
Kantor Polisi Polda Metro Jaya Jakarta
"Bagaimana? Sudah bisa melacaknya?" tanya Dewa yang datang ke kantor Letnan Arman.
"Kami sudah mendapatkan lokasinya... Hanya saja dia berada di negara yang tidak ada ekstradisi ke Indonesia. Dia berada di Israel sekarang" ucap Letnan Arman.
"Ke Israel? Setelah dari Singapura?" Dewa memang melacak keberadaan Tamara sedangkan ayahnya Hamid, berada di Taiwan. Israel dan Taiwan adalah dua negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia.
"Ya pak Dewa."
Dewa tersenyum licik. "Bawa pulang ! Biaya aku yang tanggung !"
"Tapi pak Dewa..."
"Saya akan menghadap Pak Randy Hutabarat. Yakin kalian bisa bawa pulang pembunuh psikopat itu !" Dewa lalu menghubungi Irjen Randy Hutabarat. "Halo Oom..."
***
Ruang Rawat Inap Zara di PRC Group Hospital Jakarta
Zara menatap ke arah jendela yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dengan perasaan tidak menentu. Satu sisi dirinya ingin segera pergi dari rumah sakit ini tapi sisi lain, dia belum kuat untuk bangun dari tempat tidur.
Suara ketukan di pintu kamarnya terdengar dan tampak seorang wanita cantik tersenyum padanya usai membuka pintu.
"Halo. Kamu pasti Zara, ya? Perkenalkan saya dokter Anandhita Satrio... Dan hari ini saya yang akan menjadi dokter visite kamu." Wanita anggun itu berjalan menghampiri Zara dengan langkah anggun.
Mata Zara menatap seorang pria yang lebih tua dari wanita itu dengan badan gemuk dan wajah jenaka berada di belakangnya.
"Oh, kamu nggak usah khawatir. Dia kuda Nil yang jinak kok" senyum Anandhita.
"Neng Didit... Aa' kan jadi terharu dibilang kuda Nil yang jinak... "sahut pria tambun itu dengan wajah malu-malu meong. "Halo Zara, perkenalkan saya Oom Toro biasa dipanggil Ateng. Tapi kalau dipanggil Oom Ganteng juga boleh..."
Zara cekikikan sambil menerima uluran tangan pria yang berwajah kocak itu. "Apakah kalian ada hubungan ?" tanya Zara yang bisa melihat Toro sangat memuja Anandhita.
"Well, Pak Toro ini adalah petugas forensik yang mengurus kasus kamu dan mantan rekan kerja suamiku. Dulu suamiku adalah anggota kepolisian tapi karena beberapa kali nyaris tewas, akhirnya memilih pensiun dini dan memegang perusahaan keluarga..." jawab Anandhita.
"Aku tahu neng Didit dari jaman pacaran sama si Dapid..."
"David. Nama suamiku David Hakim Satrio" ralat Andhita.
"Tapi neng Didit tidak mau sama aku Zara. Ini aku sampai menjomblo akut demi menunggu jandanya neng Didit ..." ucap Toro tanpa dosa membuat Anandhita mendelik dan Zara tertawa geli melihat dua orang yang sudah berumur tapi masih gombal receh.
"Alhamdulillah kamu sudah bisa tertawa..." senyum Anandhita.
__ADS_1
"Dokter Anandhita dan Pak Toro lucu..." jawab Zara.
"Zara, kita bicara serius ya" ucap Toro. "Hasil pemeriksaan di TKP dua Minggu lalu, memang mobil yang menabrak kamu dan nenekmu adalah mobil Pramudya. Tunggu jangan emosi dulu... Kamu tidak tahu kan kebenarannya?"
Zara menatap dua orang itu bergantian. "Apa maksud nya?"
"Kamu sudah diceritakan oleh Pramudya? Kronologis bagaimana mobil Pram bisa dipakai menabrak kamu?" Anandhita duduk di kursi sebelah tempat tidur Zara.
"Saya tidak... Tidak ada yang memberitahukan pada saya..." Zara menatap bingung. Berarti benar itu mobil Pak Pramudya yang menabrak aku dan nenek.
"Aku ceritakan ya." Toro mengambil kursi dan duduk di sisi kiri Zara.
"Dia tidak menjelaskan pada saya..." ucap Zara lagi.
"Mungkin karena kamu sudah emosi terlebih dulu jadi tidak memberikan kesempatan kepada Pramudya untuk menjelaskan?" senyum Anandhita membuat Zara menunduk.
