
Setelah puas bertegur sapa dengan sang adik, Wilson juga tidak sabar untuk menghampiri kembali sang istri.
Terlihat Tisya sedang duduk berselonjor di tempat tidur sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Ternyata Tisya menyadari kedatangan Wilson, Wilson masih berdiri di depan pintu, mengamati pemandangan indah itu.
"Sini Wil, aku benar-benar nggak sabar pengen segera ngerasain kalau di bergerak!"
"Aku juga!" Wilson pun segera berjalan menghampiri Tisya dan duduk di sampingnya. Ia ikut mengusap perut Tisya yang masih rata itu.
"Aku pasti akan jadi orang yang paling beruntung nantinya!" Wilson mengecup kening sang istri, "Kalau sekarang aku minta, kira-kira boleh nggak ya?" Wilson menampakkan wajah berharapnya.
"Memang tidak pa pa ya Wil kalau terlalu sering?" Tisya malah menunjukkan wajah polosnya.
"Apa tuan dokter tidak memberitahumu apa saja yang harus di lakukan dan tidak boleh di lakukan?" Tisya hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa dia kalau buat orang lain bisa menasehati kalau adiknya sendiri tidak bisa, benar-benar!!" Wilson menggerutu tidak jelas, ia ingin segera berbuka puasa tapi juga tidak mau membahayakan bayi yang ada dalam kandungan istrinya.
"Kalau cuma ciuman boleh kali ya?" tanya Wilson lagi terhadap Tisya akan mengiyakan.
Tapi Tisya kembali menggelengkan kepalanya, "Atau aku tanya kakak aja ya?"
"Gimana caranya?"
"Aku telpon dong!"
"Memang ponsel kamu sudah ada sinyal?"
Tisya pun segera memeriksa ponselnya dan ternyata tidak ada, "Tadi katanya sudah mendirikan tower, kok sinyalnya belum ada?"
"Kan baru bisa di gunakan satu Minggu lagi!"
"Kalau begitu, aku kirim pesan aja, kan kalau malam-malam kadang sinyalnya muncul!"
"Mau nunggu besok baru di bales?" Wilson benar-benar kesal malam ini.
"Kamu kok jadi sewot sih Wil?"
"Enggak sayang, hanya saja kenapa kita bisa terjebak di sini begitu lama, sampai nggak sabar pengen cepat pulang!"
"Kalau begitu besok saja kita pulang!" Tisya tampak begitu bersemangat.
"Mana bisa seperti itu, aku harus menyelesaikan yang belum selesai, kita akan di sini empat atau lima hari lagi!"
__ADS_1
"Hehhhhh ...., masih lama ya!" tampak Tisya menunjukkan wajah lesunya.
"Maaf ya, aku pasti sangat menyusahkan mu!?"
Tisya kembali menunjukkan senyumnya, dia benar-benar pandai merubah ekspresi nya dalan waktu cepat.
"Tidak pa pa kita lama di sini, asal ...!"
"Asal apa?"
"Ada syaratnya!"
"Apa?"
"Kalau nanti pas kita kembali ke Jakarta, kamu nggak boleh larang larang aku buat ke salon, shopping , hangout, pokoknya semua yang aku suka!"
"Kok gitu!?"
"Iya dong, anggap saja itu reward karena aku sudah membantu kamu buat menangani kasus yang rumit ini!"
"Baiklah, tapi ada syaratnya!"
"Kok pakek syarat sih, Aku nggak suka ya!" Tisya menunjukkan wajah kesalnya karena sang suami tidak pernah membebaskannya melakukan sesuatu sekehendak dirinya sendiri.
"Wilson!????"
"Mau atau tidak sama sekali?"
"Apa syaratnya?"
"Harus sama aku! Nggak boleh pergi sendiri, kalau nggak sama aku misalnya ada yang nemenin yang aku percaya!"
"Baiklah, tapi janji nggak boleh bikin ulah!"
"Itu harusnya aku yang ngomong kayak gitu!" Wilson menyentil hidung Tisya gemas.
Di tempat lain, pengantin baru itu tidak langsung masuk ke dalam kamar pengantin karena mereka masih harus menghadapi bapak yang egois itu.
"Kamu, jangan di kira aku senang menikahkan putriku kepadamu! Kalau saja bukan karena aku malu sama orang-orang, aku tidak akan menerimamu sebagai menantu saya!" pak lurah masih dengan sikap egoisnya.
Nara hampir saja menjawab ucapan bapaknya, tapi Riski segera menggengam tangan Nara agar tidak bicara. Ia tahu orang seperti pak lurah tidak bisa di lawan dengan sikap yang sama-sama keras.
"Iya pak, saya mengerti!"
__ADS_1
"Untuk malam ini dan malam-malam selanjutnya kami tidak boleh tidur satu kamar dengan putri saya!"
Mendengar ucapan bapaknya yang sudah keterlaluan, Nara pun langsung berdiri dan menatap bapaknya tajam.
"Bapak keterlaluan, baiklah selama ini Nara diam karena menghormati bapak, tapi tidak untuk kali ini. Nara ingin memberi dia pilihan saja sama bapak, dua saja. Biarkan mas Riski tidur di kamar Nara bersama Nara atau Nara akan pergi dari sini bersama mas Riski malam ini juga!"
"Kamu keras kepala!"
"Nara melakukan apa yang menurut Nara benar. Sudah cukup sikap sewenang-wenang bapak selama ini!"
"Bapak tetap tidak akan mengijinkan kalian tidur satu kamar titik!"
"Berarti bapak siap kehilangan Nara!"
Melihat putrinya lebih keras dari dirinya, pak lurah semakin murka.
"Kamu berani melangkah keluar dari pintu rumah ini satu langkah saja, bapak akan menganggap tidak memiliki anak sepertimu!"
"Baiklah, kalau itu keputusan bapak. Nara pamit!"
Melihat pertengkaran bapak dan anak itu sang ibu hanya terlihat bingung.
"Pak, jangan seperti itu!"
"Nara pergi Bu!" Nara pun berpamitan pada ibunya.
"Ayo mas!" Nara menarik tangan Riski dan mengajaknya keluar dari rumah yang sudah menjadi tempatnya tumbuh.
"Pak, cegah anak kita pergi pak!" Bu lurah memohon pada suaminya.
Riski tampak bingung harus melakukan apa, tapi sikap Nara cukup bisa di maklumi.
"Jangan membawa apapun dari rumah ini, apapun!" teriak pak lurah lagi membuat tekat Nara semakin bulat, ia semakin mempercepat langkahnya untuk keluar dari rumah itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1