
Mereka sekarang sudah duduk di Gasebo tempat pertama kali Tisya menunggu Nara.
"Terimakasih ya mas, sudah di kasih password nya!"
"Sama-sama, mbaknya dari kota ya?"
"Iya!"
Tisya sekarang sudah sibuk dengan ponselnya, ia baru saja menghubungi sang kakak. Sudah begitu banyak panggilan tak terjawab darinya.
Hingga saat Tisya membalas pesan dari sang kakak, akhirnya kakak yang posesif itu segera menelponnya.
"Hallo!"
"Kamu sama Wilson sengaja ya nggak ngajar telpon dari aku, nggak balas pesan juga, maunya apa sih? Nggak tahu apa yang di sini kawatir, keadaan Wilson bagaimana sekarang? Kamu juga bagaimana? Bisa tidur kan di sana? Nggak nakal kan kamu?"
Tisya sampai menjauhkan ponselnya dari daun telinganya.
"Kak, Tisya harus jawab yang mana dulu nih?"
"Terserah, maunya yang mana!"
"Sewot amet, nggak kangen sama Tisya?"
"Kenapa sulit di hubungi?"
"Di sini nggak ada jaringan kak , ini aja aku numpang sama sekolah, jaraknya juga jauh banget, makanya pasang aja pemancar sendiri di sini biar enak jaringannya!"
"Begitu ya?"
"Iya!"
"Tapi kamu benaran nggak pa pa kan? Baik-baik saja kan? Wilson juga kan?"
"Iya kak baik, ya udah Tisya tutup dulu ya, nggak enak pakek gratisan kalau lama-lama!"
"Iya, jaga dirimu!"
Tisya pun segera mematikan sambungan telponnya setelah puas berkirim kabar dengan sang kakak.
Pria bernama Riski itu masih setia menunggu Tisya di sana,
"Mas Riski nggak ngajar? kenapa malah nungguin saya, takut saya kebanyakan pakek sinyal WiFi nya ya?"
Risky menggelengkan kepalanya sambil tersenyum,
"Saya hanya ingin menemani tamu yang datang ke sekolah ini saja, apa lagi mbak Tisya ini datang dari jauh!"
"Memang harus banget ya?" Tisya kembali menatap pria di depannya, tampak sopan.
Kalau gurunya kayak gini semua, bisa bubar nih muribnya ....
"Saya kebetulan nggak ada jam hari ini jadi jangan khawatir murid-murid saya akan kabur!"
Ahhh ...., dia tahu ya yang aku pikirkan?
"Oh, saya kira kalau ada jadwal, jadi pasti muridnya lari semua!"
Mereka pun akhirnya mengobrol santai, membicarakan ini itu. Tampak pria itu juga sangat tertarik saat Tisya membicarakan tentang Nara.
__ADS_1
"Jadi kamu tinggal sama Bu Nara?"
"Iya, saya menginap di sana, sebenarnya nggak mau sih tapi ya gimana lagi di paksa!"
"Siapa yang maksa?"
"Keadaan?!"
Lagi-lagi Risky tersenyum melihat gaya Tisya yang feminim tapi ceplas-ceplos.
Hingga suara mobil kemarin perhatian mereka, mobil itu berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Tisya sudah langsung bisa mengenali mobil siapa yang datang itu. Ia dengan reflek berdiri dari duduknya, memastikan jika yang ia lihat saat ini benar.
Dan benar saja apa yang di duganya, pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu berjalan cepat menuju ke arahnya.
"Kamu ngapain di sini? Siapa dia?" Wilson tampak begitu marah.
"Sabar, Wil! Kenalkan dia mas Riski, dan mas Riski ini Wilson!"
Riski tampak mengulurkan tangannya tapi tidak di sambut oleh Wilson, pria itu sepertinya sudah termakan cemburu.
"Sudah aku bilang aku akan datang, kenapa keluyuran ke sini?"
"Kapan kamu bilangnya?"
"Tadi pas di rumah Nara!"
Teng teng teng
Suara bel berbunyi, membuat perdebatan mereka terhenti. Nara yang baru saja keluar dari kelasnya melihat ada Wilson dan Riski juga pun segera mendekat.
"Kak Wilson!"
"Lihatin terus, nggak usah ingat yang di samping!" gerutu Tisya lirih yang masih bisa.di dengar oleh Wilson dan Riski.
