
Ruang ICU RS PRC Group Jakarta
Zara menatap tubuh Martina yang berada di tempat tidur ruang ICU dengan berbagai macam kabel, selang dan alat kesehatan lainnya menempel di tubuh langsingnya. Martina mengalami gegar otak, patah tulang rusuk, patah tulang paha kanan dan hatinya pecah.
Kondisi itulah yang membuat Martina menjadi koma dan belum bisa diprediksi bagaimana akibat dari gegar otak gadis itu. Safira dan Anarghya sudah berhasil mengurangi pendarahan di otak tapi tidak berani memprediksi after the surgery.
Ibu dan adik Martina yang dikabari oleh polisi, datang ke rumah sakit dan bersama Zara saling berpelukan dan bertangisan. Pramudya mengatakan pada ibu Martina bahwa semua biaya pengobatan akan ditanggung olehnya sampai Martina sadar dan melakukan fisioterapi.
"Tapi mas Pramudya, itu biaya yang tidak sedikit..." ucap ibu Martina.
"Tidak apa-apa Bu. Saya ikhlas Bu..." ucap Pramudya.
"Bagaimana ceritanya ini Zara?" tanya Ibu Martina.
"Aku dan Martina sedang menyebrang mau ke plaza Senayan... Tiba-tiba ada motor kencang main belok dan Tina mendorong aku tapi dia yang tertabrak... Maafkan aku Tante... " Zara menangis lagi.
Ibu Martina memeluk Zara erat. "Bukan salah kamu, nak... Bukan salah kamu... Ini musibah..."
Pramudya melihat bagaimana Zara tampak sangat terpukul melihat teman kerjanya berjuang hidup dan dirinya selamat, pasti dia merasakan rasa bersalah yang sangat dalam.
"Pram..." panggil Genta. "Aku sudah mendapatkan informasi. Oom Toro dari forensik sudah mendapatkan semua CCTV di jalan."
"Kita ke kantor polisi sekarang" ucap Pramudya. "Zara, Bu Hesti, dik Martin, saya permisi dulu karena hendak mengurus semuanya di kantor polisi."
"I...iya mas Pramudya... Tolong, tangkap yang nyetir ugal-ugalan hingga menabrak Tina dan Zara" pinta ibu Martina.
"Pasti Bu... Pasti..." jawab Pramudya.
***
Sementara itu di sebuah daerah pinggiran rel kereta dekat stasiun Pasar Senen...
"Dasar kamu bodoh ! Yang tertabrak itu bukan Zara ! Tapi temannya !" bentak orang itu sambil mengisap rokoknya dengan gugup.
"Gadis itu mendorong Zara dan aku hendak menabrak Zara tapi orang-orang sudah pada berkumpul jadi aku kabur saja" jawab pria itu. "Setidaknya dia luka cukup lumayan..."
"Luka cukup lumayan itu tidak cukup ! Aku ingin Zara mati ! Dasar kamu tidak berguna !"
CRRAAAKKK!
Pria itu terkejut ketika sesuatu menusuk dadanya dan sedetik kemudian kesadarannya mulai menghilang. Pria itu pun jatuh ke tanah dan orang itu mengambil dompet pria itu lalu membuka sarung tangan plastik hitamnya dan mantel plastiknya yang bernoda darah.
Orang itu menuju ke sebuah tong sampah besi dan membakar mantel serta sarung tangannya. Wajahnya tampak tenang meskipun baru saja membunuh seseorang.
"Jika kamu ingin semuanya beres, lakukanlah sendiri !" monolognya.
***
Kantor Polisi Metro Jakarta Pusat
"Jadi ini posisi Zara dan Martina ..." ucap Toro yang duduk bersama Jimmy atau biasa dipanggil Jimbong, ahli forensik yang merupakan sahabat David Hakim Satrio, Oom jauh Pramudya.
__ADS_1
"Mereka menyebrang dan dari sini sebuah motor langsung ngebut. Tujuannya memang menabrak kedua gadis itu ... Hanya saja aku tidak tahu yang mana" gumam Toro.
"Zara... Aku yakin dia mengincar Zara, Oom" ucap Pramudya tegas.
Pramudya Hadiyanto
"Tapi... Kenapa Pram?" tanya Jimbong.
