
Ha ha ha ....
Seketika dokter Frans tidak sanggup untuk menahan tawanya.
"Begini banget ya pesona adik gue ....!"
Tisya yang tidak terlalu faham hanya menatap dokter Frans dan suaminya bergantian,
"Kalian apaan sih?"
Wilson dan dokter Frans menoleh bersamaan,
"Lupa kalau ada anak kecil!" ucap dokter Frans lalu memeriksa ke atasan Wilson.
"Mana kak anak kecilnya?" tanya Tisya yang masih penasaran.
"Sudah_, nggak usah di pikirin!" ucap Wilson dengan suara lembutnya sambil mengusap puncak kepala Tisya.
"Stop, jangan bermesraan di depan saya!" ucap dokter Frans sambil menepis tangan Wilson, "Nggak tau apa ada yang lagi puasa!" gumamnya lagi. Istri dokter Frans baru saja melahirkan dan memakannya untuk puasa selama masa nifas.
"Maaf tuan, tidak sengaja!" Wilson merasa bersalah dengan hal itu. Ia tidak tahu jika akan seberat itu ternyata puasa.
"Jangan panggil tuan, tuan terus! Kesannya aku ini kakak ipar yang nggak baik!" ucap dokter Frans begitu keberatan dengan panggilan yang memang sudah dari dulu Wilson sematkan.
Setelah percakapan yang cukup panjang, akhirnya dokter Frans pun meninggalkan mereka. Kini di kamar itu tinggal Tisya dan Wilson.
Wilson menatap penampilan Tisya saat ini, jelas kalau saat itu jas yang menutupi tubuhnya di buka akan kelihatan baju tidur transparan warna pink.
"Itu jas siapa?" Wilson hafal semua baju milik Tisya, dan jas itu tidak sesuai dengan gaya berpakaian Tisya. Itu bukan milik Tisya, ia bisa yakin karena Wilson yang mencuci beberapa baju tisya yang Tisya tidak bisa mencucinya.
"Ini?" Tisya menunjukkan jas berwarna hitam panjang hingga di atas lutut itu, "Ini milik kak Maira!"
Wilson mengerutkan keningnya, "Maira ke rumah kita?"
Tisya melambaikan tangannya dengan cepat, "Enggak, kak Maira ke sini?"
"Siapa yang kasih tahu?"
"Katanya nggak sengaja tadi lewat depan rumah kita, trus lihat ada ambulan!"
"Ngapain dia di depan rumah kita?"
"Mana aku tahu, mungkin lagi berkunjung ke rumah barunya!"
Sepertinya ada yang aneh, Wilson terdiam. Ia memang tidak ada masalah dengan Maira tapi tingkah Maira membuatnya mencurigai sesuatu.
Mereka pun kembali terdiam, seperti sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, hingga kemudian Tisya kembali membuka suara.
"Wil, maaf ya!" Tisya benar-benar merasa bersalah, pasti gara-gara tadi malam ia mencubit perut suaminya hingga suaminya hampir kehabisan darah.
__ADS_1
Wilson pun berusaha untuk bangun,
"Jangan bangun!"
"Tidak pa pa, bantu aku!" Tisya pun akhirnya memilih untuk membantu suaminya dengan sedikit menopang punggung suaminya dengan bantal.
"Bagaimana sekarang?" Tisya benar-benar tidak tahu cara untuk merawat orang sakit, ia terlalu terbiasa hidup di layani dan tidak pernah melayani bahkan saat mama atau papanya yang sakit, ia hanya akan memanggil dokter keluarga dan mengirim perawat untuk mereka.
Dan sekarang dunia sudah berbalik, dia harus terbiasa melakukan semuanya sendiri.
"Ini sudah nyaman! Kemarilah!" Wilson melambaikan tangannya hingga Tisya sedikit mendekat hingga Wilson bisa menggapai kepalanya.
"Dengarkan aku, semua yang terjadi sama aku itu bukan salah kamu, jadi jangan mempermasalahkan semuanya!"
"Tapi aku_!" Wilson segera menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Tisya.
"Kamu adalah hidupku, jadi jika aku mati pun kamu harus tetap hidup biar hatiku ikut hidup bersamamu!"