Wilson pun segera beralih menatap sang istri, walaupun kesal tapi tetap saja ia tidak mau membuat istrinya kesal dengan terus memperhatikan Tisya.
"Pak Riski juga di sini?" tanya Nara yang sudah sampai di dekat mereka.
"Iya tadi nemenin mbak Tisya, dia kan tamu dari luar jadi harus di hormati!" ucap Riski bijaksana.
"Nggak perlu di temanin, cukup saya saja yang menemaninya!" Wilson tampak masih kesal.
"Kak Wilson!" Nara terlihat tidak sudah dengan apa yang di katakan oleh Wilson.
"Kamu juga Nara! Bukankah aku tadi sudah pesan untuk di sampaikan kepada Tisya! Kenapa Tisya malah kamu ajak ke sini?" baru kali ini Nara melihat Wilson semarah itu padanya.
"Tapi tadi Tisya bilang butuh cari sinyal, makanya aku ajak ke sini, iya kan Tisya?"
Tisya sebenarnya ingin mengadu tapi melihat wajah sedih Nara, membuatnya tidak tega. Ia pun memilih menganggukkan kepalanya mengiyakan apa yang di ucapkan oleh Nara walaupun tidak sepenuhnya benar.
"Ya udah ikut aku!" Wilson segera menarik tangan Tisya dan membawanya pergi dari mereka.
"Kak, ini bagaimana? Aku sama siapa?" Nara berteriak pada Wilson tapi pria itu malah hanya melambaikan tangannya tanpa mau menoleh ke belakang.
"Pria itu apanya mbak Tisya?" tanya Riski yang juga penasaran dengan pria yang marah-marah itu.
"Tisya sopirnya kak Wilson!" ucap Nara dengan wajah sedihnya.
"Maksudnya Wilson, tunangan Bu Nara?"
__ADS_1
"Iya!"
Dari sini Riski sudah bisa menangkap kejanggalan hubungan mereka. Nara meninggalkan Riski begitu saja.
...***...
Wilson menghentikan mobilnya di sebuah pantai. Rumah mereka yang dekat dengan pantai membuat jarak tempuh ke pantai tidak begitu lama.
Wilson masih terus diam, Tisya pun Tidka berani bertanya karena terlihat sekali jika suaminya itu sedang marah saat ini.
"Senang ya dekat-dekat sama cowok lain? Dia pria berseragam, jauh lebih baik dari aku yang hanya seorang sopir!"
"Kamu apaan sih Wil! Nggak gitu! Kami cuma ngobrol biasa!"
"Dia aja kamu panggil mas, kenapa kalau sama aku hanya panggil nama,? Nggak ada sopan-sopannya sama suami!"
"Kamu kok jadi mempermasalahkan itu sih, awalnya kan semuanya baik-baik saja, kenapa sekarang jadi masalah?"
Wilson segera menoleh pada Tisya, mendekatkan wajahnya pada wanita itu,
"Karena aku nggak suka kamu manis-manis sama pria bernama Riski itu!"
Hehhhh
Tisya menghela nafas, ia tahu sekarang arah pembicaraan suaminya,
"Jadi ceritanya cemburu?" ia hampir menjauh dari suaminya, tapi dengan sepat suaminya itu menarik pinggangnya membuat tubuh mereka begitu dekat sekarang.
"Wil mau apa?"
"Panggil aku mas juga!"
"Aneh Wil!"
"Baiklah!"
Tiba-tiba bibir Wilson sudah mendarat di bibir Tisya, menggigitnya hingga bibir itu terbuka, mengabsen setiap inci mulut Tisya. Menciumnya begitu rakus hingga Tisya harus beberapa kali mengambil nafas.
"Wil, nanti kalau ada orang gimana?"
"Biarkan saja, kita kan suami istri!" Wilson menindih tubuh Tisya membuka paksa baju yang di kenakan Tisya dan mengabsen setiap inci kulit Tisya.
"Wil, nanti luka kamu kebuka lagi, kita nggak akan selesai-selesai urusannya!"
Mendengar ucapan Tisya, ia jadi teringat dengan lukanya. Semakin lama lukanya sembuh makan akan semakin lama ia terjebak dalam urusan yang rumit ini. Ia harus segera mengungkap semuanya saat lukanya sudah sembuh.
spesial visual Tisya
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1