Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Tidak Tahu Malu !


__ADS_3

Rumah Nenek Aisyah dan Zara


Andrea mendatangi rumah sederhana yang terletak di daerah kampung setelah mendapatkan informasi dari Genta. Andrea memilih untuk memberitahukan kondisi Zara ke neneknya sebelum Pramudya datang. Bagaimana pun, Zara berpamitan ke rumahnya, bukan ke pesta Pramudya.


"Assalamualaikum..." sapa Andrea saat berdiri di pagar halaman rumah Nenek Aisyah.


"Wa'alaikum salam. Cari siapa mbak?" tanya Nenek Aisyah saat membuka pintu.


"Apakah ini rumah ibu Aisyah? Neneknya Zara?" tanya Andrea. "Saya Andrea, yang meminta bantuan Zara pindahan..."


Aisyah tersenyum. "Lho mana Zara nya?"


"Boleh saya masuk Bu?" pinta Andrea yang tidak mau tetangga Zara yang kepo tahu kondisi gadis itu.


"Oh Monggo..." Aisyah membuka gembok pagar rumahnya dan mereka pun masuk ke dalam rumah sederhana itu tapi tampak bersih dan nyaman.


***


"Mau minum apa mbak Andrea?" tawar Aisyah.


"Oh tidak usah repot-repot Bu Aisyah. Ibu duduk saja karena saya harus menceritakan sesuatu soal Zara." Andrea menatap wanita paruh baya itu dengan wajah serius.


Aisyah menatap Andrea dengan perasaan campur aduk. "Apakah ada yang terjadi pada cucu saya?"


Andrea menghela nafas panjang sebelum Bercerita.


***


Aisyah terpekur mendengar cerita dari Andrea. Dirinya tidak menyangka jika Zara yang hanya menemani saudara Andre ke pesta, menjadi korban kekerasan.


"Seharusnya saudara saya yang kemari tapi dia masih menunggui Zara di rumah sakit. Jika Bu Aisyah mau Kesana..."


"Saya mau menengok cucu saya, mbak Andrea. Sebenarnya Zara mengurus rumah anda kan mbak?"


"Iya Bu. Zara memang saya minta tolong untuk membantu saya apalagi semenjak suami saya meninggal karena kecelakaan, saya hidup sendiri. Dan saya lebih nyaman jika bersama dengan sesama perempuan untuk menata rumah... Lagipula Zara juga mencari tambahan untuk biaya cuci darah Bu Aisyah kan..."


"Astaghfirullah... Tapi mengapa saudara Bu Andrea meminta pada Zara untuk menemani nya ke pesta?" tanya Aisyah.


"Kalau itu, biar Pramudya yang menjelaskan pada Bu Aisyah" jawab Andrea diplomatis.


"Saya bersiap-siap dulu ya mbak Andrea."


"Monggo Bu. Saya tunggu."


***

__ADS_1


Ruang Rawat Inap VIP Zara di PRC Hospital


Pramudya tersenyum melihat Zara sudah sadar dari pengaruh biusnya. Gadis itu tampak bingung dan disorientasi tempat karena terbangun di ruangan yang asing.


"Aku dimana mas?" tanya Zara pelan.


"Di rumah sakit. Kamu ingat kejadian semalam?" tanya Pramudya lembut.


"Samar-samar... Duh kepalaku sakit sekali..." desis Zara yang merasakan perih di pelipisnya.


"Kamu kena pukul Tamara ... Sampai pingsan karena tas Tamara ada ornamen yang tajam jadi membuatmu terluka..."


Zara menatap Pramudya dan baru sadar ada noda darah di kemejanya yang bewarna putih. "Mas Pramudya... Nggak ganti baju?"


"Menunggu Genta datang membawa baju ganti..."


Zara tersentak. "Nenek !"


"Perjalanan kemari dengan Andrea. Kamu jangan khawatir, nenekmu tidak tahu soal perjanjian kita. Andrea sudah menceritakan kenapa kamu mengalami kejadian ini tapi tidak soal kontrak kita." Pramudya menggenggam tangan Zara. "Don't worry , aku akan bereskan semuanya."


Zara mengangguk meskipun perasaannya tidak tenang. Suara ketukan pintu membuat genggaman tangan Pramudya terlepas dan tak lama wajah Andrea muncul dari balik pintu.


"Halo. Pram, ini Bu Aisyah, neneknya Zara..." ucap Andrea sambil masuk ke dalam ruang VIP itu.


