Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Psikopat


__ADS_3

Port Market Tel Aviv Israel


"Mas Pram..." panggil Tamara dengan tangannya yang diborgol di belakang punggungnya.


Pramudya menghampiri Tamara. "Kalau aku tidak ingat aku berada dimana, sudah habis kamu !" desis pria itu penuh kebencian.


"Mas, itu semua hanya fitnah !" ucap Tamara.


"Fitnah? Fitnah?! Masih bisa berkelit kamu! Kamu yang fitnah aku ! Kamu memakai mobilku sebagai alat pembunuhan! F*** YOU !" bentak Pramudya membuat Tamara terkejut.


"Kita bawa segera ke Jakarta, biar diproses hukum" potong Letnan Arman karena melihat bagaimana Pramudya mengontrol tangannya sebab kalau tidak, dia bisa meninju Tamara.


"Bawa saja Letnan Arman ! Kalau perlu, lakban mulutnya ! Saya tidak mau mendengar sepatah kata pun dari mulut manusia sampah ini !" balas Pramudya dengan penuh kebencian.


***


Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta


Setelah menempuh perjalanan selama 13 jam, akhirnya pesawat milik keluarga Hadiyanto tiba di Jakarta. Tamara pun langsung digelandang di kantor polisi dan ditahan disana sembari menunggu proses penyidikan esok pagi karena mereka tiba menjelang tengah malam di Jakarta.


Pramudya pun pulang ke rumah setelah dijemput Genta, begitu juga dengan Dewa dan David yang pulang ke rumah masing-masing setelah dijemput Lucky, sopir Dewa dan Anandhita, istri David.


Pramudya langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri namun di bawah shower, pria itu menangis untuk melampiaskan semua emosinya. Pramudya bukan pria cengeng tapi semua kejadian yang terjadi tiga bulan terakhir ini, menguras semua emosinya.


Sekarang yang harus aku fokuskan adalah Zara. Aku harus meyakinkan Zara, bahwa aku yang akan melindunginya, menyayanginya dan mencintainya. Meskipun berat, tapi aku harus terus mendekati Zara. Pramudya mengusap wajahnya yang terguyur air.


Kamu harus tegas Pram !


***


Di Sel Tahanan


Tamara kedatangan seorang tamu dan wajahnya sumringah saat tahu siapa yang datang.


"Juned !" seru Tamara dari balik jeruji besi.


Juned hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu itu memang ... " Juned menghela nafas panjang. "Kan aku sudah bilang sama kamu ... Jangan nekad ! Kamu sudah lolos sekali waktu mau jebak Pramudya... Tapi kamu malah bikin perkara membuat keributan di kantor keluarga Pramudya. Dan setelahnya... Membayar orang untuk membunuh Zara? Terus kamu sendiri yang menabrak Zara dan neneknya?"


"Hei ! Semua itu tidak akan terjadi kalau mas Pramudya mau denganku !" balas Tamara judes.

__ADS_1


"Pramudya tidak mau sama kamu karena kamu itu psikopat !" balas Juned.


"Semua ini salah mas Pramudya ! Salah gadis si@l@n itu ! Gara-gara dia, mas Pram jadi berpaling dariku !" eyel Tamara.


"Jangan salahkan Zara ! Dia tidak tahu apa-apa! Bahkan dialah korban sebenarnya ! Korban Pramudya, korban kamu !" bentak Juned yang marah ke Tamara. "Tam, kamu dulu tidak seperti ini... Tapi setelah pulang di Amerika, kenapa jadi seperti... Salah pergaulan..."


"Aku kan memang seperti ini !"


Juned menggelengkan kepalanya lagi. "No, Tam, kamu dulu gadis baik-baik meskipun aku tahu kamu memang dimanjakan oleh Oom Hamid tapi aku tidak menyangka kamu bisa sejahat ini..."


"Dengar Juned ! Kalau kamu baik terus, kamu akan kalah ! Tidak mendapatkan apapun !"


"Lalu? Apakah kamu mendapatkannya? Kamu dipenjara, Pramudya di luaran tanpa mau memperdulikan kamu dan aku yakin, Pramudya akan meyakinkan Zara bersamanya. Tapi kamu? Kamu akan membusuk di penjara ! Hukuman di Indonesia hanya ada dua ! Seumur hidup atau mati ! Tapi aku berharap kamu dihukum seumur hidup agar setiap hari kamu bisa menyesali semua hasil perbuatan kamu !" balas Juned pedas.


