Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Give Your Voice


__ADS_3

Ruang Pengadilan Sidang Kedua


"Jadi anda tidak tahu menahu bahwa motor yang dibeli dengan nama anda, uang anda, digunakan untuk kejahatan?" tanya Jaksa penuntut umum lagi.


"Tidak tahu tuan jaksa. Jujur saya tidak berpikir macam-macam karena saat itu saya hanya membantu teman saya. Tamara memang suka motor dan saya pikir saya membelikan karena kesukaannya itu. Tapi ternyata... "Juned mengusap wajahnya dengan tangannya. "Astaghfirullah... Astaghfirullah..."


Jaksa penuntut umum memberikan kode ke Juned bisa turun dari mimbar saksi dan Pramudya merasa kasihan melihat temannya dimanfaatkan hanya karena kasihan dan terlalu baik.


Juned pun turun dan menuju kursi pengunjung sembari melewati Tamara. Tanpa diduga-duga, pria itu menampar pipi Tamara membuat gadis itu berteriak kesakitan dan nyaris tersungkur.


Pramudya dan Zara terkejut melihat kejadian itu, apalagi setelahnya Juned ditarik petugas pengadilan dan polisi keluar.


"B@ngs@t kamu Tam ! Setan kamu ! Membusuk lah kamu dipenjara ! B@jing@an kamu !" umpat Juned penuh amarah ke Tamara yang memegang pipinya. Warna merah terlihat di wajah Tamara yang putih dan semua orang tahu itu tamparan penuh amarah. Beruntung Tamara tidak pingsan saat itu juga.


"Saudara Juned, anda kami hukum semalam di penjara !" putus hakim sambil mengetuk palunya.


Juned pun digelandang keluar ruang sidang dan Pramudya melihat bagaimana pria bertubuh gemuk itu menangis saking emosinya. Zara memegang erat lengan Pramudya karena dirinya tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini.


"Sidang kita reses dua jam karena sudah masuk jam makan siang. Akan kita lanjutkan pada pukul dua Siang tepat." Hakim ketua pun memukul palu lagi.


***


Restauran Indonesia dekat gedung pengadilan


Zara memakan ayam kremes nya dengan setengah hati karena mengingat kejadian tadi. Gadis itu tampak terpengaruh dengan semua yang terjadi dari pagi hingga siang ini.


"Zara... Makan. Kamu nanti kena maag kalau tidak makan..." ucap Pramudya lembut.


"Mas, aku kasihan dengan mas Juned. Dia korban juga..." ucap Zara. Mereka sedang makan siang dengan ditemani Genta yang selesai mengurus semuanya di kantor Pramudya karena pria itu hendak menemani Zara di persidangan.


"Jahat tuh Pram ! Sumpah !" celetuk Genta sambil makan lalapannya.


"Iya. Jahat sekali. Padahal mas Juned tulus berteman sama dia ..." gumam Zara.


"Menurutmu bagaimana Pram?" tanya Genta.


"Aku tidak tahu. Hakim tampak nya bisa membaca kejahatan nenek lampir itu."


"Kalau sampai hakimnya bodoh, aku akan menuntut!" geram Genta. "Aku juga punya kenalan di Mahkamah Agung !"


Zara hanya mendengarkan dan tiba-tiba ponselnya berbunyi, membuat gadis itu memandang Pramudya. Tampak nama jaksa penuntut umum di layar.

__ADS_1


"Halo?" sapa Zara setelah menggeser tombol hijau.


"Nona Zara. Setelah ini, anda maju menjadi saksi ya" ucap Jaksa penuntut umum itu.


"Tapi bukannya saya jadwalnya besok?" tanya Zara bingung.


"Dimajukan karena hakim ketua ingin semua segera selesai untuk kasus anda. Nona Tamara masih harus menghadapi sidang kedua kasus pembunuhan di sel lapas wanita."


Zara menatap Pramudya yang memberikan anggukan dukungan. Melihat bagaimana kekasihnya mendukung dirinya, membuat Zara semakin yakin. "Baik tuan jaksa. Nanti saya akan maju sebagai saksi."


"Bagus. Siap ya nona Zara."


"Insyaallah siap pak."


Zara mematikan panggilannya dan memandang Pramudya dan Genta. "Aku gugup sebenarnya..."


"Jangan gugup. Buktikan bahwa wanita ular itu memang berbahaya !" support Genta.


"Jika kamu gugup, ingatlah bagaimana wanita itu sudah mengambil nenek Aisyah dari sisimu, Zara. Membuat kamu kehilangan sesuatu, membuat Martina celaka. Martina sudah memberikan suaranya untuk menghukum wanita ular itu dan sekarang giliran kamu. Katakan pada semua orang bahwa dia pembunuh berdarah dingin, dia tidak gila. Dia hanya orang yang tidak memiliki hati dan empati. Dan aku yakin, kamu pasti bisa Zara... " ucap Pramudya sambil memegang tangan Zara.


