Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 42


__ADS_3

"Saya yang akan menikah dengan Nara!" seseorang berhasil mencuri perhatian semua orang yang ada di ruangan itu.


Nara bisa bernafas lega, ia kira pria itu tidak akan datang tapi ternyata dia menepati janjinya.


Melihat kedatangan kelapa sekolah pak lurah semakin murka,


"Siapa yang sudi menikahkan putriku dengan orang tidak jelas sepertimu! Lebih baik putri saya menjadi perawan seumur hidup dari pada menikah denganmu!"


"Bapak!" baru kali ini Nara berani membentak bapaknya, "Bapak jangan bicara sembarangan, Nara mau menikah dengan pak Riski, dia pria yang baik pak, dan yang paling penting dia mencintai Nara!"


"Memang kamu bisa kenyang dengan makan cinta, memang berapa sih gaji kepala sekolah, paling buat makan sendiri saja tidak cukup! Macam-macam pakek nglamar anak orang!" pak lurah benar-benar memandang rendah pada kelapa sekolah yang sedang berusaha meminang putrinya.


Tapi pak Riski masih tetap bersikap tenang, bahkan wajahnya tidak menampakkan raut kecewa atau marah, senyum tipisnya tidak pernah lepas dari bibirnya,


"Saya memang bukan orang kaya atau seorang pengusaha seperti yang bapak inginkan, tapi insyaallah dengan kemampuan saya, saya akan berusaha untuk membahagiakan putri bapak!"


Dokter Frans tampak tersenyum, dalam hati ia memuji sahabatnya. Bukti kepekaan Rendi, ia bisa memilih orang-orang yang benar-benar tepat. Riski adalah kepala sekolah yang di rekomendasikan oleh Rendi, Riski salah satu anak buahnya yang sengaja di perintah untuk masuk ke kampung tempat tinggal Wilson karena rasa curiga yang di kemukakan oleh dokter Frans beberapa tahun lalu.

__ADS_1


Dan ternyata Riski mempunyai kebijaksanaan yang tepat untuk menjadi seorang kepala sekolah.


"Memang beras bisa di beli dengan cinta!" pak lurah masih terus merendahkan kepala sekolah itu hingga Tisya yang sedari tadi sudah geram ingin bicara akhirnya tidak mampu menahannya lagi.


"Pak lurah nih buta apa apa sih? Pak lurah benar-benar nggak bisa ya liat mutiara di depan mata! kalau pak lurah pengen tahu, bahkan pak Riski ini bisa kok beli semua aset yang pak lurah miliki!" Wilson segera menggenggam kembali tangan istrinya.


"Diam dulu!"


"Abis, baru segitu aja sombongnya minta ampun, makanya jangan kayak katak dalam tempurung!" ternyata permintaan suaminya kali ini tidak mempan lagi.


Pak lurah semakin kesal dengan perkataan Tisya sekaligus penasaran perihal kebenaran yang di katakan oleh Tisya.


"Enak aja bilang saya cuma sopir, lihat baik-baik!" Tisya segera mendekati kakaknya dan mengandeng tangan sang kakak, "Sekarang perhatian baik-baik wajah kami berdua, menurut kalian apa kami terlihat mirip?" Tisya memberi jeda pada ucapannya, "Iya kan kami mirip, ya jelas kami mirip! Kami saudara kandung, satu bapak satu ibu!" Tisya memberi jawaban pada pertanyaan yang ia lontarkan sendiri, dan benar saja semua yang ada di sana memperhatikan mereka berdua, sebelumnya belum ada yang percaya saat dokter Frans mengatakan kalau Tisya saudaranya. Tapi saat melihat kemiripan wajah mereka, tidak ada yang bisa menolaknya lagi.


"Dan kalian tahu siapa kakak Tisya ini?" Tisya menunjuk kakaknya, "Dia adalah pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta, bahkan setiap dokter di Jakarta pasti mengenal siapa kak Frans ini!"


"Dan lagi!" Tisya ternyata masih belum selesai bicara, "Dia_!" Tisya menunjuk pada kepala sekolah.

__ADS_1


"Pria yang pak lurah pandang rendah, selain sebagai kepala sekolah, dia juga punya toko furniture besar di kota, jika kalian melihat plakat besar di toko furniture dengan tulisan 'Riski Furniture' dialah pemiliknya!"


Ternyata ucapan Tisya berhasil membungkam mulut besar pak lurah. Dia terdiam seribu bahasa mendengarkan kenyataan itu. Ia sepertinya sedang bingung bagaimana memulai untuk bicara menyetujui pernikahan putrinya dengan Riski.


Tapi rasa malu dan gengsinya masih menutupi semuanya, hingga ia punya kata-kata yang tepat untuk menyetujuinya.


"Baiklah, saya setuju kalian menikah! Tapi malam ini juga! Ingat saya setuju karena saya tidak ingin malu besok saat ada tamu!"


Mendengar perkataan pak lurah akhirnya beberapa orang bisa bernafas lega, walaupun dengan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal tapi keputusan pak lurah cukup melegakan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @ tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2