Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Di Meja Makan


__ADS_3

Zara membisikkan sesuatu ke dua orang yang memegang violin membuat Pramudya yang sudah memegang mic bingung.


"Ada apa Zara?" bisik Pramudya.


"Tidak apa-apa. Mas hapal lyricnya?" Zara menatap Pramudya khawatir.


"Ada ponsel." Pramudya menunjukkan ponselnya.


"Oke. Siap?" tanya Zara ke Pramudya dan dua pemain violin. Ketiganya mengangguk dan kemudian Zara menekan tuts piano.


Tak lama suara piano dan suara Pramudya berpadu dengan violin membuat harmoni yang membuat semua orang terhanyut.


If you ever leave me, baby


Leave some morphine at my door


'Cause it would take a whole lot of medication


To realize what we used to have


We don't have it anymore


There's no religion that could save me


No matter how long my knees are on the floor (oh)


So keep in mind all the sacrifices I'm makin'


To keep you by my side


To keep you from walkin' out the door


'Cause there'll be no sunlight


If I lose you, baby


There'll be no clear skies


If I lose you, baby


Just like the clouds


My eyes will do the same if you walk away


Everyday it'll rain, rain, ra-a-a-ain...

__ADS_1


Pramudya menyanyikan lagu itu sembari menatap Zara yang memainkan piano dengan jari lentiknya. Kata-kata lagi ini sangat dalam, Zara... - batin Pramudya. Kenapa aku jadi terhanyut acara sandiwara ini?


Keduanya pun menyelesaikan lagu itu dengan tepukan meriah dan Dewa, Alina, Valentino dan Katya tidak menyangka keduanya bisa saling mengisi serta kompak dalam mempermalukan Tamara. Keempatnya melirik ke arah Tamara yang menahan amarahnya.


"Bagus banget !" puji Alina. "Aku tidak tahu kalau Zara bisa bermain piano."


Keempatnya melihat Pramudya berbisik pada Zara dan kemudian pria itu tersenyum.


"Zara akan memberikan bonus kepada nona rumah. Sayang, kamu mau main Canon in D?" Pramudya menatap Zara.


"Iya mas."


"Waktu dan tempat dipersilahkan."


Zara pun kembali menyentuh piano mahal itu dan dirinya merasa semakin semangat bermainnya karena grand piano itu sangat indah suaranya membuat Zara tidak puas-puas memainkannya terus.


Canon in D Major karya J.C. Pachelbel sebagai salah satu karya musik terbesar periode musik Barok yang ditemukan pada manuskrip Musikalische Ergötzung Jerman.


Lagu klasik yang diciptakan tahun 1680 ini sangat dikenal para pianist dan violinist karena technically nya yang sangat sulit sebab tangan kiri dan kanan sama-sama memiliki tugas yang sulit.


Pramudya melihat bagaimana Zara sangat menikmati permainannya dan pria itu teringat ucapan Andrea. Zara itu Perpaduan mutiara dan berlian, Pram. Dia memiliki banyak potensial yang tidak dia keluarkan... Kamu akan terkejut nanti. Rupanya ini yang membuat Andrea mengatakan seperti itu ... Pramudya teringat bahwa ada piano di rumah Andrea.


Ya ampun Zara... Kamu itu benar-benar berlian di kalung mutiara. Pramudya baru sadar. Canon in D major itu kan biasa dimainkan di acara pernikahan tapi ini kenapa mainnya versi rock?


Semua orang mendengar cara permainan Zara yang jauh dari lembut tapi lebih hype dan upbeat dengan modifikasi kesulitan lumayan tinggi.


Tamara semakin emosi karena maunya dia mempermalukan Zara tapi malah dia yang tercangar ( terkejut ) bahwa skill piano Zara jauh lebih tinggi darinya.


"Kamu kalah, Tam..." bisik salah satu temannya.


"Akan aku hancurkan dia !" desis Tamara.


Temannya hanya menggelengkan kepalanya. "Pramudya akan semakin membenci kamu !"


***


Zara menatap wajah Pramudya dengan sumringah membuat hati pria itu berdesir.


"Piano nya bagus banget ! I can do this all day ( aku bisa melakukannya seharian )" ucap Zara menirukan kalimat classic Captain America.


