Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Kemarahan Zara


__ADS_3

Ruang ICU ...


Zara terbangun dari tidurnya dan melihat dirinya berada di ruangan yang sangat asing. Perlahan gadis itu menoleh dan melihat Pramudya terlelap di kursi tunggu dengan jaket menyelimuti tubuhnya. Wajah pria itu tampak lelah dan Zara bisa melihat bulu - bulu halus di dagu dan rahang Pramudya seperti sudah berhari-hari tidak bertemu dengan pisau cukur.


Kamu kok berantakan... Zara terkesiap mengingat neneknya dan dirinya terkejut melihat kondisi tubuhnya yang sakit semua hingga harus ditempeli berbagai macam alat medis. Tak lama seorang suster dan seorang dokter masuk begitu tahu Zara sudah sadar. Gadis itu melirik ke arah Pramudya yang terbangun dan menatap dirinya dengan tatapan sedih.


Ada apa?


***


Sehari Zara sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap, gadis itu dipindahkan ke RS PRC Group oleh Pramudya. Selama itu pertanyaan Zara soal neneknya, tidak pernah dijawab baik oleh Pramudya maupun petugas kesehatan disana.


Dan hari ini, gadis itu terbaring di ruang rawat inapnya di PRC Group dengan perasaan jengkel karena semua orang seolah tutup mulut. Hingga datang Oma Angela dan Pramudya yang sudah rapi tidak berantakan seperti sebelumnya.


Zara menatap ke arah dua orang itu dengan tatapan penasaran. "Tolong Bu Angela, Pak Pram... Kemana nenek?" pertanyaan yang selalu diulang Zara sejak sadar.


Oma Angela memegang tangan Zara lembut. "Sayang, maafkan kami..." Wajah Oma Angela menjawab semua pertanyaan Zara.


Gadis itu langsung memucat dan wajahnya tampak tidak percaya bahwa apa yang dia khawatirkan memang terjadi. "Tolong, jangan katakan... Nenek sudah ..."


"Maaf Zara, Nenek Aisyah sudah meninggal dunia...." ucap Pramudya lirih.


"Sekarang... Nenek..."


"Sudah dimakamkan sehari setelah kejadian... Maafkan kami Zara... Kami tidak bisa melindungi kalian..." Oma Angela mengelus kepala Zara yang sudah menangis.


"Jahat ! Kalian semua jahat ! Kalau saja aku tidak memilih kontrak sama kamu, aku dan nenek akan baik - baik saja ! Martina tidak tertabrak, aku dan nenek tidak tertabrak !! Kamu ! Kamulah yang menyeret aku ke dalam kekacauan ini ! Sekarang... Apakah uangmu bisa mengembalikan nenek ? Apakah uangmu bisa mengembalikan kerugian yang aku alami? Ya Allah ... Apa salah ku padamu pak Pramudya Hadiyanto ! Apa salahku !!" raung Zara.


Pramudya hanya menatap Zara dengan tatapan sedih. "I'm sorry Zara ..."


"Sorry? Sorry? Apakah dengan sorry kamu bisa mengembalikan semuanya? Apakah dengan sorry kamu bisa mengembalikan ovarium aku? Nenek aku? Perse*tan dengan kalian semua ! Dan kamu, seharusnya bersama dengan cewek sarap itu ! Karena apa ! Karena aku tidak akan kehilangan semuanya gara-gara kalian!" bentak Zara.


"Zara ..." Oma Angela mencoba membujuk gadis yang sedang emosi.

__ADS_1


"Keluar..." desis Zara.


"Zara ..."


"KELUAR KATAKU !" bentak Zara membuat kedua orang di dalam ruang rawat inap itu terkejut. "SUSTER !"


Suster yang berjaga pun masuk. "Ada apa nona Zara?"


"Suruh mereka berdua keluar ! Aku tidak mau melihat mereka !" Zara memalingkan wajahnya tidak mau melihat Oma Angela dan Pramudya.


"Maaf Bu Angela, pak Pramudya... Tolong kalian keluar dulu. Saya takut nona Zara akan semajin naik tensinya dan bisa berpengaruh pada pengobatannya..." ucap suster itu pelan.


