Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 29


__ADS_3

Setelah cukup lama menunggu akhirnya Wilson kembali di panggil,


"Ini nggak bisa ya langsung jadi mas, mas bisa kembali lagi besok atau lusa! Lagi pula ini butuh tanda tangan pak lurah, sebelum di bawa ke kantor kecamatan!"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi!"


"Silahkan!"


Wilson beranjak dari duduknya, sebenarnya memang ini berita bagus. Setidaknya besok ia masih ada alasan untuk datang lagi dan mencari tahu apa yang terjadi. Setelah itu dia bisa menanyakan perihal proyek yang sedang ia selidiki pada pihak kecamatan.


Setelah keluar dari ruangan itu, ia masih bisa melihat motor kepala sekolah itu masih terparkir rapi di sama,


"Jadi dia masih di sini?" Wilson mengedarkan pandangannya, karena seingatnya kepala sekolah itu sudah keluar dari tadi, bahkan sebelum dia di panggil lag


"Dia kemana?" Wilson urung menaiki motornya, ia memilih untuk mengelilingi gedung itu, dan benar saja terlihat kepala sekolah itu sedang berbicara dengan seseorang di telpon.


Wilson segera menyembunyikan diri di balik pohon buah besaran yang di tanam di pot besar itu.


Wilson menajamkan telinganya,


"Saya sedang berusaha pak, sepertinya dia juga sudah mulai curiga!"


"....!"


"Saya akan lebih hati-hati lagi!"


"....!"


"Saya akan berusaha untuk tidak mencampurkan perasaan saya salah hal ini pak!"

__ADS_1


"...!"


"Saya mengerti!"


"...!"


"Baik pak!"


Entah apa yang sedang di bicarakan oleh kepala sekolah itu dan dengan siapa, Wilson tidak bisa mendengarnya dengan jelas pembicaraan mereka hingga mereka benar-benar selesai bicara.


"Hmmmmmm!" Wilson sengaja menghadang langkah kepala sekolah itu sebelum dia pergi. Tampak sang kepala sekolah terkejut saat ada orang lain yang mendengarkan percakapannya.


"Mas Wilson, anda di sini?"


"Anda?" Wilson semakin curiga saat kepala sekolah menggunakan kata yang begitu formal dan tidak lazim di gunakan di kampung, tidak mungkin bila bahasa sehari-hari kepala sekolah dengan para guru menggunakan kata 'anda' , biasanya di kampung lebih sopan jika menyebut nama dari pada kata itu.


"Maaf, maksud saya kamu! Saya lama tinggal di kota jadi terbiasa juga menggunakan kata itu!"


"Hmmm, lebih baik kita bahas hal lain saja, sejak kapan mas Wilson di sini?"


"Sejak tadi!" Wilson tampak begitu santai, ia mulai menggunakan triknya sebagai bodyguard yang handal.


"Apa mas Wilson mendengarkan semua percakapan saya tadi?" wajah kepala sekolah itu tampak khawatir.


"Sedikit!"


"Tolong jangan memberitahukan kepada siapapun mengenai apa yang saya bicarakan tadi, ini sebenarnya hanya masalah internal saja!"


"Tidak, asal ada syaratnya!"

__ADS_1


"Syarat?"


"Iya! Tolong jelaskan pada saya kenapa di sini internet tidak bisa masuk sedang di kampung sebelah sudah dengan mudah mengakses internet!"


Kepala sekolah tampak bingung, ia tidak bisa bicara sembarang orang tentang hal itu, tapi melihat bagaimana Wilson dan bagaimana latar belakangnya. Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya kepala sekolah pun memutuskan untuk memberitahukan sedikit tentang apa yang ingin Wilson ketahui.


"Sebaiknya kita tidak bicara di sini!"


"Baiklah!"


Mereka menuju ke sebuah kedai kopi dekat dengan kantor desa. Memilih kedai yang terlihat sepi.


"Jadi?"


"Mas Wilson ternyata tidak sabaran juga ya!"


"Saya hanya tidak terlalu suka membuang waktu saja!"


"Baiklah, tunggu hingga kopinya datang!"


"Hhhhh!" tampak Wilson begitu kesal karena pria di depannya seperti sengaja mengulur waktu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2