
Ruang Pengadilan
Zara dan Pramudya mengikuti jalannya sidang pertama yang masih berisikan kasus yang membuat Tamara terjerat dengan hukum. Sidang masih dimulai dengan pembacaan pembuka baik dari jaksa penuntut umum dan pengacara.
Jaksa penuntut umum menyatakan bahwa Tamara Hamid berada di balik tiga kasus yang melibatkan Zara Aulia termasuk menyewa Mukhlis alias Bandot untuk mencelakakan Zara tapi mengenai Martina, sahabatnya. Jaksa penuntut umum juga membeberkan kasus pembunuhan Mukhlis dan penabrakan yang dilakukan Tamara ke Zara dan Nenek Aisyah b
Zara semakin mempererat genggamannya dan Pramudya bisa melihat gadis itu tampak memucat mengingat saat peristiwa yang menimpa dirinya dan mengingatkan akan kematian neneknya.
"Ada aku, Zara... " bisik Pramudya.
Zara menatap ke Pramudya yang mengangguk pelan seolah menguatkannya. Gadis itu memegang tangan Pramudya dan tanpa suara, Zara mengucapkan terima kasih.
Tamara yang melihat bagaimana interaksi Pramudya dan Zara, membuatnya panas. Pengacaranya yang melihat gelagat tidak baik dari kliennya, langsung menahan gerakan Tamara.
Setelah hampir dua jam sidang berlangsung, akan dilanjutkan esok hari dengan agenda kesaksian dari pihak kepolisian. Tamara yang hendak digelandang ke mobil tahanan, berteriak memanggil Pramudya.
"Mas Pramudya ! Mas !" panggil Tamara membuat keluarga Hadiyanto menoleh.
Pramudya menatap dingin ke arah Tamara dan setelahnya merangkul pinggang Zara lalu berjalan keluar dari ruang sidang. Tamara yang merasa diacuhkan Pramudya, merasa tidak terima dan berteriak-teriak heboh memanggil Pramudya hingga harus ditarik tiga orang sipir wanita untuk dibawa keluar dari pintu samping ruang sidang menuju mobil tahanan.
***
"Dasar tidak tahu malu !" umpat Dewa Hadiyanto saat mereka semua berada di sebuah restauran untuk makan siang bersama.
"Namanya juga wong gak waras" timpal Oma Angela.
"Semoga pas aku dan Alina menikah, semua sidang sudah selesai, Pram. Aku ingin kita semua dalam suasana nyaman dan tenang... Eh tapi nggak mungkin tenang, mengingat keluarga aku macam sirkus... Eniwaaiiii, aku ingin segera selesai persidangan ini" ucap Dewa.
"Aamiin, Bro. Kami semua juga ingin segera selesai..." jawab Pramudya.
"Benar-benar deh cewek itu !" geram Dewa.
Zara hanya diam saja sambil memakan makan siangnya.
***
Usai dari pengadilan, Zara dan Oma Angela kembali ke rumah sedangkan Pramudya kembali ke kantor bersama Genta. Begitu juga dengan Dewa dan Alina yang kembali ke kantor pria itu.
Setibanya di rumah, Zara langsung berganti pakaian dan melaksanakan ibadah nya. Dirinya membutuhkan kekuatan untuk mengahadapi setiap persidangan karena menghadapi pembunuh neneknya itu tidaklah mudah. Ada banyak emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Rasa marah, rasa sedih bahkan rasa ingin membunuh Tamara dengan tangannya sendiri, muncul dengan sendirinya. Nyawa dibayar nyawa kasarannya tapi Zara masih bisa berpikir panjang karena banyak orang yang akan sedih jika dia sendiri menjadi seorang pembunuh.
__ADS_1
Suara ponselnya berbunyi dan gadis itu tersenyum saat tahu siapa yang menelpon.
"Halo BESTie..." sapa Zara ramah.
"Halo BESTie... Bagaimana sidang pertama?" tanya Martina.
"Masih opening soal kasus kita, Tina. Kamu sudah dipanggil pengadilan untuk jadi saksi?"
"Sudah. Rencananya lusa aku akan menjadi saksi kasus tabrak lari di depan plaza Senayan."
"Bagaimana perasaan kamu, Tina?" tanya Zara penasaran bagaimana Tamara bisa mengontrol emosinya.