Plek
Sebuah pukulan mendarat di bahu Wilson,
"Aughhhh, kenapa aku di pukul sih?"
"Siapa suruh bicara seperti, memang tidak serem apa! Aku sudah bayangin tadi bakal jadi janda dan sekarang kamu ngomongnya gitu lagi!"
"Ya iya lah, mana ada yang baru nikah beberapa bulan udah jadi janda aja, kesannya aku ini nggak baik banget pastinya!"
Wilson hanya bisa menelan Saliva ha tak percaya, bisa-bisanya sang istri hanya memikirkan soal status.
Sabar Wilson, kamu tahu kan istri kamu ..... Wilson berusaha menenangkan dirinya sendiri. Lalu ia teringat sesuatu.
"Sekarang jam berapa?"
Tisya pun melihat ke arah ponselnya yang untuknya kebawa olehnya,
"Jam sembilan!"
"Kita harus segera berangkat!"
Tisya mengerutkan keningnya, "Kemana?"
"Pulang kampung!"
"Kamu yakin, jangan gila deh. Tubuh kamu aja masih begitu lemah!"
"Kamu bisa nyetir kan?" Tisya hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu tidak keberatan kan nyetir mobil sampai kampung halaman aku?"
__ADS_1
"Kamu serius?" Tisya benar-benar tidak tahu dengan jalan pikiran suaminya itu. Bisa-bisanya saat duduk saja tidak tegak dan nekat untuk pulang kampung.
"Iya Tisya, sebelum terlambat!"
"Terlambat kenapa?" Tisya masih tidak setuju dengan alasan suaminya.
"Sudah ku bilang kan, ini tepat empat tahun saat aku pergi dulu dan sudah waktunya untuk aku pulang dan memberi keputusan. Jika aku tidak pulang hari ini, itu tandanya aku setuju untuk menikah dengan gadis pilihan bapak sama ibuk!"
"Trus kalau kamu pulang?"
"Ada dua jawaban, bisa jadi itu bentuk setuju atau sebaliknya! Tapi kalau aku tidak pulang makan jawabannya mutlak!"
Aku tidak mungkin membiarkan suamiku menikah dengan wanita lain, Tisya berusaha untuk menimang keputusannya dan ternyata rasa cemburunya lebih besar saat ini.
"Baiklah, kita pergi!" Tisya sampai berdiri dari duduknya membuat Wilson terkejut di buatnya.
"Jadi kamu sih yang semangat?"
"Iya dong, aku nggak mungkin biarkan kamu menikah dengan orang lain, aku nggak mau punya madu, meskipun wanita itu pilihan orang tua kamu aku akan buktikan kalau aku bisa jadi menantu ya baik!"
"Okey, aku setuju!"
Setelah meminta ijin dokter Frans, akhirnya Wilson dan Tisya benar-benar di bolehkan pergi dengan berbagai syarat. Terutama mereka tidak boleh buka puasa sampai luka Wilson benar-benar sembuh.
Dokter Frans juga membawakan begitu banyak obat, takutnya Wilson tidak bisa menemukan obat di kampung.
Tisya terlebih dulu pulang untuk mengambil barang-barang mereka yang ternyata sudah di tata oleh Wilson di dalam koper yang berbeda.
Tisya juga sudah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih pantas sekaligus mandi. Hanya satu jam dan Tisya sudah kembali ke rumah sakit untuk menjemput suaminya.
"Kalian yakin nggak butuh pengawal?" terlihat sekali kalau dokter Frans begitu mengkhawatirkan keadaan Wilson yang terluka, jika adik iparnya itu terluka pasti tidak akan ada yang bisa menjaga adik perempuannya.
"Di kampung cukup aman tuan, anda tidak perlu khawatir!"
"Baiklah, tapi kalau ada sesuatu hubungi kami!"
"Pasti!"
Setelah memastikan suaminya duduk di mobil dengan nyaman barulah Tisya berlari mengitari mobil dan masuk melalui pintu samping. Ia melambaikan tangannya pada dokter Frans yang masih menunggu hingga mobil mereka benar-benar pergi.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1