
Ruang Kerja Bagas Hadiyanto Bank Arta Jaya Pusat
Bagas menatap Hamid dengan wajah dingin dan berusaha meredam amarah keponakannya.
"Pak Hamid, anda mendengar sendiri jika Pramudya menolak permintaan anda. Dan saya pun sebagai wali Pramudya, menolak permintaan anda ! Sungguh saya tidak ikhlas dunia akhirat jika keponakan saya menikah dengan putri anda. Bukan apa-apa, sudah banyak kelakuan putri anda yang tidak pantas. Saya masih mempertimbangkan kerjasama kita, tapi tidak yang satu ini ! Saya sarankan, anda didik kembali putri anda agar lebih tahu manner dan unggah ungguh" ucap Bagas panjang lebar dengan nada dingin.
"Sampaikan pada Tamara, saya tidak tertarik wanita yang tidak tahu sopan santun dan punya maksud terselubung menikah dengan saya" sambung Pramudya dengan wajah penuh kebencian. "Masih bagus saya dan Oom Bagas tidak... Ralat, belum menuntut Tamara dengan pasal kekerasan !"
Hamid menahan emosinya karena sebenarnya dirinya juga ingin seperti keluarga Karim yang berhasil menikahkan putrinya dengan Hoshi Reeves hingga masuk ke circle keluarga Sultan itu. Atau keluarga Baskara yang berhasil menikahkan putranya dengan putri Bara Giandra.
"Baiklah, jika demikian. Terima kasih anda sampai sekarang belum menuntut Tamara" ucap Hamid pada akhirnya.
Bagas dan Pramudya saling berpandangan.
***
Rumah Kediaman Keluarga Hamid
Tamara berteriak kesal karena baik Bagas maupun Pramudya sama-sama menolak usulan ayahnya.
"Bagaimana mereka menolak?" bentak Tamara ke ayahnya.
"Papa juga kesal !" ucap Hamid yang sudah membayangkan akan mendapatkan kerjasama dengan keluarga klan Pratomo itu.
"Apa karena cewek yang tidak tahu malu itu, yang masuk circle mereka?"
"Maksud kamu? Yang kamu pukul itu?" Hamid menatap putrinya.
"Akan aku cari tahu siapa dia ! Tidak mungkin Pramudya tiba-tiba mendapatkan wanita secepat itu ! Pasti ada sesuatu yang mencurigakan..." Tamara tampak berpikir. "Aku harus dapat informasi soal cewek itu !"
***
Starbucks Central Park
__ADS_1
"Ya Allah Tamara ... Mbok ya sudah. Pramudya tidak mau lah kalau kamu pakai caranya begitu ..." ucap Juned.
"Tidak bisa Jun. Eh elu ada kenalan detektif gitu nggak?" Tamara menatap penuh harap.
"Cari saja sendiri !" jawab Juned yang tidak mau pertemanannya dengan Pramudya semakin meruncing gara-gara Tamara. Sekarang saja dirinya dan Pramudya jarang hang out, ditambah nanti dia bantu Tamara... Apa nggak semakin jauh berteman nya.
"Ya sudah ! Aku cari sendiri !" balas Tamara judes.
***
Usaha Tamara tidak sia-sia dan dirinya mendapatkan seorang detektif swasta dan dengan bantuan wajah Zara saat di pesta ulang tahunnya, detektif itu berusaha mencari tahu tentang Zara.
Detektif itu berhasil mendapatkan informasi Zara yang dirawat di PRC Group lalu punya seorang nenek yang harus melakukan cuci darah di sebuah rumah sakit negeri dan swasta tergantung BPJS yang dimiliki.
Selama seminggu Zara dirawat di PRC Group dan Pramudya tidak pernah absen menungguinya meskipun malam harus diusir pulang oleh Zara. Detektif tersebut bisa mendapatkan banyak foto-foto Zara dan Pramudya karena menyamar kadang sebagai orang yang hendak membesuk atau sebagai petugas cleaning service.
Mendapatkan bayaran tinggi dari Tamara Hamid, membuatnya bekerja penuh totalitas. Hingga waktunya Zara pulang dan mereka diantar oleh Andrea karena Pramudya harus ke luar kota.
