Wilson & Tisya

Wilson & Tisya
Bab 46


__ADS_3

Acara pesta yang di impikan pak lurah benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat, alunan musik yang di inginkan, tamu yang datang memberi selamat, semua itu tidak ada berganti dengan sirine mobil polisi yang menghampiri rumahnya.


Walaupun berusaha bersikap tenang, tapi tetap saja wajah tegang muncul di garis-garis kerutan yang ada di wajahnya.


"Ada apa ini pak? Kenapa kalian ke sini? Kalau ada apa-apa kita bisa bicarakan di kantor desa kan?"


Bu lurah tampak berdiri di belakang tubuh tambun pak lurah, ia memegang erat lengan suaminya.


"Bapak ini ada apa? Suami saya tidak pernah berbuat salah loh pak polisi!"


Pak polisi yang sepertinya ketua tim tampak mengamati sekitar, banyak tetangga yang saling berdatangan karena melihat mobil polisi datang ke daerah mereka, sebelum-sebelumnya tidak pernah terjadi hal yang seperti ini,


"Sebaiknya kita bicarakan ini di dalam pak sambil menunggu seseorang!"


"Oh iya, tentu silahkan! Jangan banyak-banyak ya pak, bapak atau bersama satu temannya saja yang masuk, saya nggak mau rumah saya di masuki sembarang orang!" pak lurah masih menunjukkan watak arogannya.


"Baik!"


Mereka pun masuk, bersama dua orang polisi yang masuk sedangkan lainnya masih bersiap di depan jaga-jaga kalau ada yang kabur.


"Silahkan pak!" pak lurah mempersilahkan polisi itu untuk duduk.

__ADS_1


"Terimakasih pak lurah, kedatangan kami ke sini ingin melakukan penangkapan pada pak lurah atas tuduhan penyelewengan dana desa!"


Pak lurah langsung terlihat berkeringat, ia menatap sebentar pada istrinya,


"Loh loh pak polisi jangan macam-macam ya, saya ini orang terhormat loh, saya ini lurah, jangan sembarangan menuduh saya!"


"Saya membawa serta surat penangkapan untuk anda!" polisi itu tampak mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkannya pada pak lurah.


Pak lurah dengan tangan gemetarnya segera membuka surat penangkapan itu, ia membaca perlahan isi surat itu, terlihat tangannya semakin bergetar, keringat membasahi kaos tipis berwarna putih yang tengah ia kenakan sekarang. Bu lurah ikut membacanya dan tidak kuasa menahan tangis,


"Aduh pak, suami saya ini orang jujur, dia itu banyak jasanya di kampung ini. Bisa-bisanya ada yang memfitnah suami saya seperti ini!" Bu lurah menangis iba.


"Ibu!" ia segera memeluk sang ibu.


"Nara, ada yang memfitnah bapak kamu, tolong jelaskan pada pak polisi ini kalau bapak kamu tidak melakukan seperti yang mereka tuduhkan!"


"Tenang Bu, bapak harus membayar apa yang di lakukan!"


Mendengar perkataan putrinya, dengan cepat pak lurah bangkit dan menarik lengan putrinya dengan kasar,


"Ini pasti ulah kamu, dasar anak tidak tahu di untung, kamu hidup enak selama ini memangnya kepala sekolah itu yang memberikannya padamu, bapak yang sudah membesarkan kamu dari kecil, anak durhaka!" ia dengan kasar menghempaskan tubuh putrinya hingga limbung dan hampir saja terjatuh beruntung riski datang tepat waktu dan menopang tubuh istrinya.

__ADS_1


"Pak, ini bukan salah Nara!" ucap pak Riski membuat pak lurah semakin naik pitam dan hampir memukul Riski.


"Hentikan!" ucapan seseorang itu berhasil menghentikan ayunan tangan pak lurah. Semua mata tertuju pada pria yang baru saja datang.


"Pak Wilson, kamu sudah menunggu kedatangan anda!" tampak kepala polisi itu begitu hormat menyambut kedatangan Wilson.


"Maaf sudah membuat pak polisi menunggu!"


"Tidak masalah!" pak polisi pun kembali menatap pak lurah, "Baik pak sebaiknya kita segera selesaikan saja urusan kita!"


Pak lurah terpaksa kembali duduk, begitupun dengan Nara dan suaminya, rumah pak lurah cukup besar dengan sofa yang cukup banyak jadi tidak masalah jika banyak yang masuk.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2