
Ruang Rawat Inap Zara di RS PRC Group Jakarta
"Zara... Jangan seperti itu... Kamu bisa dipenjara nanti. Rugi di kamu..." ucap Pramudya lembut sambil memegang tangan Zara.
Gadis itu langsung menarik tangannya dari genggaman Pramudya membuat pria itu sedikit terluka dengan sikap Zara. Namun Pramudya berusaha memahami bahwa Zara masih marah padanya dan itu wajar.
"Pram benar Zara. Biarkan hukum yang bekerja... Kamu tinggal datang menjadi saksi dan meyakinkan hakim bahwa dia waras saat melakukan kejahatan itu..." timpal Juned.
Zara menatap ke arah pria yang bertubuh agak gemuk itu. Wajah Juned memasang raut serius. "Eman-eman ( sayang ) kamunya. Tangan kamu terlalu bagus untuk bergelimang darah..." sambung Juned lagi.
Wajah cantik Zara tampak sendu. "Tapi dia sudah membunuh nenek..."
"Kamu tidak patut menjadi malaikat pencabut nyawa wanita itu."
Zara menoleh ke arah pintu dan tampak Martina berjalan menggunakan Walker menuju ke arahnya. "Hai bestie" senyum Martina.
"Ya Allah, kamu sudah bisa jalan?" seru Zara dan dirinya hendak turun tapi dicegah Pramudya.
"Jangan turun dulu, Zara. Kamu masih harus bedrest dulu..." Pramudya mencegah Zara turun dan gadis itu mengrenyitkan dahinya karena merasa kesakitan. "Kan sudah dibilang kamu ngeyel."
Zara pun cemberut mendengar Omelan dari pria tampan itu. "Iya deh!"
Juned pun berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Martina untuk duduk. "Monggo mbak."
Martina dengan didampingi seorang suster pun duduk di kursi yang semula dipakai Juned. "Terima kasih mas" balas Martina manis. "Pak Pramudya, terimakasih atas bantuannya. Ibuku jadi tidak pusing dengan biayanya meskipun kami sebenarnya hendak mengajukan BPJS."
"Soal biaya, kamu nggak usah dipikirkan karena aku memang sudah berkomitmen untuk membiayai semuanya" jawab Pramudya.
"Kamu sendiri gimana rasanya Zara? Masih terasa sakit kah?" tanya Martina sambil memegang tangan Zara.
"Sedikit. Tapi aku sudah senang wanita itu sudah ditangkap kepolisian Indonesia" jawab Zara.
"Benarkah pak Pramudya?" tanya Martina ke arah pria itu.
__ADS_1
"Benar. Aku bersama dengan tim ke Tel Aviv untuk membawa pulang wanita itu."
Martina melongo. "Tel Aviv? Israel? Wanita jahat itu kabur ke Israel? Bagaimana bisa?"
"Karena di Israel tidak ada perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Dan disana dia memiliki kenalan keluarga berpengaruh di Israel hingga dia merasa aman-aman saja. Tapi kami berteman baik dengan pemerintah Israel dan Mossad jadi mereka mau mengeluarkan surat deportasi ke Indonesia" tutur Pramudya.
"Ya Allah. Pak, itu benar-benar... Wow !" ucap Martina.
"Pramudya dibantu oleh Dewa, sepupunya dan mereka memakai uang pribadi untuk membawa pulang Tamara ke Jakarta. Pemerintah Indonesia hanya memberikan surat diplomatik karena jika melalui birokrasi, bakalan lama sedangkan ini kita harus cepat sebab ada kemungkinan akan kabur lagi" timpal Juned.
"Sekarang dia dimana?" Martina menoleh ke arah Juned.
"Di Sel polda metro jaya dengan pengawasan ketat" jawab Juned.
***
Sel Khusus Polda Metro Jaya Jakarta
Irjen Randy Hutabarat menemani Oma Angela yang datang untuk menemui Tamara. Pria berdarah Batak itu merasa dirinya harus ikut menemani salah satu anggota keluarga Hadiyanto meskipun jatuhnya besan karena putrinya menikah dengan Chandra Hadiyanto.
"Ini ruang interogasi nya ada kaca dua arah kan?" tanya Oma Angela.
"Iya Bu."
"Tamara aku minta diborgol agar tidak menyerang saya" ucap Oma Angela.
"Ibu mau menemui dia sendirian?" tanya Randy.
"Iya Nak Randy. Anda tinggal mengawasi saya dari kaca dua arah saja."
***
Dan kini Oma Angela duduk di depan Tamara yang memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Oma..." panggil Tamara tapi Oma Angela mengangkat tangannya pertanda dirinya tidak mau dipanggil seperti itu.
"Jangan pernah kamu memanggil saya Oma. Panggil saya Nyonya Angela" ucap Oma Angela dingin. "Kamu tidak pantas memanggil saya Oma ! Hanya orang-orang tertentu saja yang boleh memanggil dengan panggilan itu."
"Macam cewek yang hilang ovariumnya satu itu?" ejek Tamara membuat Oma Angela terkejut. "Jangan kaget begitu, Nyonya Angela, aku tahu kondisi cewek brengsek itu!"
"Semuanya gara-gara kamu kan wanita j4l4ng ! Kamu mendekati Pramudya tapi kamu juga bermain sana sini. Apa pantas wanita yang bekas sana sini menjadi bagian keluarga Hadiyanto?" balas Oma Angela pedas.
"Aku akan berhenti jika bersama Mas Pramudya !"
Oma Angela tertawa sinis. "Apa kamu yakin? Yang ada adalah kamu akan berusaha mendapatkan semua kekayaannya Pram dan kamu memanfaatkan nama besar Hadiyanto serta keluarga Pratomo untuk menaikkan status sosial kamu... Benar?"
Tamara hanya menatap marah ke wanita yang masih tampak anggun di usia lanjut.
"Tamara... Tamara ... Kamu saja tidak memiliki rasa sopan santun... Jadi apa pantas? Pikir pakai otakmu ! Semua orang ... Ralat. Semua wanita yang hendak masuk ke keluarga Hadiyanto akan dilihat bibit bebet bobot nya. Kami tidak akan menerima wanita seperti mu. Pramudya saja tidak tertarik padamu dari awal karena sikap kamu itu !"
"Dasar wanita tua Bangka !" teriak Tamara sambil menarik tangannya hendak memukul Oma Angela.
"Dengar wanita liar ! Kamu tidak akan lepas dari jeratan hukum ! Bahkan jika perlu, kamu dijatuhi hukuman mati ! Agar sampah macam kamu hilang dari bumi !" bentak Oma Angela.
***
"Pak, apa kita tidak perlu masuk?" tanya letnan Arman ke Randy.
"Belum saatnya Arman. Biarkan Bu Angela mengeluarkan semua uneg-unegnya" jawab Randy. "Beliau benar. Wanita itu memang tidak pantas masuk ke keluarga Hadiyanto."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Maaf tidak bisa panjang - panjang karena aku teler berat. ( capek sebenarnya ngopeni gendong corgi gendut )
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️