"Well, kalau sekarang aku tidak bisa bilang gimana karena pasti akan berbeda jika aku berhadapan langsung dengan nenek lampir itu !" jawab Tina. "Yang jelas, aku ingin meyakinkan hakim untuk menghukum dia dengan berat."
"Sayangnya hukum di Indonesia tidak memakai sistem 12 juri dan semua tergantung majelis hakim..." gumam Zara.
"Iya. Semoga hakimnya yang lurus ya Zara. Bukan yang bisa disuap... " sahut Martina.
"Kalau mas Pram mau cepat ya tinggal suap hakim, Tamara langsung dihukum tapi kan mas Pram tidak seperti itu..." ucap Zara.
"Biar si nenek lampir tahu rasanya diadili !"
"Ngomong-ngomong, bagaimana kakimu?" tanya Zara mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah... Aku ikut senang mendengarnya..." ucap Zara tulus karena sejujurnya Zara merasa sangat bersalah karena menyeret Martina ke drama Pramudya.
"Zara, jangan berpikir bersalah terus sama aku. It's okay ! Yang penting, aku masih hidup dan bisa berjalan lagi. Oh pak Pramudya sudah memberikan aku kesempatan bekerja di bank miliknya kalau aku sudah sembuh. Akhirnya ijazah akuntansi aku bisa berguna ..." Seolah Martina tahu apa yang dipikirkan Zara. "See, bisa dibilang kecelakaan yang membawa berkah. Aku bisa bekerja di bank, tidak di mini market lagi."
"Benarkah?" Zara terkejut karena Pramudya sampai segitunya.
"Iya. Nanti kalau sidang sudah selesai, aku akan dipanggil kerja. Bukankah itu blessing in disguise?" Nada suara Martina tampak senang karena bisa membantu ibunya kembali.
"Jangan sampai mengecewakan mas Pram lho Tina."
"Insyaallah tidak, Zara, karena kesempatan kan tidak datang dua kali."
***
Malam Harinya usai Makan Malam
__ADS_1
Pramudya melihat Zara tampak melamun di kursi panjang pinggir kolam renang. Pria itu pun menghampiri gadis itu sambil membawakan minuman juice yang sudah dibuatkan bik Romlah.
"Melamun Zara?" goda Pramudya membuat gadis itu menoleh. Zara tersenyum melihat Pramudya datang bersama dengan kucing Munchkin peliharaan nya yang bernama Velcro karena selalu menempel dengannya.
"Sedikit gugup untuk besok. Terimakasih" senyum Zara sambil menerima gelas juice.
"Jangan gugup. Percaya diri lah. Buktikan kalau nenek lampir itu memang titisan setan jahanam..." kekeh Pramudya yang mengenakan kaos tanpa lengan.
"I know tapi tetap saja kan mas... Semua bayangan berkelebat seperti baru terjadi kemarin padahal sudah hampir dua bulan kejadiannya..." jawab Zara.
"Memang tidak mudah menghilangkan itu tapi kamu akan bisa mengatasinya." Pramudya mengelus kepala Zara. "Kamu kuat, Zara. Serius."
Zara menatap Pramudya sambil tersenyum manis. "Terima kasih mas atas semua dukungannya..."
"Zara..."
"Ya mas?"
"Aku tahu ini tidak romantis, tapi usai Dewa menikah dengan Alina, kita menikah yuk. Sederhana saja, bagaimana?" ucap Pramudya.
Zara melongo. "Mas ngajak menikah kok macam ngajak aku ke mall..."
"Aku orangnya tidak bisa basa basi, Zara. Jadi maaf, tidak bisa romantis..." Pramudya menggaruk kepalanya dengan wajah menyesal membuat Zara tersenyum maklum.
"Menikah sederhana seperti apa mas?"
"Hanya ijab kabul di rumah ini saja dan mengundang orang-orang terdekat. Bagaimana?" Pramudya menatap serius ke Zara.
Wajah Zara tampak setuju dengan rencana Pramudya. "Aku mau. Aku tidak mau pesta mewah mas, yang penting sah secara hukum dan agama..."
Pramudya merasa lega mendengar jawaban Zara. "Alhamdulillah..."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️