
Kantor Pusat Bank Arta Jaya di Gatot Subroto Jakarta
Usai rapat saham, seluruh keluarga klan Pratomo berkumpul di ruang kerja Bagas Hadiyanto termasuk Hoshi Reeves dan Freya Sky Lexington.
"Apa maksudmu Pram? Siapa Zara? Cewek bayaran apa? Kontrak apa? Tante tidak paham !" cecar Freya ke Pramudya dengan perasaan gemas.
"Tante Freya, biar Pramudya bercerita. Tante nyecarnya macam interogasi Jason di Hutan Sandy..." gelak Dewa.
"Kamu cerita sekarang atau Tante bakar menyan detik ini !" ancam Freya.
"Memang kamu bawa Frey?" goda Bagas.
"Ya jelas tidak ! Edan opo! Aku kan mung mede-medeni wae ( aku kan cuma nakut-nakutin )..." balas Freya cuek membuat semua orang disana melengos karena tahu hobi nyeleneh wanita berambut pirang itu.
"Oom, Tante, Dewa... Ceritanya itu ..." Pramudya menceritakan bagaimana awal bertemu dengan Zara hingga membuat kontrak kekasih itu.
Semua orang di sana menatap tajam ke arah Pramudya yang menunduk usai menceritakan semuanya.
"Sekarang tugas kamu adalah melindungi Zara dan neneknya. Dia tidak tahu apa-apa sebelumnya tapi dia terseret kekacauan antara kamu dan Tamara" ucap Hoshi Reeves dingin seperti biasanya.
"Iya Oom..." jawab Pramudya.
"Bukan tidak mungkin dia sudah tahu dimana Zara dan neneknya tinggal, Pram" sambung Bagas.
Wajah Pramudya tampak panik.
***
Mini Market tempat Zara berkerja
"Kok bisa sih kamu celaka ketiban pigura?" goda Martina.
"Namanya juga musibah..." jawab Zara. " Lumayan, kena sebelas jahitan."
"Tapi Bu Andrea membantu semua biaya pengobatan nya kan?" tanya Martina.
"Iyalah. Lumayan seminggu aku di rumah sakit..." senyum Zara.
"Zara !"
Kedua gadis itu menoleh dan tampak Sofyan, manajer mini market itu mendatangi keduanya.
"Ada apa mas Sofyan?" tanya Zara.
"Ya ampun, parah ternyata..." ucap Sofyan sambil melihat pelipis Zara yang masih diperban. "Berapa jahitan?"
"Sebelas" jawab Zara sambil tersenyum.
"Besok lagi berhati-hatilah..."
__ADS_1
"Iya mas Sofyan. Oh tahu darimana?" tanya Zara.
"Bu Andrea yang datang dengan memberikan surat keterangan rumah sakit."
Zara mengangguk. "Aku sudah sehat, mas Sofyan.
"Alhamdulillah. Yuk kerja lagi."
***
"Ada orang cari aku?" tanya Zara ke Martina sambil menata rokok di raknya.
"Iya, dia bilang soal tawaran main piano di hotel dan dia tahu kamu bisa main piano."
Zara mengerenyitkan dahinya. "Tawaran main piano? Dimana?" Zara merasa tidak ada tawaran itu.
"Di hotel Mulia atau apa gitu..."
"Tina, orang itu ngadi-ngadi. Aku tidak pernah mendapatkan tawaran main piano." Zara menatap Martina serius. "Dia tanya soal aku apa lagi?"
"Hanya itu dan nama lengkap kamu kan Zara Aulia saja" jawab Martina.
Zara tampak berpikir. Siapa orang yang bertanya tanya tentang dirinya? Aku tidak ada hutang bank atau apapun...
***
Restauran Indonesia daerah Gatot Subroto Jakarta
Dan kini mereka berdua duduk di depan nya dengan wajah yang tidak bisa dibaca membuat Hamid merasa bingung dan cemas. Ada apa ini? Hamid juga melihat Emilia, sekretaris Bagas dan Martin, sekretaris Hoshi ada disana.
