Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Juned


__ADS_3

Ruang Pengadilan, Sidang kedua


Hari ini Zara sudah lebih siap untuk menghadiri sidang kedua. Sidang kali ini beragendakan kasus tabrak lari yang menimpa Martina dan Zara namun baru Martina yang akan maju bersama dengan polisi yang berada di tempat kejadian perkara depan Plaza Senayan serta beberapa satpam dan pengunjung yang melihat kejadian tersebut.


Rata-rata mereka semua mengatakan hal yang sama, seorang pria naik motor trail hendak menabrak gadis berbaju biru ( Zara ) namun gadis berbaju pink ( Martina ) mendorong gadis berbaju biru hingga dirinya tertabrak.


Semua pernyataan para saksi didukung dengan rekaman CCTV yang berada di jalan raya, pintu masuk plaza Senayan dan yang ada diatas gerbang sebelum tempat tiket kendaraan.


Zara menatap ke arah Martina yang duduk di kursi saksi untuk ditanyai baik oleh jaksa penuntut umum maupun pengacara Tamara. Jawaban Martina tidak berubah meskipun pengacara Tamara berusaha membuatnya bingung.


"Saya melihat motor itu tiba-tiba menginjak gas begitu saya dan Zara berjalan mendekati pintu masuk mobil dan motor. Kami dalam posisi baru saja turun dari bis trans Jakarta." Pernyataan Martina tetap sama. "Saya langsung mendorong Zara hingga saya yang tertabrak dan setelahnya saya tidak ingat apa - apa lagi."


"Apakah saudari melihat wajah penabraknya?" tanya pengacara Tamara.


"Saya tidak memperhatikan wajahnya karena menggunakan helm full face. Tapi motornya ada nomor 34 UZ di belakangnya. Seingat saya itu" jawab Martina.


"Terima kasih saudari Martina" ucap pengacara itu.


Martina menghela nafas panjang saat selesai menjawab pertanyaan bertubi-tubi. Matanya melirik ke arah Tamara yang tampak tidak ada emosi disana, seperti semua ini macam film yang membosankan. Martina menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir ada orang yang sangat-sangat tidak memiliki perasaan dan empati sama sekali.


"Saudari Martina" panggil Jaksa penuntut umum.

__ADS_1


"Iya tuan jaksa?"


"Saya memperlihatkan kembali kejadian saat itu. Saya meluruskan pernyataan anda. Jadi motor itu nomor polisinya 34 UZ. Benar?"


"Ya. Saya melihat sekilas sebelum kesadaran saya hilang" jawab Martina tegas.


"Tuan hakim, saya memperlihatkan nomor polisi motor yang menabrak." Jaksa penuntut umum memutar kembali rekaman CCTV dan semua orang terkejut saat pria itu mempause gambar motor itu dengan plat B 134 UZ.


"Bukti di CCTV sinkron dengan pernyataan saksi, tuan hakim. Jadi memang benar, motor dengan nomor polisi B 134 UZ yang terdaftar atas nama tuan Juned, digunakan sebagai alat percobaan pembunuhan."


Pramudya dan Zara terkejut. Bagaimana motor itu menjadi milik Juned ? Keduanya menoleh ke arah Tamara yang tersenyum sinis.


"Astaghfirullah... Dia juga menyeret Juned ?" bisik Pramudya ke Zara.


***


Juned dipanggil sebagai saksi berikut nya dan dia mengakui bahwa motor itu dibeli atas namanya.


"Tamara ingin memiliki motor itu tapi karena dia tidak mau kena pajak progresif, dia meminta memakai nama saya dan karena saya tidak memiliki motor, jadi saya iyakan" jawab Juned.


"Jadi motor itu...?"

__ADS_1


"Saya beli secara tunai dan langsung dibawa pulang Tamara." Juned menoleh ke arah Tamara. "Tega kamu ya !"


"Saudara Juned, harap tenang" tegur Hakim ketua.


"Maaf tuan hakim, tapi dia memang keterlaluan !" geram Juned.


"Saudara Juned. Ini teguran kedua. Anda jangan berbicara tanpa diminta jaksa penuntut umum atau pun pengacara. Paham?"


"Paham tuan hakim..." jawab Juned sambil menoleh ke arah Pramudya.


Pramudya dan Zara menatap kasihan ke Juned karena ikut terlibat padahal dia tidak tahu apa-apa.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Maaf pendek... Kena aji sirep ini


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2