"Baik Sus... Zara, kami pergi dulu..." pamit Oma Angela sambil menatap sendu gadis itu namun Zara tetap tidak mau menoleh.


Oma Angela pun keluar dari kamar namun Pramudya tetap disana.


"Aku sungguh minta maaf, Zara. Dan aku akan bertanggungjawab atas semuanya..." ucap Pramudya.


Zara menoleh. "Dengan cara apa? Aku hanya ingin melihat wanita b@jing@n itu mendapatkan hukuman yang jauh lebih sadis daripada aku !"


"Jadi dia kabur?" Zara tertawa sinis. "Dasar b@ngs@t ! Dengar pak Pramudya, tangkap dia dan hukum seberat-beratnya."


"Noted."


"Setelah aku sembuh, aku akan pergi dari kehidupan kamu !" ucap Zara tegas.


Pramudya terkejut. "No, Zara. Jangan pergi dariku..."


"Lalu untuk apa aku disini? Kamu itu seperti jinx ( pembawa sial ) ! Aku tidak mau dekat denganmu ... Anggap saja kita sudah tidak saling mengenal lagi ! Seperti awal sebelum aku ribut di kantin rumah sakit dulu !"


"Zara..."


"Pergilah Pak Pramudya. Terima kasih atas semua yang kamu hadirkan dalam hidup aku beberapa bulan terakhir ini... Yang membuat aku kehilangan banyak ! " ucap Zara dingin dan Pramudya bisa mendengar nada sedih serta pahit disana.

__ADS_1


Pramudya menatap Zara dengan wajah sedih. "Asal kamu tahu Zara, aku tidak berharap ada kejadian ini... Dan, sejujurnya aku sudah bilang pada almarhumah nenek Aisyah bahwa aku... Aku mencintaimu, Zara. Aku berencana serius padamu... "


"Aku membencimu! Aku sangat benci padamu !" potong Zara. "Keberadaan kamu, selain jinx juga seperti membawa malaikat maut kemana pun di aku dan orang-orang sekitar aku !"


Pramudya tersentak namun dia bisa memahami kenapa Zara bisa berbicara sepedas itu yang berbeda dengan sehari-hari. Gadis ini dalam kondisi terluka yang paling dalam dan Pramudya tidak memasukkan ke dalam hati mendengar kata-kata kasar Zara.


"Zara..."


"Keluar ! KELUAR !" bentak Zara.


Pramudya pun bergegas keluar sebelum Zara semakin histeris. Pria itu berdiri di depan pintu kamar Zara dan mendengar gadis itu menangis keras dan terdengar memilukan. Tanpa sadar, Pramudya pun menitikan air mata karena merasa mungkin memang benar .. Aku adalah Jinx bagi Zara.


Pramudya menoleh ke arah kaca yang ada di pintu dan melihat tubuh Zara bergetar akibat menangis. Maaf Zara, sampai kapan pun, aku tidak akan melepaskan kamu. Kamu itu adalah tanggung jawab aku dan aku sudah berjanji pada nenek Aisyah untuk melindungi kamu...


Anarghya Giandra yang hendak visite Zara, melihat keponakannya tampak galau, hanya menghela Pramudya dan mengajaknya untuk duduk di kursi yang tersedia.


"Biarkan Zara sendiri dulu, Pram" ucap Anarghya.


"Iya Oom ..." Pramudya mengusap matanya yang basah. "Apakah aku seorang jinx Oom? Zara mengatai aku seperti itu..."


Anarghya mengusap punggung Pramudya. "Jangan kamu masukkan dalam hati. Wajar jika Zara mengatakan macam-macam karena memang sedang emosi. Sekarang fokus kamu adalah kesembuhan Zara dan menangkap pelakunya. Oh, nanti biar Tante Dhita mu yang akan menkonseling Zara, sebab kalau Tante Safiramu, nanti akan lebih defends lagi Zara."


Pramudya mengangguk.


"Sekarang, biar Oom visite Zara. Nanti Oom kasih update nya. Oke?" Anarghya menepuk bahu Pramudya dan berdiri lalu berjalan menuju kamar Zara meninggalkan Pramudya yang masih terpekur disana.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2