Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Somewhere Somehow


__ADS_3

Kediaman Keluarga Hadiyanto


Zara memakan ramennya berusaha sesantai mungkin, tidak terpengaruh dengan tubuh proporsional di sebelahnya yang memamerkan tattoo koleksinya. Untung ramennya pedas jadi bisa ada alibi jika dirinya berkeringat padahal karena jantungnya ngajak sprint 100 meter akibat pria tidak punya manner duduk tanpa memperdulikan sekitarnya.


Pramudya melirik wajah Zara yang memerah dan tidak bisa menebak apakah karena ramennya memang pedas dan panas atau melihat tubuhnya. Pramudya berani bertaruh kalau wajah Zara berkeringat dan memerah karena yang kedua.


Pramudya tersenyum tipis sambil memakan ramennya dan sesekali melirik ke arah gadis itu.


"Saya sudah selesai pak Pram..." ucap Zara dengan sedikit tertatih membawa mangkok kosong itu ke dalam bak cucian piring.


"Tinggal saja, Zara. Biar dicuci besok." Pramudya menatap Zara yang sedang menyalakan keran air.


"Nggak papa, pak. Tanggung dan sayang mangkoknya nanti kena noda" jawab Zara sambil mencuci peralatan makan dan alat masaknya.


"Zara... " Pramudya menatap Zara dari balik mejanya.


"Ya pak..."


"Kamu bisa kuat menghadapi sidang besok?"


Zara meletakkan mangkok itu ke rak transit. "Memangnya kapan sidangnya pak?"


"Insyaallah dua Minggu lagi. Ini sedang dimasukkan pasal tambahan karena kasus yang terbaru."


Zara mengangguk. "Insyaallah bisa kuat pak."


"Aku akan menemanimu, Zara. Don't worry. Oma dan Alina juga akan menemani..." ucap Pramudya.


Zara mengambil kruk dan berjalan menuju kamarnya tapi tangan Pramudya memegang tangannya. Keduanya saling berpandangan dan Pramudya mencium bibir Zara lembut.


"Bibir kita jadi rasa ramen..." senyum Pramudya membuat wajah Zara semakin merah padam.


"I...iya..." bisik Zara gugup. Rasanya jantungku macam maraton.


"Aku sayang kamu, Zara. Bukan kasihan tapi benar-benar mencintaimu..." Mata coklat Pramudya menatap Zara lembut. "Maaf ciuman pertama kita malah nggak romantis... Kayaknya ketularan Dewa deh..."


Zara tersenyum simpul. "Aku ke kamar dulu, pak..."


"Mas. Aku ingin kamu memanggil aku seperti dulu... Mas Pram. Bukan kah kita sudah resmi pacaran? Meskipun stempelnya rasa ramen ..."


Zara menatap Pramudya dengan tatapan geli. "Pak... Eh mas Pram... Nggak romantis !"


"Baru tahu?"


Zara menggelengkan kepalanya, gemas sendiri dengan pria di hadapannya. "Aku ke kamar dulu mas... Kakiku sudah mulai senut-senut..."


"Mau aku gendong?" tawar Pramudya.


"Eh? Nggak usah ! Nggak usah !" tolak Zara dengan nada panik. Yang benar saja aku digendong menempel tubuh tanpa baju? Mana tubuh mas Pram harumnya maskulin dan membuat aku bisa jantungan ! Bahaya kalau aku masuk rumah sakit akibat serangan jantung....


"Bisa jalannya?" tanya Pramudya khawatir.


"Bisa mas. Kan kamar aku dekat. Malam mas..." Zara berjalan sedikit tergesa menuju kamarnya. Setelah masuk, gadis itu bersandar di balik pintu sambil mengelus-elus dadanya. "Ya Allah, jantungku... jantungku..."

__ADS_1


Pramudya hanya menatap pintu kamar Zara yang tadi tertutup agak keras, pertanda gadis itu gugup. Pria bertattoo tersenyum dan menghabiskan ramennya.


***


Rumah Pramudya dan Oma Angela semakin semarak saat Zara memainkan grand piano yang terdapat di rumah besar itu. Para pelayan pun sudah terbiasa dengan nona cantik yang ramah itu, bermain piano di rumah.


"Kamu sangat suka lagu klasik ya Zara?" tanya Oma Angela yang sibuk merajut di sofa sembari mendengarkan permainan Zara.


"Lagu-lagu modern top 40 juga bisa Oma. Lagu anime lagu film juga oke..." senyum Zara sambil memainkan theme Mission Impossible.


Oma Angela tertawa. "Terus apa lagi?"


"Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini, ingin itu, banyak sekali..." dendang Zara memainkan jarinya di tuts piano memainkan lagu Doraemon.


"Ya Allah mbak Zara, malah main Doraemon?" kekeh Bik Romlah yang sedang menyiapkan makan malam.


"Lha yang gampang bik..." senyum Zara.


"Suaramu bagus lho Zara... Nyanyi yang lain..."


"One more kiss


Even though it's come to this


I'll close my eyes and make a wish


Hoping you'll remember


All this time


The sun still shines, the sun still sets


And the heart forgives, the heart forgets


Oh, what will I do now with all this time?"


Suara merdu Zara menyanyikan lagu milik Tiffany berjudul All This Time membuat semua orang terhibur.


"Mbak Zara pantas lho jadi penyanyi di tv..." celetuk bik Romlah usai Zara memainkan lagu itu.


"Ah nggak bik. Aku nggak suka menjadi artis."


"Selain main piano, kamu bisa main alat musik apa lagi?" tanya Oma Angela yang tidak heran kalau Pramudya jatuh cinta dengan gadis itu karena pandai bermain piano dan menyanyi.


"Gitar bisa."


"Mbak Zara memang seniman..."


Wajah Zara memerah. "Nggak bik, hanya suka musik."


"Nggak coba bikin lagu?" Oma Angela menatap ke arah Zara. "Bikin coba. Iseng saja dan siapa tahu malah bisa diterima di masyarakat. Kamu posting saja di TikTok atau YouTube..."


"Aku nggak suka pamer di sosial media, Oma."

__ADS_1


"Duet yuk!" ajak Pramudya yang baru datang dari kantor.


Zara terkejut melihat Pramudya bersandar di tembok masuk ruang tengah.


"Kamu dengar suaranya Zara?" tanya Oma Angela.


"Dengar. Lebih bagus suaranya dari Tiffany..." Pramudya pun duduk di sebelah Zara. "Tahu lagunya Michael W Smith dan Amy Grant?"



"Somewhere somehow?" tanya Zara.


"Yup. Bisa kan ?" Pramudya pun memainkan pianonya dan Zara pun bermain di bagian melodi.


"There's a love inside us (deep down inside)


That goes without saying (don't say a word)


But I'll tell you just the same


And that love will fan the flame


And that flame will warm the heart that's waiting


You are mine (you are mine)


And I'll wait for you, my love (It may take some time)


Even if it takes a lifetime (Tell me you'll wait and)


Somewhere far beyond today


I will find a way to find you


And somehow through the lonely nights


I will leave a light in the dark.."


Oma Angela dan para pelayan terpaku melihat bagaimana Zara dan Pramudya menyanyikan lagu lawas itu dengan indah serta penuh perasaan.


"Ya Allah, Oma sampai menangis melihat kalian... Bagus banget..." ucap Oma Angela usai keduanya berduet.


Pramudya menatap Zara lembut. "Kita memang cocok dan jodoh..."


Zara hanya menunduk malu. Jangan terlalu vulgar dong mas.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2