
"Aku sudah sembuh Wil, lihat aku tidak pucat lagi, suhu tubuhku juga sudah normal!" Tisya menunjukkan wajah dan meletakkan punggung telapak tangan Wilson ke keningnya.
Terlihat Wilson menghela nafas, ia begitu tidak tenang membiarkan Tisya di rumah Nara, apalagi setelah apa yang ia katakan pada Nara kemarin malam.
"Tapi Tisya, bisa kan kamu tinggal di rumah bapak dan ibuk saja?"
"Nggak bisa Wil, apa kamu lupa apa yang aku katakan tadi pagi?"
Sebenarnya Wilson masih cukup mengingatnya, tapi menurutnya itu terlalu berbahaya bagi seorang Tisya. Selidik menyelidiki adalah tugasnya, kalau dirinya sudah terbiasa melakukan hal itu tapi Tisya, dia cukup ceroboh.
"Wil, apapun hubungan kalian, tapi tinggal satu rumah kalau tidak ada hubungan keluarga itu sangat tidak baik!" walaupun sakit untuk mengatakan hal itu, tapi Nara akhirnya ikut menengahi.
"Tapi Tisya ini adalah is_!" sebelum Wilson menyelesaikan ucapannya, Tisya segera menyahutnya. Ia tidak mau orang-orang mengetahui hubungan mereka sebenarnya, sebelum ia berhasil mengungkapkan ketidak adilan yang terjadi di kampung ini.
"Istimewa, iya kan Wil? Nara bagi Wilson aku cukup istimewa karena menurutnya aku kekanak-kanakan, makanya ia menjagaku seperti menjaga adik perempuannya!"
"Kamu yakin tidak pa pa di sini?" akhirnya Wilson menyerah. Ia tahu sekeras apa istrinya itu, kalau sudah punya pendirian cukup sulit baginya untuk melumpuhkan.
"Iya, kan ada Nara!"
Justru Nara yang membuatku khawatir terhadapmu, kamu nih polos sekali sih ..., Wilson hanya bisa menghela nafas dan pasrah dan berharap istrinya akan tetap baik-baik saja.
"Baiklah, aku akan pergi! Kamu jaga diri ya!" Hampir saja Wilson menarik tubuh Tisya untuk mengecup keningnya, tapi Tisya segera menahannya. Walau bagaimana pun Nara tidak pernah berbuat jahat padanya, ia juga harus menjaga perasaan Nara.
__ADS_1
"Sudah sana pergilah!"
"Baiklah, bye!" Wilson melambaikan tangannya dan dengan berat hati meninggalkan rumah Nara.
Akhirnya Wilson memilih untuk melanjutkan niatnya untuk ke puskesmas, masih siang pasti puskesmas juga masih buka.
****
Puskesmas Desa
Puskesmas tampak sepi, mungkin sudah hampir tutup jadi tidak ada lagi yang datang untuk berobat.
Bangunan kecil dengan nuansa putih dan ada tulisan besar di pintu masuk, dengan gambar selayaknya puskesmas. Dulu saat Wilson masih tinggal di sini, belum ada puskesmas. Terlihat sekali dari bangunannya jika puskesmas ini masih baru beberapa tahun belakangan.
"Selamat siang Bu!" Wilson menyapa bersamaan dengan jari-jarinya yang mengetuk pintu. Beberapa hari tinggal di kampung membuatnya melepas atribut jas dan sepatu pantofelnya yang mengkilat, pria dengan otot besar yang memenuhi tubuh dan lengannya itu tetap terlihat keren dengan kaos polosnya dan celana selutut.
"Silahkan masuk mas!"
"Terimakasih Bu!"
Bu bidan pun mempersilahkan Wilson untuk duduk.
"Ada apa ya mas?"
__ADS_1
"Saya sebenarnya ingin menanyakan tentang apa yang di alami Tisya! Kata anda, dia harus di periksakan ke sini setelah keadaannya lebih baik, tapi maaf hari ini saya tidak bisa membawanya ke sini, kalau boleh tahu sebenarnya apa ada yang serius?"
"Maaf mas_?"
"Wilson!"
"Maaf mas Wilson, tapi saya tidak bisa memberitahukan hal ini pada sembarangan orang! Hanya mbak Tisya dan keluarganya yang boleh tahu!"
"Saya juga berhak tahu Bu, saya ya h mengajak Tisya ke sini! Kalau terjadi sesuatu yang serius pada Tisya, saya yang sangat bersalah!"
"Kalau boleh tahu, apa hubungan anda dengan mbak Tisya?"
"Saya_!"
"Saya tidak akan memberitahu kepada anda jika anda bukan siapa-siapa nya mbak Tisya, kalau anda ingin tahu biarkan mbak Tisya yang ke sini dan biar mbak Tisya sendiri yang memberi tahu anda!"
"Tapi saya suaminya, Bu!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...