Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Pindah


__ADS_3

Keesokan Harinya, di rumah sakit Bhayangkara, kamar mayat


Pramudya dan Genta akhirnya mendapatkan informasi siapa orang yang hendak mencelakakan Zara dan Martina. Toro dan Letnan Arman, yang ditunjuk sebagai penyidik, membeberkan siapa pria itu.


"Namanya Bandot ..." jawab Letnan Arman membuat Pramudya dan Genta melongo.


"Bandot? Kambing?" tanya Genta.


"Nama panggilannya di penjara. Nama aslinya Mukhlis tapi panggilannya memang Bandot. Dia memang residivis, bolak balik masuk penjara dan baru bebas dua Minggu lalu. Kata istrinya, dia mendapatkan pekerjaan dua hari lalu dan bayaran nya lumayan, sekitar 20juta dan uangnya ada di tangan istrinya sebagian" papar Letnan Arman.


"Apakah istrinya tahu pekerjaan yang ditawarkan apa?" tanya Pramudya.


"So far, setahunya, disuruh nagih hutang. Terkadang Bandot jadi debt collector gitu di pasar..."


Pramudya dan Genta saling berpandangan. "Apakah sudah tahu siapa pembunuhnya?" tanya Pramudya.


"Aku rasa pembunuhnya adalah seorang wanita" jawab Toro.


"Wanita?" seru Pramudya dan Genta terkejut. Entah mengapa Pramudya merasa Tamara di balik semua ini.


"Iya, wanita."


Keempat pria itu menoleh dan tampak dokter forensik manis mengenakan hijab keluar dari ruang autopsi.


"Halo Genta..." sapa dokter muda itu. "Halo Pramudya."


Genta pun melengos sedangkan Pramudya melongo melihat siapa dokter itu.


"Olivia?" seru Pramudya melihat teman SMA dulu. "Aku tidak tahu kamu jadi dokter forensik..."


Keduanya saling bersalaman. "Genta, kagak salaman sama Olivia..." goda Pramudya karena dulu jaman SMA mereka pernah bersama tapi karena Genta tukang berantem, ayah Olivia tidak setuju.


"Hai..." jawab Genta pendek.


"Gimana Liv. Pembunuhnya perempuan?" tanya Pramudya.


"Hasil pemeriksaan begitu Pram. Aku bisa melihat kedalaman tusukan itu. Beda tenaga antara tenaga pria dan wanita." Olivia mengambil iPad nya. "Pembunuhnya tahu letak jantung dan dia lebih pendek dari korban dilihat dari Arah tusukannya keatas. Coba kamu dan Genta. Kamu tusuk Genta yang lebih pendek dari kamu..."


Pramudya pun merekonstruksi dan bisa dilihat arah tusukannya. Begitu juga saat Genta menusuk Pramudya.


"See, kamu nusuk Genta itu arahnya menurun sedangkan Genta arahnya naik. Bisa kamu bedakan posisinya" ucap Olivia. "Dan, meskipun dengan sekuat tenaga, tetap kedalaman antara tusukan pria dan wanita itu berbeda."


Pramudya menatap semua orang disana dengan perasaan cemas. Jika memang Tamara pelakunya, bukan tidak mungkin dia akan melakukan lebih daripada ini ke Zara !

__ADS_1


"Terimakasih informasinya tapi aku harus pergi..." Pramudya menyalami semua orang dan Genta bisa melihat Bossnya tampak panik.


"Permisi semuanya ... " Pramudya bergegas pergi meninggalkan ruang autopsi RS Bhayangkara diikuti Genta.


"Pram kenapa?" tanya Olivia. Toro dan Letnan Arman menggelengkan kepalanya.


***


"Pram.. Pram ! Elu kenapa?" tanya Genta sambil mengimbangi jalan Pramudya yang cepat.


"Aku rasa yang membunuh Bandot itu Tamara, Gen..." jawab Pramudya dengan nafas memburu.


"Apa?" seru Genta.


