
"Kimchi..." panggil Nano dari dapur supaya Kimchi turun dari kamarnya.
Kimchi yang usia kandungannya menginjak kepala empat itu menjadi pemalas. Hobi Kimchi menjadi kaum rebahan.
"Kimchi..." panggil Nano lagi.
Yang dipanggil sebenarnya mendengar tapi karena malas dia ogah-ogahan. Itulah yang dia lakukan jika tidak ada jadwal kelas hamil atau senam hamil.
"Iya Ma..." akhirnya Kimchi bersuara.
Dengan tubuhnya yang semakin berisi, Kimchi turun ke bawah dan mendatangi Nano di dapur.
"Akhirnya turun juga, jangan dibawa males. Ayo sini kita buat camilan!" ajak Nano supaya Kimchi ada kegiatan.
"Kakak-kakak belum pulang ya?" tanya Kimchi mendudukkan diri di pantry dapur.
"Paling sebentar lagi," jawab Nano memberikan Kimchi beberapa butir telur. "Pecah telur-telur ini, lalu nanti dikocok!"
Kimchi meraih telur-telur itu dengan mendesah pelan. "Aku jadi teringat Joni, dia kan punya dua telur!"
Kemudian dia menggeleng kuat, dia bertekad tidak akan mengingat-ngingat apapun mengenai Leo. Lelaki itu benar-benar tidak menghubunginya sama sekali, dia benci Leo.
"Astaga!!" teriak Nano yang melihat Kimchi mengocok telur sampai ke cangkang-cangkangnya.
Tentu saja Kimchi tidak sadar melakukannya karena memikirkan Joni oh Joni.
"Ups!" Kimchi yang sudah sadar menghentikan aksinya.
__ADS_1
Nano geleng kepala bukannya terbantu malah Kimchi membuatnya repot.
"Sorry, Ma. Tidak usah buat camilan, kita tunggu kakak-kakak pulang. Aku memesan martabak manis tadi!" ucap Kimchi tanpa dosa. Setelah berkata seperti itu, Kimchi merasa ada yang bergerak di dalam perutnya. "Ma..."
"Kenapa?" Nano panik dan mencoba memeriksa keadaan putrinya.
"Simba bergerak!" teriak Kimchi histeris.
Senyum Nano merekah mendengarnya, cucunya tumbuh dengan baik. Dia segera menghubungi si kembar supaya cepat pulang agar martabak manis pesanan Kimchi segera datang.
*****
Si kembar pulang dengan membawa pesanan martabak manis pesanan adik mereka. Mereka akan memenuhi semua keinginan Kimchi, pokoknya kesenangan Kimchi paling utama supaya dia tidak memikirkan Leo terus menerus apalagi harga minyak goreng yang mahal.
"Simba..." panggil mereka, seolah-olah keponakan mereka sudah lahir.
Martabak manis rasa coklat keju, aromanya sudah membuat Kimchi menelan ludahnya beberapa kali. Saat kunyahan pertama, Kimchi sampai memejamkan matanya.
Tapi lagi-lagi dia jadi teringat Leo, dia teringat awal pertemuannya saat Leo masih menjadi penjual martabak manis.
"Penjualnya ganteng kan, Kak?" tanya Kimchi mengalihkan pikirannya.
Si kembar tahu apa yang dirasakan adiknya itu, malam ini mereka akan memberi kejutan luar biasa.
"Kalau penjualnya jerawatan bagaimana?"
"Pasti karena kebanyakan makan martabak rasa kacang, 'kan!"
__ADS_1
"Hahaha..."
Gelak tawa mereka terdengar di meja makan itu. Setelah memakan banyak martabak, Kimchi tidak makan malam hari ini.
"Aku ingin tidur lebih awal," pamit Kimchi.
Gadis itu menuju kamarnya dan mencari ponselnya berada. Dia ingin menghubungi Chacha untuk meminta temannya itu datang lebih awal.
"Cha, cepat kemari. Aku malam ini ingin tidur cepat!" ucap Kimchi saat panggilan sudah tersambung.
"Sepertinya aku tidak bisa tidur di rumahmu malam ini, Kimchi. Aku banyak tugas kuliah!" sahut Chacha.
"Bilang saja kau sibuk kencan dengan Aries, 'kan?" tanya Kimchi penuh selidik.
Chacha cengengesan. "Itu salah satunya sih!"
"Baiklah, aku malam ini tidur tanpa guling hidupku!"
Kimchi tidak mau egois, bagaimana pun Chacha memiliki urusan pribadinya sendiri. Dia bergegas mencuci mukanya setelah itu membaringkan diri di atas kasurnya yang empuk.
Setelah membolak-balikkan badannya berulang kali, barulah Kimchi menemukan posisi yang pas dan memejamkan matanya.
Saat tengah malam tiba, di alam bawah sadarnya Kimchi seperti merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Otomatis dia berbalik dan memeluknya langsung, dia pikir itu Chacha.
"Akhirnya kau kemari juga, Cha!" gumam Kimchi setengah sadar. Gadis itu bahkan mengeratkan pelukannya. "Badanmu kenapa jadi besar begini, Cha?"
Kimchi meraba-raba guling hidupnya itu dan tanpa sengaja dia menyentuh sesuatu yang menyembul di bawah sana. "Cha, apa itu yang keras-keras?"
__ADS_1