"Nak Pram, gimana bisa Zara sampai harus seperti ini?" Aisyah menghampiri Zara. "Sakit ya nduk?"


"Sedikit Nek..." senyum Zara berusaha menenangkan.


"Terus orang yang memukul Zara?" Aisyah menatap Pramudya.


"Sudah kami urus" jawab Pramudya tegas.


Aisyah melihat ada noda darah di kemeja Pramudya, hanya bisa menghela nafas panjang. "Yang penting Zara tidak mengalami gegar otak kan?"


"So far tidak Bu..." jawab Pramudya. "Bu Aisyah jangan khawatirkan soal biaya perawatan Zara. Semua saya yang bertanggungjawab sebab saya yang meminta Zara menemani saya acara kantor."


Dengan luwesnya Pramudya bercerita tentang pertemuan nya dengan Zara di rumah Andrea dan meminta untuk menjadi plus one nya di acara kantor. Pramudya sengaja tidak memberitahukan siapa dirinya karena tidak mau Aisyah berpikir macam-macam.


"Saya minta maaf Bu..." ucap Pramudya tulus. "Saya lah yang harus ibu marahi, bukan Zara, sebab saya yang memintanya pergi bersama saya."


"Saya juga bersalah Bu Aisyah karena ikut mendukung Zara pergi dengan Pram" sambung Andrea.


Aisyah menatap ke kedua orang yang menunduk karena merasa bersalah hingga membuat Zara celaka. Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang kesekian kalinya. "Yang penting kalian bertanggung jawab... Sampai Zara sembuh..."


"Tentu saja ibu" jawab Pramudya.

__ADS_1


Tak lama Genta datang membawakan baju ganti Pramudya dan asisten gempal itu pun membelikan sarapan untuk semua orang.


***


Ruang Kerja Bagas Hadiyanto Kantor Pusat Bank Arta Jaya


Hari Senin ini Pramudya dipanggil oleh Oomnya Bagas Hadiyanto ke kantor pusat karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Pria itu masuk ke dalam ruang kerja Bagas setelah sekretaris nya, Emilia, membukakan pintu.


"Pagi Pak Bagas" sapa Pramudya yang meskipun keponakan kandung, tetap di kantor harus memanggil formal.


"Pagi Pram. Masuk..." perintah Bagas.


Pramudya pun masuk dan dirinya terkejut melihat Hamid sudah duduk di depan meja kerja Bagas. Mau apa ayah nya Mak lampir kesini? Pramudya sedikit tenang karena Aisyah menemani Zara bersama dengan Andrea jadi aman.


"Ada apa pak Bagas? Selamat pagi pak Hamid..." salam Pramudya formal ke arah ayah Tamara.


"Pagi Pramudya" balas Hamid.


"Duduk Pram" perintah Bagas yang dituruti Pramudya duduk di sebelah Hamid.


Perasaan Pramudya terasa tidak enak dan sudah pasti berhubungan dengan anak Hamid yang manja dan tidak tahu sopan santun itu.


"Pak Hamid datang untuk meminta maaf atas nama Tamara?" tanya Pramudya sinis.


"On contrary, dia menawarkan negosiasi padamu" jawab Bagas.


"Which is?" Pramudya menatap pria yang seumuran dengan Oomnya tapi beda bentuk. Bagas sangat memperhatikan bentuk tubuhnya dengan berolahraga serta kesehatannya.


"Pak Hamid menawarkan agar tidak terjadi kejadian kemarin, dia hendak melamarkan putrinya menjadi istri kamu..." jawab Bagas yang membuat Pramudya ternganga lebar.


"Whaaaatttt?! Tidak salah pendengaran aku, Oom?" seru Pramudya sampai lupa memanggil Bagas dengan panggilan formal saking terkejutnya. "Setelah apa yang terjadi, bapak masih punya nyali untuk menjodohkan saya dengan putri bapak yang tidak punya adab itu !"


"Pram... Ada alasan di balik semua itu... Saya tidak ingin kerjasama perusahaan saya dengan Bank Arta Jaya menjadi renggang..." ucap Hamid.


"Lalu? Karena obsesi putri anda yang diluar nalar itu, anda membuat saya seperti sapi qurban ? Putri bapak yang salah ! Bukan saya ! Ini Gila ! Saya menolak ! Didik kembali putri bapak ! Bukan saya yang harus dikorbankan !" hardik Pramudya penuh emosi.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2