Pria itu mengikuti mobil Andrea hingga ke rumah Zara dan menunggu sampai Andrea pergi. Baru setelah itu dia mulai menggali informasi tentang Zara dan neneknya Aisyah lebih dalam lagi sampai ke Martina, rekan kerja Zara di mini market.
Saat Pramudya dan Zara melakukan transaksi, pegawai itu mendengar semua percakapan keduanya. Detektif itu pun segera memberitahukan hasil penyelidikannya kepada Tamara.
***
"Jadi... Mereka hanya kekasih kontrak?" kekeh Tamara.
"Benar nona Tamara. Saya mendapatkan informasi itu dari saksi yang kredibilitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan ada CCTV nya juga sebagai bukti." Detektif itu memberikan foto-foto hasil gambar CCTV yang dia minta dari pegawai kopi tersebut dengan memberikan imbalan.
Tamara tersenyum licik. "Baguslah ! Dengan begitu, aku bisa membuatnya lebih tertekan lagi. Akan aku permalukan Pramudya !"
"Tugas saya sudah selesai kan nona Tamara?" tanya Detektif itu.
"Sudah. Kerjamu bagus !"
__ADS_1
***
Kantor Pusat Bank Arta Jaya Gatot Subroto Jakarta
Hari ini adalah rapat umum para pemegang saham Bank Arta Jaya yang dihadiri oleh para orang-orang penting dan partner bisnis bank milik keluarga Hadiyanto termasuk Hoshi Reeves, Freya Sky Lexington dan Dewananda Hadiyanto pun datang. Hoshi dan Freya mewakili PRC Group dan MB Enterprise milik keluarga Pratomo.
Bagas Hadiyanto menjadi Central dalam rapat itu sebagai CEO dan pemilik Bank. Pria berkharisma itu memberikan semua hasil evaluasi dua semester awal tahun ini yang mendapatkan laba sangat signifikan.
Semua orang sedang konsentrasi dengan laporan Bagas, ketika tiba-tiba pintu ruang pertemuan terbuka dan semua orang bisa melihat Tamara Hamid berdiri disana.
"Maaf nona Hamid, ini rapat tertutup" ucap Genta dan Ragil yang langsung menghalangi Tamara.
"Aku hanya ingin bilang sesuatu pada mas Pramudya." Tamara melihat ke arah Pramudya. "Aku tahu siapa Zara ! Dia cewek bayaran kan? Sampai segitunya ya kamu mau lepas dariku ? Mengajak seorang cewek gembel buat dijadikan Cinderella ! Hahahaha... Mas Pram... Mas Pram... Bagaimana kalau neneknya tahu cucunya macam Pela*cur demi mendapatkan uang untuk cuci darah !" teriak Tamara yang akhirnya diseret oleh Genta dan Ragil keluar dari ruang pertemuan itu.
Wajah Pramudya langsung memucat membuat Dewa dan Bagas menatapnya tajam termasuk semua orang di ruang meeting itu.
"Pak Bagas... Saya bisa jelaskan" ucap Pramudya pada akhirnya. Bagas hanya memberikan kode just shut it.
"Mohon maaf hadirin sekalian. Tahu kan bagaimana wanita kalau cemburu... Segala cara dilakukan termasuk melakukan fitnah demi mendapatkan apa yang diinginkan... " senyum Bagas. "Basic instinct manusia itu bukan saja makan, minum dan hubungan intim tapi juga keinginan mendapatkan reward. Seperti yang dilakukan gadis itu. Oke anggap saja drama Korea abal-abal... Anda semua tahu kan selalu ada bumbu dalam drama yang membuat kita terkejut. Macam kejadian tadi..."
Semua orang tertawa.
"Baik, kita lanjutkan rapat hari ini. Sudah cukup intermezzo sebelum kita membahasa keuntungan kita enam bulan ini..." lanjut Bagas.
Pramudya tidak bisa konsentrasi dan Dewa bisa melihat bahwa wajah sepupunya itu tampak cemas.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️