
Sebuah notif pesan masuk ke ponsel pria dengan kaca mata, berperawakan serius itu. Pria tampan dengan selera gadis desa, pria dengan sejuta prestasi tapi memiliki kebiasaan tidak pernah sombong.
"Pak Dokter, saya permisi dulu! Ada pesan masuk!" wajahnya tampak sumringah saat melihat nama wanita yang sudah cukup lama ia lirik tapi ternyata melirik pria lain yang jelas-jelas tidak mungkin untuk di miliki.
"Pergilah, aku juga akan segera kembali, setelah ini antar aku ke rumah Wilson!"
"Lalu mas Wilson?"
"Biarkan malam ini dia di sini bersama Tisya! Lagi pula aku malas kalau malam-malam denger pria nangis gara-gara jauh dari istrinya!"
"Baik dok!"
Riski yang sudah berpamitan segera berlalu menuju ke teras, di teras rumah itu ada kursi yang terbuat dari kayu jati asli dengan warna plitur coklat tua, terlihat eksotis dan mahal.
//Pak, maaf ya Nara ganggu malam-malam, tapi mungkin sampainya pesan Nara baru besok pagi atau lusa, sebenarnya Nara cuma ingin tahu saja bagaimana perasaan pak Riski sama Nara? Apa pak Riski suka sama Nara? kalau iya, bisa tidak Nara buat lebih dekat mengenal bapak, atau setidaknya bebaskan Nara dari perjodohan Nara sama kak Wilson//
Bibir pria itu seketika tersenyum, debaran di dadanya semakin besar saja. Ia tidak menyangka ternyata penantiannya selama ini akhirnya membuahkan hasil.
__ADS_1
"Tidak peduli dia suka sama aku sungguh atau tidak, tapi aku yakin jika dia belum benar-benar mencintaiku sekarang, makan bulan depan, tahun depan bahkan beberapa tahun kemudian aku akan siap menunggunya!" gumam pria itu dengan begitu pasti.
//Kita bertemu besok ya//
Jawaban Riski singkat tapi pasti akan menyisakan sejuta jawaban untuk wanita yang sedang menunggu jawaban darinya.
...***...
Seperti rencana mereka, pagi ini Wilson dan dokter Frans pergi ke kantor desa. Beberapa pekerja yang langsung oleh dokter Frans datangkan dari kota siap untuk eksekusi.
"Tunggu, ini ada apa ini?" pak lurah begitu terkejut saat melihat Wilson datang dengan banyak orang dan juga atasannya,
Lagi-lagi pria bertubuh tambun itu memasang topengnya sebagai pemimpin yang berwibawa di depan para bawahannya.
"Seperti yang saya usulkan kemarin pak, saya ke sini membawa tukang sekalian untuk langsung melakukan pemasangan tower di berbagai titik di desa ini biar semua masyarakat desa bisa menikmati fasilitas internet!"
"Bagaimana bisa? Saya belum memberi persetujuan, dan lagi pula tidak semudah itu memasang! Kami sudah berusaha sejak dulu, bahkan kepala sekolah itu juga sudah berusaha. keras bertahun-tahun tapi selalu tidak mendapat tanggapan dari atas!"
__ADS_1
"Bagaimana caranya mendapat tanggapan kalau pak lurah sendiri yang menyimpan semua surat pengajuan tanpa berniat untuk membawanya ke pihak atas!"
"Jangan bicara sembarangan ya!"
"Saya tidak bicara sembarangan pak, saya punya buktinya!" Wilson pun mengambil setumpuk berkas dari dalam tas rangsel besarnya. Wajah pak lurah tampak semakin pucat di buatnya.
"Ini berkas pengajuan tahun dua ribu lima, ini tahun dua ribu sepuluh, dua ribu sebelas, dua ribu dua belas, dan ini sari tahun selanjtnya, selanjutnya selanjutnya. Dan ini tahun ini, semua masih tersimpan rapi di brangkas pak lurah!"
"KAMU!" pak lurah jadi punya pemikiran kalau yang sudah menyusup ke dalam ruang kerjanya adalah Wilson, hal ini sengaja Wilson lakukan agar Tisya bisa bergerak dengan bebas setelah ini di kampungnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...