Zara mengangguk. Sekarang giliran dirinya untuk mengatakan pada semua orang di ruang pengadilan bahwa Tamara Hamid adalah wanita berbahaya.


***


Zara sudah duduk di kursi saksi dan sudah diambil sumpahnya dengan Al Qur'an. Kini dirinya berhadapan dengan semua pengunjung sidang namun matanya hanya terarah pada Pramudya, seolah mencari kekuatan disana. Pramudya sendiri menatap lembut ke arah Zara seolah mengatakan 'Semangat sayang.'


Tamara yang melihat interaksi keduanya, pun menjadi panas. Namun pengacaranya sudah menahan dirinya karena tidak mau mendapatkan hukuman berlapis lagi.


"Nona Zara Aulia, coba ceritakan bagaimana anda bisa berhubungan dengan nona Tamara Hamid?" tanya pengacara Tamara.


"Saya waktu itu diminta pak Pramudya Hadiyanto untuk menemani beliau ke pesta ulang tahun nona Tamara" jawab Zara tenang.


"Sebelumnya anda tidak mengenal nona Tamara?"


"Tidak. Saya baru bertemu dengan nona Tamara ya saat pesta itu."


"Bagaimana tanggapan nona Tamara ke anda?"


Zara menoleh ke arah Tamara. "Tidak bersahabat, penuh kebencian dan saya baru mengetahui jika nona Tamara mengejar - ngejar Pak Pramudya tapi pak Pram tidak tertarik dengannya..."


"Apakah saat itu, anda sudah berhubungan dengan Pak Pramudya Hadiyanto?"

__ADS_1


"Belum. Saya hanya diminta menemani beliau."


"Dimana anda berkenalan dengan pak Pramudya Hadiyanto?"


"Di rumah sakit. Saya menemani Nenek... Maaf, almarhum nenek saya yang sedang melakukan cuci darah. Kami berkenalan dan saat pak Pramudya meminta tolong menemani ke pesta, saya menyanggupi."


"Apakah karena anda dibayar oleh Pak Pramudya Hadiyanto? Anda wanita panggilan?" sindir pengacara itu.


"Keberatan !" protes jaksa penuntut umum.


"Diterima. Tuan pengacara, bukankah anda sudah tahu pekerjaan nona Zara itu kasir di mini market dan semua saksi sudah menyatakan siapa dirinya" tegur Hakim Ketua.


"Apakah anda dibayar nona Zara? Sebab ada bukti anda menerima bayaran fantastis dari pak Pramudya Hadiyanto." Pengacara itu memperlihatkan dua transaksi dari Pramudya ke rekening Zara.


Zara hanya menghela nafas panjang. "Benar. Saya dibayar dengan kontrak yang saya masih ingat klausul nya. Satu, saya hanya menemani pak Pramudya hingga tengah malam saat pesta selesai. Dua, tidak ada hubungan fisik karena pihak pertama yaitu pak Pramudya akan mengantarkan saya pulang tanpa lecet sedikitpun. Ketiga, semua uang itu menjadi hak saya seutuhnya dan kontrak itu berlaku hanya satu kali acara. Jadi saat acara ulang tahun nona Tamara, setelah saya pulang, kontrak kami berakhir dan saya tidak bertemu lagi dengan pak Pramudya. It's just a business."


"Lalu anda menandatangani kontrak anda yang kedua bukan?"


"Iya. Oma pak Pramudya, Nyonya Angela, mengetahui kejadian di acara ulang tahun nona Tamara tapi karena saya bukan apa-apanya pak Pramudya, sekali lagi saya menandatangani kontrak itu. Dan kali ini saya bersikap sebagai kekasih yang posesif."


"Kenapa?"


"Agar nona Tamara tidak ada celah mendekati pak Pramudya dan itu ada di klausul kontrak tapi yang terjadi di luar dugaan. Nona Tamara memukul saya dengan tasnya hingga kepala saya terluka."


Pengacara Tamara hanya mengangguk. "Nanti saya akan tanyakan kembali. Giliran anda, tuan jaksa penuntut umum."


Jaksa Penuntut Umum lalu memperlihatkan video acara ulang tahun Bank Arta Jaya. "Menindaklanjuti pernyataan nona Zara bahwa terjadi insiden di pesta ulang tahun Bank Arta Jaya, kita bisa melihat bagaimana nona Tamara memukul kepala nona Zara."


Semua orang disana terkesiap saat Zara terjatuh dan darah mengucur deras akibat pukulan dari tas Tamara yang penuh hiasan tajam disana.


"Ini adalah serangan pertama nona Tamara ke nona Zara. Akibatnya adalah banyak pihak memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan ayah nona Tamara." Jaksa penuntut umum itu memperlihatkan hasil visum dokter ke publik yang menunjukkan Zara mendapatkan banyak jahitan di kepalanya.


"Tapi anda tidak menuntut ke nona Tamara?"


Zara menggelengkan kepalanya. "Tidak. Karena bagi saya, dengan diputuskan kerja sama dengan ayah nona Tamara, sudah cukup hukumannya... Tapi saya salah."


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2