Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 12


__ADS_3

Tisya pun mendekatkan bibirnya, Wilson yang tidak sabar segera menarik pinggang sang istri hingga mereka bibir itu mendarat sempurna di sana, ia segera melu*at bibir itu dengan rakus, rasanya akan sangat rindu jika tidak bisa bermesraan seperti ini.


Hingga suara langkah kaki yang mengarah ke mereka membuat Tisya panik hingga mendorong tubuh Wilson.


Gubrak


"Aughhhh!"


"Ada apa itu?" tanya bapak yang ternyata berjalan dari arah luar, "Ya Allah Wil, bisa-bisanya kamu jatuh kenapa?"


"Ini pak, tadi ada cicak yang jatuh di bibir Wilson, makanya Wilson kaget!"


Tisya masih berdiri mematung dan memegangi bibirnya sedangkan pak Arif sudah membantu Wilson untuk bangun.


"Wahhh kalau kejatuhan cicak bisa ketiban sial Wil, segeralah mandi keramas kalau gitu!"


"Tapi ini kan malam pak, perut Wilson juga sakit masak di suruh mandi keramas sih?" protes Wilson.


"Dari pada soal Wil!"


Dari dalam ibu dan Nara juga menghampiri mereka,


"Masyaallah, ada apa ini, kenapa bangkunya berantakan begini?" kursi yang di duduki Wilson tadi masih tergeletak begitu saja tanpa ada niat untuk menbenarnya kembali ke posisinya, Nara pun segera membuatnya berdiri kembali.


"Ini loh Bu, Wilson ketiban cicak bibirnya! Bapak suruh mandi nggak mau!"


"Mandi Wil, itu sama Nara sudah di buatkan air hangat untuk mandi!"


Wahhhh perhatian sekali dia ....


Rasanya begitu kesal saat melihat suaminya di perhatikan oleh wanita lain, ini sekali menarik tangan Wilson dan mengatakan kalau itu tidak perlu karena sudah ada sang istri di sini, tapi rasanya bibir Tisya masih begitu kelu. Ada rasa tidak tega pada kedua orang tua Wilson.


"Iya kak, Nara sudah taruh di kamar mandi, pasti kan capek sudah perjalanan jauh, mana enak tidur kalau belum mandi!"


"Tapi_!" Wilson kembali menoleh pada Tisya, ia jelas tidak bisa menerima perhatian sekecil apapun tanpa persetujuan Tisya. Walaupun berat, akhirnya Tisya pun mengangyukkan kepalanya.


"Baiklah! Aku mandi dulu!"


Wilson segera masuk ke dalam, di rumah itu hanya ada satu kamar mandi di samping dapur.


"Kalau gitu Nara pamit dulu ya pak, Bu! Sudah malam nggak enak sama tetangga!"


Syukurlah, sudah sana pergi, pengganggu saja


Sejenak Tisya lega karena wanita itu berpamitan, tapi kemudian arah tatapan mereka tertuju pada Tisya.


"Oh iya, silahkan pergi!" Tisya tersenyum begitu lebar.


"Kamu juga ikut Nara!" ucap ibu Wilson.


"Loh!" jelas Tisya kaget, "Kenapa harus ikut?"


"Kami nggak mungkin nampung kamu di sini, apa kata orang nanti?"


"Maksudnya Bu? akan ada kamar Wilna kosong tadi?" protes Tisya, membayangkan berada di tempat asing dan jauh dari sang suami sudah membuatnya bergidik ngeri.

__ADS_1


"Mana bisa tinggal di sini, di sini ada anak laki-laki, kalau di rumah Nara, cuma Nara saja, nanti biar bapak yang bicara sama pak RT!"


Hehhhh, aturan macam apa ini ...., Wil cepet keluar dong selamatkan aku dari gadis lembut ini, aku rasanya gatal kalau dekat-dekat sama dia ....


"Sudah, jangan buang waktu, jarak rumah Nara dari sini cukup jauh jadi cepetan kasihan nanti Nara kemalaman di marahi sama orang tuanya!"


"Kami permisi dulu pak, Bu!"


"Iya hati-hati ya!"


Kalau ada maunya aja manis banget jadi orang


Walaupun terus menggerutu akhirnya Tisya hanya bisa pasrah mengikuti langkah gadis di depannya itu dengan menenteng sebuah tas miliknya dan meninggalkan milik Wilson di rumah Wilson.


