Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 6


__ADS_3

Brakkkk


Tisya dengan keras menutup pintunya hingga membuat Wilson terkejut dan memegangi dadanya.


"Serem banget kalau ngambek!"


Alhasil, Wilson harus pasrah dan tidur di sofa yang berada di ruang tv, ia baru tahu jika istrinya marah semenyeramkan itu.


Tisya dia dalam kamar terus menggerutu karena ulah suaminya, ia begitu kesal karena suaminya sama sekali tidak merasa bersalah.


Setelah cukup lama di dalam kamar, ia jadi tertarik untuk mengintip suaminya.


"Awas saja kalau dia pergi lagi, pengen aku sunat dua kali dia!" gerutu Tisya.


Tisya diam-diam membuka kembali pintu kamarnya dan ia mendapati suaminya sudah tertidur pulas di atas sofa tanpa bantal dan selimut.


Perlahan ia mendekati suaminya dan mengibaskan tangannya dia atas wajahnya dan Wilson sama sekali tidak bergerak.


"Dia sudah benar-benar tidur!" gumamnya lirih.


Saat akan kembali ke kamar, ia mengurungkan niatnya. Ada rasa kasihan yang tiba-tiba muncul.


Tisya pun kembali berjongkok dan menatap wajah leleh suaminya setelah seharian bekerja, ia jadi teringat dengan uang yang hari ini sudah ia habiskan untuk membeli camilan.


"Kasihan sekali, dia pasti lelah sekali! Aku bukannya membuatnya senang saat pulang kerja malah membuat masalah!"


"Kalau kasihan di maafin dong suaminya!"


Suara berat itu membuat Tisya benar-benar terkejut hingga ia terlonjak kebelakang dan bokongnya mendarat sempurna di lantai,


"Kamu belum tidur?"


Wilson masih tidak membuka matanya, ia tersenyum tanpa merubah posisinya.


"Jahat banget!" keluh Tisya.


"Abis kamu ngambekan kayak anak kecil!" ucap Wilson kali ini ia sudah membuka matanya dan memiringkan tubuhnya, menyangga kepalanya dengan tangan kirinya.


"Kamu sih jahat, bisa-bisanya bilang wanita itu cantik aku kan_!" Tisya tiba-tiba menghentikan ucapannya sendiri.


"Cemburu?" goda Wilson.


"Enggak, bukan gitu!"


"Kalau cemburu nggak usah gengsi, aku seneng kok! Suami mana coba yang di cemburui istrinya tidak seneng!"


Mendengar godaan suaminya membuat Tisya gemas dan dia pun mencubit perut suaminya.


"Aughhhh!" keluh Wilson sambil menahan sakit, sepertinya istrinya itu lupa jika luka di perutnya belum benar-benar sembuh.


Terdapat bercak darah di kaos putihnya membuat Tisya panik di buatnya.

__ADS_1


"Wil, itu darah ....!" Tisya menangis tersedu-sedu melihat darah di kaos Wilson.


Wilson pun dengan cepat menyalakan kembali lampu utama dan melihat lukanya di perut.


"Hey hey ...., tidak pa pa! Ini hanya sobek sedikit jahitannya, tidak pa pa!"


Hiks hiks hiks


Bukannya tenang, Tisya malah semakin kejer nangisnya.


"Maafkan aku!"


Wilson segera mengusap dagu Tisya dan menenangkannya,


"Ini tidak pa pa sayang, tenanglah! Lihat aku!"


Tisya pun membuka tangannya yang menutupi wajahnya, ia begitu merasa bersalah.


"Itu darahnya keluar, Wil!"


"Tidak pa pa, aku bisa mengobatinya! Sungguh!"


"Aku telpon kakak ya!"


"Nggak perlu, ambilkan saja kain kasa dan obatku!"


Dan Tisya pun segera berdiri dari duduknya, walaupun sebenarnya sangat sakit tapi Wilson tidak ingin membuat istrinya itu semakin panik.


