
Sejam berlalu, Leo terbangun dari tidurnya. Lelaki itu mengusap wajahnya, bisa-bisanya dia ketiduran. Pasti karena dirinya kelelahan. Setelah beberapa menit nyawanya terkumpul atensinya beralih pada gelas cangkir yang berisi teh.
Leo meminum teh herbal buatan Kimchi yang sudah dingin itu.
"Apa dia melihatku yang ketiduran?" gumam Leo.
Supaya dirinya segar kembali, Leo kembali ke kamarnya untuk membasuh wajahnya. Tapi saat melihat wajahnya di cermin wastafel, dia mendapati bubuk hitam yang menempel di sekitar bibirnya.
Memang bubuk hitam itu sedikit tapi pikirannya langsung tertuju pada pelayan pribadinya. Kecurigaan Leo semakin bertambah pada Kimchi yang aneh dan misterius.
Keesokan paginya, Leo bangun agak siang karena sengaja supaya bisa melihat Kimchi yang bekerja di pagi hari.
"Ck! Ternyata kak singa belum bangun!" decak Kimchi sambil berlalu ke kamar mandi.
Tapi saat sampai di kamar mandi, Kimchi mencium aroma yang tidak dia sukai. Alhasil, gadis itu muntah-muntah di wastafel.
Leo yang awalnya pura-pura tidur, akhirnya mendudukkan dirinya dan mendatangi Kimchi yang masih muntah-muntah.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" tanya Leo merasa cemas.
Kimchi langsung membasuh mulutnya hati-hati supaya bubuk hitam di wajahnya tidak hilang. Dia menunduk dengan memundurkan badannya.
"Maafkan saya Tuan, tidur anda jadi terganggu!" ucap Kimchi kemudian.
"Tidak apa-apa!" sahut Leo sambil memperhatikan sekitar area bibir Kimchi.
Fiks, Kimchi melakukan penyamaran karena bubuk hitam di area bibir itu sedikit memudar.
"Sebenarnya siapa dia dan apa tujuannya?" Leo membatin dalam hatinya. Dia harus mencari tahu sendiri. Jujur, dia masih bingung siapa yang harus dia percaya selain dirinya sendiri.
"Apa kau sudah menemukan keberadaan, Kimchi?" tanya Leo saat dalam perjalanan.
Francis tidak langsung menjawab tapi dia meraih ponselnya dan memperlihatkan pada Leo sesuatu yang sudah dia manipulasi sebelumnya.
__ADS_1
"Dari catatan di bandara, tidak ada nama Kimchi Nona Cullen yang melakukan perjalan ke Paris!" ucap Francis dengan mimik meyakinkan.
Leo mengambil ponsel Francis dan melihat catatan bandara itu lalu meneliti nama-nama penumpang yang dua minggu ini melakukan perjalanan ke Paris.
"Lupakan saja, mungkin hanya mirip saja! Bukankah dia putri dari keluarga kaya? tidak mungkin dia melakukan hal seperti yang gadis itu lakukan! Kimchi yang kau kenal pasti anggun, lemah lembut seperti Briana. Semacam itu!" ucap Francis yang membandingkan Kimchi dengan salah satu model yang saat ini tengah mendekati Leo.
"Mungkin hanya perasaanku saja!" gumam Leo.
Tempat jamuan itu berada di salah satu restaurant berkelas di Paris dan jamuan itu sudah dirancang oleh Briana. Karena perusahaan ayahnya yang kebetulan menjadi kolega bisnis perusahaan Leo, Briana meminta agar ayahnya bisa mendekatkan dirinya dengan Leo.
Bagi Briana, Leo adalah calon suami yang tepat untuk menunjang karirnya menjadi model papan atas.
"Tuan Beaufort, selamat datang!" sapa Benjamin ayah dari Briana.
Leo menunduk hormat dan duduk tepat di sebelah Briana karena sudah diatur oleh gadis itu.
"Bukankah kalian saling mengenal?" tanya Benjamin basa-basi.
__ADS_1
"Aku rasa kita bertemu di pesta tuan Fernando minggu lalu!" sahut Leo mengingat pertemuan pertamanya dengan Briana.
"Wah, aku sangat tersanjung kau bisa mengingatku!" balas Briana dengan tersenyum lembut bagai bidadari.