Nara tiba-tiba berhenti membuat Tisya terkejut di buatnya.


"Kalau berhenti itu bilang-bilang dong, untung nggak Sampek kejedot!" gerutu Tisya yang hampir menabrak Nara, untung saja ia mengerem kakinya dengan tepat.


Nara hanya tersenyum, "Kenapa jalannya di belakang, sini di samping aku!"


"Kamu nggak gigit kan?"


Nara lagi-lagi menggelengkan kepalanya sambil tergelak, "Memang aku drakula penunggu pantai, ayo sini!" Nara menarik tangan Tisya hingga mereka berada berada di tempat yang sejajar.


"Sambil jalan, kalau kayak gini kita bisa sambil ngobrol kan!" ucap gadis dengan rantang kosong di tangannya itu. Tisya sedari tadi memperhatikan lantang kosong yang di bawa Nara, mengingatkannya pada makanan yang telah ia makan.


"Sudah lama ya?" tanya Tisya membuat gadis lembut itu menoleh padanya.


"Apanya?"


Nara mengangkat rantang kosong yang berada di tangannya itu, "Oh ini!" Ia kembali tersenyum, "Aku atau ibu selalu suka membawakan makanan untuk bapak dan ibunya kak Wilson!"


"Kenapa?"


Kali ini bukan senyum, Nara mengerutkan keningnya.


"Kenapa suka membawa makanan ke rumah mereka?"


"Ya karena kami sudah seperti satu keluarga!"


Ahhhh, rasanya sainganku yang ini berat banget, bahkan bapak dan ibunya Wilson terlihat sekali menyukai Nara.


"Kenapa seperti itu?" sepertinya Nara menyadari wajah murung dari Tisya.


"Tidak pa pa, hanya capek saja!"


"Sekarang boleh aku gantian yang tanya?"


"Apa?"


"Sudah lama dekat sama kak Wilson, maksudnya sudah lama jadi sopirnya kak Wilson?"


Baru juga tadi sore, gara-gara kalian nih yang bilang aku sopir, seumur-umur baru di sini aku di bilang sopir ....


Melihat Tisya hanya diam, Nara pun kembali bertanya,

__ADS_1


"Rahasia ya?"


"Sudah satu tahun!" ucap Tisya, dan langsung menyusul Nara yang sudah berjalan lebih dulu.


"Lama juga!"


"Tapi masih lama kamu mengenal dia kan?"


Belum sampai Nara menjawab, mereka ternyata sudah sampai di depan sebuah rumah yang lebih besar dari rumah Wilson, kalau di lihat sepertinya memang rumah Nara yang paling bagus di banding dengan rumah yang lainnya.


"Rumah kami bagus!"


"Kebetulan bapak aku kepala desa!"


Ohhh pantas, tambah banyak nih daftar kesulitanku ....


"Ayo Tis, kenapa diam di situ?"


"Bapak sama ibuk kamu nggak ada ya?"


"Ada, mereka di dalam!"


"Nggak pa pa aku langsung masuk?"


"Nggak pa pa, ayo!" Nara lagi-lagi menarik tangan Tisya, hingga mereka sampai juga di ruang tv. Memang tv itu Tidka begitu besar, tapi 21 ins itu ukuran yang besar untuk rumah di kampung.


"Pak Bu, ini Nara bawa teman!"


Dua orang Yangs senang duduk menikmati acara tv pun segera menoleh ke belakang karena mereka duduk membelakangi Tisya dan Nara.


Wanita yang seumuran dengan ibu Wilson pun berdiri, "Siapa Ra?"


"Sopirnya kak Wilson!"


"Sopir?" bapak Nara ikut berdiri dan melihat penampilan Tisya, "Sopir, perempuan?"


"Iya, dia sudah kerja satu tahun sama kak Wilson, namanya Tisya!"


Mereka pun akhirnya saling berkenalan, sebenarnya ada kamar kosong di rumah itu, tapi Nara memaksa Tisya untuk tidur satu kamar saja dengannya.


"Tis, kamu mandi gih, kamar mandinya ada di belakang!" pinta Nara saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Air hangatnya sudah siap?" tanya Tisya membuat Nara terdiam dan menatapnya.


"Tadi kan Wilson ada air hangat, buat aku ada juga nggak?"


"Maaf Tis, aku kan nggak tahu kalau kamu juga butuh air hangat!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2