"Aughhhh, sakit!" keluhnya pelan agar Tisya tidak sampai mendengarnya sambil membuka penutup perbannya.


Hingga akhirnya Tisya kembali dengan kotak obatnya,


"Aku harus apa?"


"Kamu doakan saja buat aku ya!"


"Kamu yakin nggak butuh bantuan, itu darahnya banyak yang keluar?"


"Tidak pa pa!"


Mungkin besok sebelum pulang kampung aku harus melakukan pemeriksaan ulang ...., batin Wilson sambil kembali menutup lukanya dengan perban yang baru.


"Sudah selesai!" ucap Wilson dengan gaya tidak pa pa.


"Kamu yakin tidak pa pa?"


"Tidak sayang! Sekarang aku boleh ke kamar kan?" tanya Wilson dan Tisya pun menganggukkan kepalanya.


Tisya pun membantu Wilson berjalan ke kamar.


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


Kini mereka sudah duduk di atas tempat tidur,


"Tidak pa pa ya aku kasih pembatas guling!" ucap Wilson, ia hanya jaga-jaga saja biar lukanya tidak bertambah parah. Memang berdasarkan himbauan dokter, Wilson tidak boleh beraktifitas berat dulu dan semenjak pulang dari rumah sakit ia sudah melakukan aktifitas berat beberapa kali, mungkin itu salah satu pemicu sobekannya kembali pada jahitan di perutnya, apalagi beberapa kali ia mengangkat tubuh Tisya.


Wilson segera menutup tubuhnya dengan selimut agar Tisya tidak bisa melihat darah yang terus merembes dari perutnya.


"Kamu yakin nggak pa pa?" tanya Tisya yang melihat wajah pucat suaminya.


"Tidak pa pa, kamu tidur ya, besok kan kita harus berkemas untuk berangkat ke kampung!"


"Tapi kamu?"


"Tidak pa pa, semua akan baik-baik saja, percayalah!"


Tisya pun menuruti perkataan suaminya, ia pun segera tidur dan menghadap suaminya.


"Jangan menatapku terus seperti itu, aku tidak akan bisa tidur!" ucap Wilson karena Tisya terus menatapnya.


"Bagaimana aku bisa tidur Wil, aku harus bagaimana!"


"Pejamkan matamu!"


"Boleh aku tetap menggenggam tangan kamu?" tanya Tisya, kejadian beberapa hari lalu sudah cukup membuatnya takut untuk kehilangan suaminya. Darah yang begitu banyak keluar dari tubuh suaminya waktu itu memberi trauma tersendiri dalam hidupnya.


Wilson pun mengeluarkan tangan kirinya, tangan kanannya masih harus melakukan sesuatu saat ini.


Sepanjang malam Tisya terus menggenggam tangan Wilson.


Setelah memastikan jika istrinya benar-benar tidur, Wilson pun meraih ponselnya yang ada di samping tempat tidurnya, ia mencari kontak seseorang dan mengirimkan pesan padanya.


// Dokter Richard, tolong besok pagi-pagi sekali datang ke rumah saya, bawa peralatan bedah sekalian, mungkin aku tidak bisa ke rumah sakit sendiri besok//


Ia mengirimkan pesan itu pada salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit FrAd Medika. Tapi sepertinya masih ada yang kurang, ia pun kembali mengetikkan sebuah pesan.


//Dokter, tolong jangan mengatakan apapun pada dokter Frans, saya baik-baik saja//


Setelah menyelesaikan pesannya, Wilson pun kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, ia menyibak kembali selimutnya dan darah masih terus merembes.


Ia menutup kembali selimutnya dan tidur, tangan kirinya di biarkan untuk tetap di genggam istrinya.


Bersambung


... "Terkadang, hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk seseorang yang kamu cintai adalah melepaskannya. Bebaskan ia doakan kebahagiaan untuknya dan tapi jika bahagianya bersamamu maka pertahankan dia seolah-olah dia akan pergi darimu."...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2