"Iya. Aku rasa, Tamara lah di balik semua ini !" Pramudya langsung masuk ke dalam mobil Range Rover nya. "Gen, apa ada rumah milik keluarga Hadiyanto yang tidak terpakai?" tanya Pramudya sambil menstater mobilnya.


"Aku Carikan dulu. Buat Zara dan neneknya?" balas Genta sambil membuka ponselnya.


"Iya. Aku harus memindahkan Zara dari rumah nya. Bukan tidak mungkin Tamara akan berbuat nekad !" ucap Pramudya sambil menjalankan mobilnya.


***


RS PRC Group Jakarta


Tapi mengapa ? Aku tidak merasa pernah berbuat jahat sama orang lain. Zara mengusap air matanya dan melihat Dokter Anarghya Giandra datang menghampirinya.


"Zara, kamu nggak pulang?" tanya Dokter Anarghya.


"Sudah pulang tadi subuh tapi saya kembali lagi. Nenek juga mengkhawatirkan Tina..." jawab Zara.


"Kamu pulang deh... Martina biar kami yang rawat" senyum Anarghya.


Zara hendak mengucapkan sesuatu tapi matanya melihat Pramudya datang bersama Genta dengan wajah panik.


"Zara ! Kamu ikut pulang sama saya ! Sekarang !" perintah Pramudya membuat Zara bingung.


***


Perjalanan Ke Rumah Zara


"Tapi pak Pram. Apa bapak yakin kalau Tamara di balik semua ini?" tanya Zara saat mereka sudah ada di dalam mobil Pramudya. Genta yang menyetir sedangkan Pramudya dan Zara duduk di kursi tengah.


"Aku yakin Zara. Nyawamu dalam bahaya dan begitu juga dengan nyawa nenek kamu ! Wanita itu gila, Zara ! Dia sudah berusaha mencelakakan kamu dan gagal ! Bukan tidak mungkin dia akan melakukannya lagi sampai tujuannya tercapai..." jawab Pramudya penuh kesungguhan.

__ADS_1


Zara tampak berpikir. "Lalu bapak hendak menyembunyikan kami kemana?"


"Kami ada rumah dekat rumah sakit tempat kamu bisa mengantarkan nenek cuci darah. Jadi kamu jangan khawatir. Tidak ada yang tahu rumah itu, kecuali keluarga Hadiyanto karena itu adalah aset keluarga kami. Kamu pakai saja semua fasilitas nya..."


"Sampai kapan pak?" tanya Zara cemas.


"Sampai semuanya aman dan Tamara terbukti sebagai pelaku utamanya."


***


Rumah Zara


"Jadi ada yang mau mencelakakan Zara dan Martina?" tanya Nenek Aisyah saat Pramudya dan Genta datang.


"Iya nek. Maaf saya membuat repot banyak orang..." Pramudya menatap nenek Aisyah dengan segan dan ada rasa bersalah disana.


Nenek Aisyah merasa marah tapi melihat wajah Pramudya yang tampak bersalah dan ada kecemasan disana, membuat wanita paruh baya tersebut tahu, pria muda di hadapannya ini tidak main-main. Mau minta bantuan polisi juga mau sampai kapan.


"Bagaimana Nek?" tanya Zara.


"Ya sudah. Kita bereskan baju... Bawa saja secukupnya..."


"Yang banyak sekalian agar kalian tidak bolak balik" pinta Pramudya. "Oh Genta, bilang sama manajernya Zara, kalau dia resign. Maaf mendadak... Nanti aku kasih kompensasi nya kalau memang ada."


Genta mengangguk lalu berjalan menuju mini market tempat kerja Zara.


"Nak Pramudya kerja dimana ?" tanya Nenek Aisyah. Selama ini Pramudya menutupi tempat bekerjanya.


"Saya? Saya bekerja di bank Arta Jaya Nek ..."


"Jadi apa?"


"Saya salah satu CEO nya ..." jawab Pramudya pelan membuat nenek Aisyah menatap tajam ke Zara yang menundukkan wajahnya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2