"Bahaya kalau kamu di depan piano, nggak pulang - pulang..." kekeh Pramudya sembari mengulurkan lengannya dan Zara merangkul nya dengan erat.


Keduanya tampak natural seperti sudah lama bersama padahal baru kali ini Pramudya dan Zara saling bersentuhan.


"Aku kan tidak mampu memiliki tapi ada kesempatan memainkannya, kenapa tidak?" senyum Zara sambil menatap Pramudya lekat.

__ADS_1


"Iya deh..." senyum Pramudya. Mereka pun berjalan menuju keluarga Pramudya dan sepanjang itu para tamu memuji permainan Zara dan suara Pramudya. Wajah Zara merona karena mendapatkan banyak pujian.


Padahal aslinya hanya untuk membuat nona manja itu diam tapi aku kebablasan gara-gara pianonya terlalu enak untuk dimainkan. - batin Zara.


"Waaaaahhhh, aku tidak mengira kamu bisa main Canon in D Major dengan gaya rock brutal begitu !" senyum Katya yang memang bisa bermain piano. "Aku kalah level." Wanita berdarah Spanyol itu langsung memeluk Zara.


"Iya lho. Sekali lagi, jangan judge a book from the casing..." timpal Alina yang bergantian memeluk Zara. "Aku sangat suka melihat wajah si tempayan itu berubah menjadi ungu dan macam nenek sihir !" bisik guru TK itu.


"Sayang, kamu sudah ketularan penyakit bobrok keluarga aku... " tegur Dewa yang mendengar ucapan tunangannya. "Lanjutkan !"


Pramudya dan Valentino tertawa mendengar ucapan Absurd Dewa ke gadisnya.


Seorang pelayan menemui keenam orang itu dan meminta mereka masuk ke dalam ruang makan untuk makan malam khusus bersama dengan tamu undangan VIP lainnya.


Keenamnya saling berpandangan tapi mereka pun berjalan mengikuti pelayan itu.


"Mas ..." bisik Zara.


"Ingat apa kata Andrea. Kamu itu kuat ! Tenang ada aku ! Dan juga ada Valentino yang mulutnya bisa pedas kalau sudah jengkel." Pramudya menepuk punggung tangan Zara lembut.


Keenamnya masuk dan sudah ada beberapa orang dari kalangan atas disana termasuk Irjen Randy Hutabarat yang tersenyum melihat keponakannya datang. Bagi Randy, keponakan David adalah keponakannya dia juga.


Zara duduk diantara Pramudya dan Valentino lalu bersiap untuk santap malam. Mereka berada di depan Tamara persis hingga Zara tahu jika gadis itu berusaha mempermalukan lagi dengan gala dinner yang lengkap seperti ini.


"Nona Zara, permainan pianonya bagus sekali" puji Randy yang membuat Zara tersipu.


"Terimakasih Pak..." jawab Zara malu-malu karena tahu siapa pria paruh baya tersebut dari Pramudya bernama Irjen Randy Hutabarat, Oom mereka.


"Nona Zara belajar dimana?" tanya seorang wanita dengan memakai perhiasan yang mencolok.


"Dari nenek saya. Beliau adalah guru piano dan dari kecil sejak usia empat tahun, saya sudah bermain piano."


"Orangtua nona Zara pengusaha apa?" tanya pria tua lainnya.


"Orangtua saya hanya pegawai biasa dan sudah meninggal dua-duanya. Saya hanya tinggal bersama dengan nenek saya."


Tamara menatap sinis ke Zara. "Jadi itu yang membuat kamu bisa mendapatkan mas Pramudya. Menjual kesedihan?"


Pramudya tampak geram namun Zara memegang tangannya. "Saya tidak menjual kesedihan karena bagi saya, jika boleh memilih saya ingin orang tua saya hidup bukan tewas karena kecelakaan. Seharusnya anda bersyukur nona Tamara... Memiliki orang tua dan kekayaan itu suatu anugerah. Bukan memupuk kebencian yang tidak akan ada akhirnya karena penyakit hati adalah penyakit paling berbahaya di dunia ini" jawab Zara tenang dengan tatapan lurus ke arah mata Tamara.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2