"Selamat siang pak Hamid. Mati kita makan siang dulu. Anda suka masakan khas Manado dan Makassar kan?" senyum Bagas.
"Baik pak Bagas ..."
Mereka berlima pun makan siang bersama.
***
"Pak Hamid, setelah kita kenyang ... Mari kita berbicara yang serius. Pak Hamid, dengan berat hati, saya Bagas Hadiyanto, memutuskan untuk tidak memperpanjang semua kerja sama dengan perusahaan bapak, begitu juga dengan PRC Group dibawah pimpinan Bapak Quinn Reeves." Bagas menatap tajam ke arah Hamid.
Hamid melongo. "A...apa maksudnya?"
Martin memberikan iPad ke Hoshi. "Ini permasalahan nya." Hoshi memperlihatkan rekaman CCTV saat diadakan rapat umum pemegang saham Bank Arta Jaya hari Senin.
Hamid melihat rekaman itu dengan tatapan tidak percaya bahwa putrinya berani masuk ke dalam ruang rapat yang dihadiri beberapa rekan bisnisnya.
"I...ini... " Hamid terbata-bata.
"Iya, itu putri bapak yang tidak punya adab dan sopan masuk ke dalam acara resmi bank saya, tempat saya ! Dan karena itulah, saya memutuskan semua kerja sama dengan semua perusahaan anda." Bagas tampak menahan amarah tapi dia berusaha mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Begitu juga dengan PRC Group. Bukankah saya sudah memperingatkan anda ? Didik putri anda ! Dan sekarang saya minta anda membayar semua penalti nya" sambung Hoshi.
"Ta... Tapi... Saya tidak tahu Tamara Kesana ! Saya berada di Semarang sejak Senin pagi !"
"Saya tidak perduli ! Anda tidak melihat gambaran jelasnya ! Putri anda sendiri lah yang membuat anda jatuh karena obsesinya pada Pramudya." Hoshi menatap galak.
"Mr Reeves, saya mohon..."
"Maaf Pak Hamid. Nanti biar Martin dan Emilia bersama pengacara kami mengurus semua legalitas. Keputusan kami sudah final pak Hamid." ucap Bagas.
Hamid tampak lemas.
***
Kediaman Keluarga Hamid.
"PLAK !"
Tamara memegang pipinya yang ditampar oleh Hamid.
"PAPA !" teriak Tamara sambil memegang pipinya.
"Kamu bikin malu ! Kamu itu memang bodoh ! Beraninya kamu datang ke rapat pemegang saham dan membuat onar disana !" bentak Hamid.
"Mas Pram harus tahu ! Semua harus tahu Pramudya Hadiyanto menyewa seorang pela$cur ! Tidak pantas bagi keluarga Hadiyanto !"
"Dan menurut kamu, kamu itu pantas ?" bentak Hamid. "Setelah semuany ?"
"IYA ! HANYA AKU YANG PANTAS JADI MENANTU HADIYANTO !" balas Tamara.
Hamid mengusap wajahnya. "Gara - gara kamu, papa kehilangan kerjasama senilai 20 Milyar ! Dan papa harus membayar penalti 10 Milyar ! Itu bukan uang yang sedikit Tamara !"
"Kita masih punya aset !"
"Yang akan tidak bisa bertambah kalau papa kehilangan kerjasama dengan keluarga klan Pratomo !"
Tamara tampak terdiam.
"Papa minta kamu cooling down dan menunggu. Mereka akan melupakan kejadian kemarin. Seperti halnya semua hal yang sering terjadi di Indonesia. Sudah lewat ya sudah. Tidak akan diingat lagi."
***
Zara berjalan menuju rumahnya setelah bekerja di mini market. Tanpa dia sadari, sepasang mata menatapnya penuh kebencian ke arah Zara dari dalam mobilnya.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️