Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 17


__ADS_3

Seharian ini Wilson sengaja menghabiskan waktu berdua saja di pantai bersama dengan Tisya.


Semenjak pulang kampung mereka benar-benar kesulitan mencari waktu berdua saja, hal itu sungguh membuatnya sulit bernafas.


Seandainya saja bapak Nara bukan kepala desa, seandainya saja dulu keluarganya tidak ada perjanjian dengan keluarga Nara, sudah pasti urusannya tidak akan serumit ini. Istrinya pasti akan di terima keluarganya sebagai menantu pertamanya yang akan sangat di sayang keluarga.


Hehhhhh ....


Helaan nafas berat keluar dari bibir Wilson saat mereka sedang duduk di bibir pantai dan menikmati cahaya jingga yang menghiasi langit sore itu.


Tisya menyandarkan kepalanya di bahu ternyamannya,


"Enak ya gini Wil, kapan kita bisa bebas gini lagi? Tidak ada yang perlu di sembunyikan lagi, status kita!"


"Tidak lama lagi, tapi janji nggak usah ganjen-ganjen sama pak guru itu lagi!"


"Kamu juga, nggak usah ganjen-ganjen, sok perhatian sama Nara!"


"Kamu cemburu ya?"


"Kamu juga!"


Hal romantis itu selalu berakhir dengan sebuah perdebatan yang tidak ada ujungnya.


Hingga langit benar-benar gelap mereka pun memutuskan untuk pulang.


"Biar aku aja Wil yang nyetir, luka kamu ntar malah nggak sembuh-sembuh kalau kayak gitu!"


"Yakin nggak pa pa?"


"Iya!"


Akhirnya Tisya pun mengambil alih kemudi, menerjang gelapnya jalanan dengan jalan yang tidak semulus di kota. Di tengah jalan tiba-tiba Tisya merasakan perutnya bergejolak.


"Wil berhenti bentar ya!" ucap Tisya sambil memegangi perutnya.


"Kamu kenapa?"


"Aku pengen muntah!" Dengan cepat Tisya membuka pintu mobil dan sedikit berlari keluar, Wilson yang merasa cemas segera menyusulnya.

__ADS_1


Hoeks hoeks hoeks ...


Tisya memuntahkan semua isi perutnya, Wilson mendekat dan memijat tengkuk Tisya.


"Minumlah dulu!" Wilson menyerahkan botol mineral yang sudah ia buka tutupnya.


Tisya pun segera mengambilnya dan menggunakannya untuk berkumur karena mulutnya terasa begitu pahit,


"Kamu kenapa? Apa kamu masuk angin?" Wilson begitu panik, ia memegangi perut Tisya.


"Kayaknya iya deh Wil, tiba-tiba pusing cium aroma mobil! masak aku mabuk perjalanan sih Wil, kan enggak banget!"


"Kalau gitu aku aja yang nyetir, kamu tidur ya, eh bentar_!" Wilson pun kembali lagi masuk ke dalam mobil, ia mengambil minyak kayu putih di dalam mobil.


"Buka perutmu!" perintah Wilson.


"Apa?"


"Buka perutmu!"


Tisya yang bingung maksud Wilson pun segera membuka kaosnya hingga begitu tinggi dan Wilson yang panik kembali menarik kaosnya agar tidak terlalu tinggi.


"Tadi suruh buka sekarang nggak boleh tinggi-tinggi!" keluh Tisya.


"Aku nggak mau ya ada orang yang lihat tubuh kamu selain aku!"


"Isttttt!" Tisya begitu kesal dan melenggang begitu saja meninggalkan Wilson, ia masuk lagi ke dalam mobil.


Wilson pun segera menyusulnya.


"Kalau sekarang bagaimana?" Tisya kembali membuka bajunya begitu tinggi hingga memperlihatkan buah dadanya.


"Ya tetap aja jangan tinggi-tinggi!"


"Sekarang kenapa lagi, kan orang di luar nggak akan ada yang liat?"


"Aku lagi puasa Tisya, jangan sampai aku gagal nahan dan memakanmu di sini!"


"Astaga, ribet banget sih jadi kamu Wil!"

__ADS_1


"Sudah jangan banyak bicara!" Wilson pun membuka tutup minyak kayu putih dan menuangkannya ke tangannya lalu mengusapnya ke perut Tisya.


"Bagaimana? Sekarang terasa lebih enakan?"


"Lumayan, sedikit hangat!"


Wilson pun melepas jaketnya dan memakaikannya pada Tisya, ia mengambil alih kemudin dan meminta Tisya untuk tidur di bahunya agar lebih nyaman.


Wilson tidak berani menjalankan mobilnya terlalu cepat karena khawatir Tisya sampai terbangun. Hingga satu jam kemudian barulah mereka sampai di rumah Wilson.


Terlihat di rumah Wilson sudah begitu ramai, Wilson sudah bisa menduga kalau itu pasti Nara dan keluarganya.


Perlahan Wilson memindahkan kepalan Tisya ke sandaran kursi, ia bisa mengarahkan kepala Tisya begitu panas.


"Kamu sakit ya?" Wilson juga mendapati tubuh Tisya yang menggigil kedinginan.


Wilson pun segera turun, dan langsung di sambut amarah oleh bapaknya Nara.


"Wilson! Kamu sudah keterlaluan ya sama anak saya! Bisa-bisanya kamu meninggalkan calon istri kamu demi sopir kamu!"


"Maaf pak, bisakah saya bawa Tisya ke dalam dulu, dia sedang sakit sekarang!"


"Maksudnya mau kamu bawa ke rumah kamu?"


"Ini darurat pak, saya mohon jangan mempersulit saya!" Wilson sampai mengatupkan kedua tangannya di depan dada, Nara yang melihat Wilson begitu cemas pun menahan tangan bapaknya agar sedikit mundur.


"Bicara di dalam saja pak!" ucap Nara lirih akhirnya sang bapak menurut.


Wilson pun segera berlari mengitari mobil dan membuka pintu yang berada di samping Tisya, mengangkat tubuh Tisya dan membopongnya, ia berjalan cepat melewati Nara begitu saja.


Melihat apa yang di lakukan Wilson pada Tisya, tentu membuat hati Nara begitu sakit tapi untuk sementara ia harus bisa mengendalikan dirinya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2