
Tisya yang berada di ruangan sebelah sudah merasa deg degan karena memang berkas itu hilang karena ulahnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus kabur ya dari sini? Iya deh kayaknya!"
Tisya sengaja tidak ikut bergabung dengan mereka. Karena memang bukan urusannya.
"Yang sabar pak, sudah ibu dan Nara cari kemana-mana nggak ada, mungkin bapak lupa naruhnya!" terdengar suara Bu lurah yang sedang menenangkan suaminya.
"Bapak itu nggak mungkin lupa, berkas itu harusnya nanti sore sudah bapak serahkan sama pak camat, itu berkas penting! Bapak mungkin sembarang menyimpannya!"
"Biar Nara bantu buat deh pak!"
"Mang kamu tahu apa? Siapa yang masuk ruangan bapak sebelumnya?" pak lurah menatap istri dan putrinya bergantian.
"Pak, kami mana berani masuk ke ruangan bapak!"
"Kalau bukan kalian siapa lag_!" ucapan pak lurah menggantung saat ia menyadari ada orang lain di rumahnya saat ini.
"Di mana Tisya?"
"Tisya di kamar pak, ada apa? Nggak mungkin Tisya berani masuk ke ruangan bapak!"
"Kamu jangan begitu percaya dengan orang asing! Panggil dia!"
Awalnya Nara terlihat menolak tapi sang ibu memberi isyarat pada putrinya untuk memanggil Tisya karena suaminya sudah terlihat begitu marah saat ini.
Nara pun segera keluar dan menuju ke kamarnya, dan dia tidak mendapati Tisya di sana,
"Di mana Tisya?"
__ADS_1
"Nara! Di mana dia?" teriak pak lurah dari ruangannya.
Nara pun segera keluar dengan tangan kosong,
"Tisya tidak ada pak!"
Brakkkkk
Dengan keras pria itu menggebrak meja di depannya hingga membuat Nara dan ibunya begitu terkejut. Pak lurah mengepalkan tangannya dengan begitu sempurna, bahkan sampai otot-otot rahangnya keluar.
"Sudah ku duga, dia tidak sepolos kelihatannya!"
Pak lurah pun segera menyambar kunci motornya,
"Bapak mau ke mana?"
"Tapi pak, untuk apa?"
"Memberi pelajaran pada anak ingusan yang sudah berani ikut campur urusan orang dewasa!"
Pak lurah keluar rumah dalam keadaan marah, Nara terlihat begitu khawatir. Ia takut bapak nya akan melakukan hal-hal yang dapat menyakiti Tisya.
Ia pun segera pergi ke kamarnya dan menghubungi seseorang,
"Kak Wilson, ayo dong angkat telponnya!" Nara semakin cemas saat Wilson tidak mengangkat telponnya.
"Astaga, kak Wilson kemana sih!" ia benar-benar putus asa sekarang, ia menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur.
"Pak Riski, iya! Pak Riski, aku harus menghubunginya!"
__ADS_1
Nara pun menelpon orang yang sebenarnya enggan untuk ia telpon karena bapak ya sangat tidak menyukai kepala sekolah itu.
"Hallo Nara, ada apa?"
Syukurlah ..., Nara bernafas lega sekarang, setidaknya ada orang yang ia bisa mintai tolong.
"Pak, boleh saya minta tolong!?"
"Minta tolong apa Bu Nara?"
"Tolong cari Tisya, dan sembunyikan dia sampai kemarahan bapak saya reda!"
"Ada apa?" tampak suara panik dari kepala sekolah itu.
"Tolong pak, jangan buang waktu! Saya tidak tahu Nara di mana sekarang!"
"Baik!" kepala sekolah itu mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
"Kenapa pak Riski begitu khawatir dengan Tisya, apa dia juga mencintai Tisya?" gumam Nara sambil memandangi ponselnya yang sudah tidak tersambung lagi dengan kepala sekolah itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1