"Kamu memang teman tidak tahu diuntung !" bentak Tamara.


"Apa? Soal mobil darimu? Akan aku jual bersama dengan mobil Pramudya yang kamu pakai sebagai alat kejahatan usai selesai diperiksa forensik dan barang bukti di persidangan nanti."


Mata Tamara berkilat marah. "Brengseeekkk kau !"


"Kamu yang brengsek, Tamara ! Bahkan ayahmu sendiri tidak akan kembali ke Indonesia untuk melihat persidangan kamu karena terlalu malu atas semua perbuatan kamu !" Juned melirik ke arah petugas kepolisian yang sudah memberikan kode bahwa waktunya habis.


Pria itu menatap Tamara. "Good bye Tam, kita akan bertemu saat persidangan." Juned pun berjalan meninggalkan sel Tamara.


Namun Juned tetap melangkah lurus ke depan tanpa menoleh ke belakang, mengacuhkan teriakan Tamara.


***


Ruang Rawat Inap Zara di RS PRC Group Jakarta


Zara merasa ada seseorang yang memandangi dirinya dan perlahan membuka matanya. Pengaruh dari obat yang dimasukkan ke dalam infusnya, membuatnya mengantuk hingga tadi dia pun terlelap usai makan pagi.


Mata hitamnya melihat Pramudya duduk di kursi sebelah tempat tidurnya sambil mengatupkan kedua tangannya diatas pinggir tempat tidur dan dahinya bersandar di tangannya. Pria itu tampak terpejam seperti dirinya lelah luar biasa hingga membuat hati Zara mendesir..


Pasti dia capek sekali sepulang dari Israel.


"Pak Pram..." panggil Zara membuat Pramudya terbangun.


"Ka...kamu sudah bangun?" ucap Pramudya dengan nada serak.

__ADS_1


"Pak Pram kok kemari? Bukannya harusnya istirahat setelah dari Israel ya?"


Pramudya terkejut. "Darimana kamu tahu aku ke Israel?"


"Dari Pak Toro dan Dokter Anandhita... Katanya pak Pram pergi bersama dengan pak Dewa, pak Letnan Arman, dan pak David buat bawa pulang Tamara."


"Iya, aku habis dari sana..." jawab Pramudya lembut.


"Bagaimana hasilnya?"


"Tamara sudah dibawa pulang dan sekarang di sel Polda Metro Jaya dibawah pengawasan ketat Oom Randy dan Letnan Arman."


Suara ketukan di pintu, membuat keduanya menoleh. Tampak Juned berdiri di sana dengan wajah sedikit kikuk sambil membawa balon bertuliskan 'Get Well Soon', bunga dan makanan.


"Halo, boleh aku masuk Pram?" tanya Juned takut-takut.


"Boleh aja Jun. Zara, perkenalkan ini Juned, biasa dipanggil Jun" senyum Pramudya ke Zara.


"Tapi... Bukankah..." Zara menatap Pramudya dan Juned bergantian.


"Iya, aku yang terkena hasutan Tamara. Maafkan aku Pram... Maafkan aku Zara...." ucap Juned sambil bersimpuh. "Kalau saja aku lebih waras dan bisa mencegah Tamara... Tidak akan ada kejadian seperti ini..."


Pramudya berdiri dan menghampiri Juned. "Berdiri Jun. Aku tidak suka melihat kamu seperti ini.. " ucap Pramudya sambil menarik tangan Juned untuk berdiri.


"I'm sorry bro. Jujur aku menyesal banget kehilangan teman seperti kamu, Pram..." jawab Juned sambil meletakkan bawaannya. "I'm sorry Zara."


Zara hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Kamu habis dari mana? Cafe kamu?" Pramudya tahu kalau Juned baru saja membuka cafe kopi dekat SMA mereka dulu.


"Pagi tadi terus aku ke Polda nengok Tamara... Serius bro, dia itu memang psikopat dan sosiopat... Aku berharap dia tidak langsung dihukum mati, tapi seumur hidup... "


"Tapi aku ingin dia dihukum mati! Hutang nyawa dibayar nyawa ! Jika hakim tidak mau menjatuhkan hukuman itu, aku sendiri yang akan membuatnya menderita!" geram Zara membuat kedua pria disana merinding.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2