
Ruang Rawat Inap Zara
"Zara..." panggil Anarghya pelan.
Zara buru-buru mengusap air matanya dan tersenyum ke arah Anarghya. "Silahkan masuk dokter Arga."
Anarghya pun masuk ke dalam sambil memeriksa layar monitor di samping tempat tidur Zara. "Detak jantungmu berantakan, Zara..."
"Saya... Emosi..." jawab Zara.
Anarghya lalu memeriksa semuanya lengkap termasuk tensi nya karena jika terlalu tinggi, harus menunda memberikan obat antibiotik.
"Zara, boleh saya bicara sama kamu?"
"Dok, jika anda hendak membela keponakan anda, maaf. Saya tidak mau mendengar apapun soal keluarga Pak Pramudya Hadiyanto."
"Zara, saya tahu kamu merasa bahwa dunia runtuh dengan semua kehilangan yang kamu alami. Tapi Pramudya tidak menginginkan itu. Pramudya tidak akan mengira akan seperti ini..."
"Jika saya tidak bertemu dengan pak Pram, jika saya tidak setuju soal kontrak itu, jika saya... " Zara menengadahkan wajahnya. "Semua itu hanya 'jika' tapi semuanya sudah terjadi... Kita tidak bisa membalikkan waktu..."
"Yang bisa kamu lakukan adalah move on... " ucap Anarghya. "Aku ceritakan suatu cerita." Pria itu mengambil kursi dan duduk di sebelah Zara. "Aku punya eyang buyut bernama Nabila Pratomo. Saat dia SMA, dia mengetahui ada tumor di rahimnya dan harus diangkat karena cenderung agresif. Saat itu Oma Nabila masih SMA...."
Zara melongo. "Semuda itu sudah tidak punya rahim?"
Anarghya mengangguk. "Dan Oma Nabila sudah siap jika dirinya tidak akan menikah karena tidak semua pria mau menikahi wanita yang tidak bisa memiliki anak kan?"
Zara mengangguk. "Lalu apa yang terjadi?"
"Oma Nabila berprofesi dokter bedah, sama dengan aku, bertemu dengan sesama dokter bedah juga bernama Mike Cahill. Well sebenarnya bertemu tidak sengaja karena Oma Nabila menolong ayah dokter Mike yang kena tembak. Mereka berdua itu akhirnya pacaran lalu menikah dan Opa Mike tidak mempermasalahkan mereka tidak memiliki anak karena mereka berdua sama-sama tukang pindah - pindah sebagai bagian Doctors Without Border." ( Baca Just The Way You Are ).
__ADS_1
"Apa itu doctors without Borders?" tanya Zara.
"Salah satu cara dokter mengamalkan ilmunya ke berbagai negara konflik atau negara yang membutuhkan tenaga kesehatan setelah terjadi bencana alam, peperangan atau pandemi. Mereka tidak melihat dari negara mana karena inti dari misi mereka adalah memberikan pengobatan kepada orang yang membutuhkan."
Zara mengangguk.
"Intinya adalah kamu masih memiliki ovarium yang sehat, rahim yang sehat... Aku yakin, ada pria macam Opa Mike Cahill yang tulus mencintai... Yang open minded bahwa tidak memiliki anak bukanlah musibah...Kamu bisa punya anak, Zara... Insyaallah..." Anarghya menatap lembut ke Zara. "Oma Nabila tidak memiliki rahim tapi dia sangat positif dalam mengahadapi hidup, kamu pun bisa."
Zara tampak termenung mendengar kan ucapan Anarghya. "Seperti... Apa... Oma Nabila?"
Dokter bedah itu mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto Nabila dan Mike.
"Oma Nabila... Cantik..." senyum Zara. "Wajahnya tampak bahagia ..."
"Karena Oma Nabila selalu berpikir positif... Jadi auranya bagus. Semua membutuhkan proses, Zara. Tapi alangkah baiknya kamu mengambil pelajaran dari Oma Nabila. Be positive dan percayalah, Allah sudah mengatur semua ini dan akan memberikan kebahagiaan kepada umat-Nya ..."
Anarghya menepuk kepala Zara lembut. "You need time.... Karena kejadian ini baru saja terjadi... Berbicara itu mudah memang, menjalani nya yang sulit... Yakin kamu bisa melewatinya Zara."
Zara mendongak. "Anda percaya itu Dok?"
"Saya percaya itu, Zara."
***
Pramudya tampak termenung di cafetaria sedangkan Oma Angela menatap cucunya dengan wajah prihatin. Mereka berdua tahu bagaimana terlukanya Zara yang boleh dibilang kehilangan hampir semuanya.
"Pram..."
Pramudya memandang Oma Angela. "Oma... Apakah aku pembawa sial?"
__ADS_1
Oma Angela terkejut. "Siapa yang bilang?"
"Zara."
Oma Angela memegang tangan Pramudya. "Sayang, kamu itu bukan pembawa sial... Hanya saja situasinya tidak menguntungkan bagimu. Kita tahu kan Zara harus melampiaskannya semua emosinya?"
"Tetap saja Oma... Zara mengatakan aku adalah Jinx..." Pramudya menunduk.
Oma Angela menghela nafas. "Kalau Oma bilang ini adalah suratan takdir yang sudah digariskan, terdengar klise tapi itu kenyataannya. Kita semua sudah dituliskan sejak usia empat bulan dalam kandungan. Kamu usia segini, kedua orang tuamu meninggal. Kamu bertemu dengan Zara, itu juga sudah tertulis. Kejadian yang kemarin, itu pun sudah ada. Mau bilang andaikan, misalkan, jika tapi kalau Allah sudah menggariskan... Kita mau bilang apa..."
"Aku sangat sedih Oma..." Pramudya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Zara jauh lebih sedih. Tugas kamu sekarang adalah, memenuhi permintaan almarhum Nenek Aisyah saat kalian di rumah tempat kamu sembunyikan mereka berdua. Bukankah kamu telah berjanji akan melindungi Zara? Itu wasiat lho Pram" ucap Oma Angela.
"Aku takut kalau Zara menolak aku..."
"Berikan dia waktu tapi kamu... Jangan kasih kendor untuk terus menemui nya dan membantu penyembuhannya..."
Pramudya menatap Oma Angela "Akan aku usahakan Oma..."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1