"Aku tidak tahu ... Tapi aku yakin dia mengincar Zara..." Entah mengapa perasaan Pramudya mengatakan demikian. "Apakah bisa diketahui nomor plat atau wajahnya?"
"Sayangnya dia memakai helm full face jadi aku tidak bisa mengenalinya" ucap Toro.
"Plat nomornya juga palsu..." timpal Jimbong.
"Harus dicek atas namanya Jim" ucap Toro.
Pramudya dan Genta saling berpandangan.
Suara ketukan di pintu, membuat keempatnya menoleh.
"Maaf pak, tapi ada kasus..." ucap seorang petugas kepolisian.
"Kasus apa Sersan?" tanya Jimbong.
"Pembunuhan dengan penusukan di dekat stasiun Pasar Senen..." jawab Sersan itu.
"Terima kasih Oom atas bantuannya" jawab Pramudya yang bersama Genta berpamitan untuk pergi.
"Oh Pram... Tante mu Anandhita, jaga nggak di PRC ?" tanya Toro dengan wajah penuh harap membuat Jimbong melengos.
"Tante Dhita? Kayaknya kok nggak Oom. Kenapa?" jawab Pramudya bingung.
"Bilang sama Neng Didit, ditunggu Aa' Toro makan siang besok di kantin RSCM..." senyum Toro membuat Pramudya dan Genta melongo.
"Kenapa Oom Toro tidak telpon sendiri?" tanya Pramudya bingung.
Toro memasang wajah sedih. "Nomor Oom di blokir..."
***
RS PRC Group Jakarta
Hesti, ibu Martina dan Zara tampak masih menunggu Martina di ruang tunggu. Safira yang mengetahui ibu Martina datang, membawakan makanan untuk makan malam.
"Bagaimana kondisi Tina, dok?" tanya Hesti.
"Selama stabil, insyaallah aman Bu. Kita memang belum lepas dari kritis ... Tapi melihat kondisi Martina stabil, kita bisa berharap lebih Bu... Banyak doa dan insyaallah doa ibu akan membuat Martina kuat..." Safira memegang tangan Hesti. "Yakin Bu, orang yang melakukannya, akan mendapatkan balasannya."
"Aamiin. Terima kasih dokter Safira..."
__ADS_1
Safira memeluk Hesti yang menangis lagi.
***
TKP Pembunuhan di pinggiran rel Pasar Senen
"Jimbong, itu motor yang dipakai pelaku..." ucap Toro yang melihat motor RX King yang terparkir.
"Lihat... Ada jejak mobil juga. Baru..." ucap Jimmy.
"Kita harus mengkoleksi semua bukti. Dan aku yakin tidak ada sidik jari disana... Maksud aku di pisau nya..." sahut Toro.
Jimmy menyusuri lokasi dengan teliti dan menemukan bekas sesuatu dibakar di dalam tong sampah.
"Dan hilang lah barang bukti kita terbakar di tong sampah..." gumam Jimmy kesal.
Toro memperhatikan sekitarnya dan tidak menemukan CCTV. "Duh, kita harus mencari CCTV di parkiran dan dimana saja agar bisa tahu mobil yang mendekati lokasi ini."
Jimbong lalu meminta para anggota kepolisian untuk mengumpulkan semua rekaman CCTV dari sekitar stasiun Pasar Senen.
***
Kediaman Keluarga Hadiyanto
Pramudya baru saja selesai mandi saat telepon nya berbunyi dan pria itu melihat nama Toro di layar.
"Ya Oom Toro?" sapa Pramudya.
"Pram, maaf Oom memberikan kabar buruk."
"Apa itu Oom?" tanya Pramudya.
"Ingat kamu tadi sebelum pulang, ada kasus pembunuhan?"
"Iya."
"Korbannya adalah si pelaku penabrakan Martina dan Zara. Orang itu pelakunya, Pram. Motornya ada dan semuanya yang kita lihat tadi, ada semua. Yang kurang satu, dompetnya sudah terbakar dan sedang kami rekonstruksi. Kami sedang menunggu hasil sidik jarinya di Samsat. Maaf Pram, pelakunya tewas ditusuk dengan pisau dapur ..." ucap Toro.
Pramudya hanya bisa terdiam karena tidak tahu harus berkata apa.
Ya Allah.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1