"Sekarang aku jelaskan padamu agar tidak salah paham ke Pramudya. Oom tidak membela Pramudya tapi kamu bisa menilai dengan secara obyektif. Oke?" Toro menatap serius ke gadis itu.
Zara menatap Toro tidak percaya bagaimana bisa bengkel sebesar itu bisa dengan entengnya memberikan kesempatan pada Tamara mengambil mobil Range Rover milik Pramudya hingga dipakai untuk kejahatan berat.
"Jadi... Pemilik bengkel itu..." Zara menatap Toro bingung.
"Sudah ditahan pihak kepolisian sebagai kaki tangan pelaku pembunuhan" jawab Toro.
"Kabur ke Israel..."
Zara terkejut. "Israel ? Lalu ayahnya?"
"Berada di Taiwan. Kesulitan kami adalah, dua negara itu, Israel dan Taiwan tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Tapi kamu jangan khawatir. Pramudya dan Dewa sudah berangkat ke Tel Aviv untuk menangkap pelaku kejahatan ini" jawab Toro.
Wajah Zara tampak terkejut. "Pergi ke Israel? Pak Pramudya pergi Kesana?"
"Iya Zara, bersama dengan suamiku, mas David. Kami akan membawa pulang wanita jahat itu kembali ke Indonesia, bagaimana pun caranya. Jadi, kamu jangan khawatir... Oke?" Anandhita memegang tangan Zara.
Zara hanya mengangguk. Dalam hatinya dirinya sedikit khawatir mendengar Pramudya pergi ke Israel, negara yang dikenal kontroversial. Apakah sampai segitunya ya kamu berusaha bertanggung jawab atas segalanya.
***
Tel Aviv Israel
Dewa, Pramudya, Irjen Randy Hutabarat, Letnan Arman dan David Hakim Satrio tiba di bandara Tel Aviv yang langsung dijemput oleh salah satu anak buah Benjiro Smith yang memang tinggal di Tel Aviv.
"Boaz Chaika" sapa David.
__ADS_1
"Mister Satrio. Mister Smith sudah mengabari saya. Mari kita ke hotel dulu" ajak Boaz sambil berjalan menuju parkir mobil.
"Apakah kamu sudah melacak keberadaan Tamara Hamid?" tanya Randy.
"Sudah Mister Hutabarat. Dia tinggal di sebuah bungalow milik salah satu keluarga Yahudi, teman kuliahnya dulu. Keluarga itu cukup berpengaruh di Tel Aviv dan Tamara Hamid merasa dirinya Untouchable..." jawab Boaz.
"Dia kira dia bisa lolos hukum di Indonesia" ucap Letnan Arman geram.
"Kita akan segera menangkap nya Let, don't worry" ucap Randy menenangkan anak buahnya.
Rombongan itu masuk ke dalam mobil SUV besar dan menuju hotel. Pramudya menatap pemandangan kota Tel Aviv dengan perasaan panas dan ingin segera menyeret Tamara pulang ke Jakarta. Dia tidak perduli dengan hukum Israel, yang penting bisa membawa pembunuh nenek Aisyah pulang!
***
Bungalow milik Keluarga Yaqub
Tamara menikmati cocktailnya sambil berjemur di balkon dengan mengenakan bik*ni. Gadis itu tampak memejamkan mata sampai dirinya merasa ada seseorang berdiri di hadapannya menghalangi sinar matahari.
"Lewi ... Kamu menghalangi Tan aku..." rengek Tamara.
"Kenapa kamu kabur dari Jakarta?" tanya Lewi sambil membuka kemejanya meninggalkan tubuh liatnya dan celana Hawaii nya.
"Anggap saja, I'm the bad girl ..." senyum Tamara.
"Dari pada kamu hanya mengatakan 'i'm the bad girl ' ... Buktikan..." Lewi menyusuri tubuh Tamara dengan jarinya dan menyentuh dada gadis itu.
"Lewi ! Kamu kan tahu aku sangat lemah jika disentuh disana..." rengek Tamara.
"Aku rindu bibirmu di milikku..." Lewi menurunkan celana Hawaiinya. Tamara hanya tersenyum melihat milik Lewi sudah berdiri.
"Kamu rindu bibirku?" goda Tamara sambil menyentuh milik Lewi.
"Ya... Isap sayang..." de*sah Lewi.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1