pun segera berteriak memanggil orang yang di dalam.
"Buk, buk, itu putra kita pulang!" pria itu segera berlari menghampiri Tisya dan Wilson.
"Nak, kamu kenapa? Ayo masuk-masuk ....!" ajak bapak itu menarik tubuh Wilson menggantikan peran Tisya.
Tisya pun hanya bisa pasrah dan mengambil tas mereka dari dalam mobil dan berjalan menggikuti mereka. Dari arah dalam rumah, terlihat ibu-ibu yang juga keluar menggempur mereka.
"Wilson kenapa pak?" tanya ibu itu, sepertinya itu ibu Wilson.
"Suruh masuk dulu anaknya!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