Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Aku Tidak Tahan Dengan Sikapmu


__ADS_3

Ruang Makan Kediaman Hamid, ayah Tamara


Tamara menatap Zara dengan tatapan tajam dan amarah yang tidak bisa dibendung. Sudah dipermalukan karena Zara bermain piano dengan apik dan berduet bersama Pramudya dan ini ! Tamara tidak terima ! Dirinya tidak terima di hari ulang tahunnya, semua orang memuji permainan gadis antah berantah itu !


"Ehem, mari kita semua makan... " senyum Hamid guna menetralisir suasana tidak nyaman yang dilakukan putrinya.


Tak lama hidangan pertama datang sebuah sup krim kepiting lalu dilanjutkan dengan appetizer, dan Tamara melihat bagaimana Zara dengan luwesnya makan tanpa salah peralatan makan. Wajah Tamara semakin kesal saat Pramudya berbisik ke arah Zara yang tersenyum manis. Entah apa yang dibicarakan mereka tapi membuatnya kesal !


Seharusnya aku yang bersama Mas Pram, bukan dia ! Tamara memakan appetizer nya sedikit kasar membuat Valentino berpandangan dengan Katya, istrinya. Dewa sendiri memasang wajah sebal yang tidak ditutupi nya akibat kelakuan nona rumah membuat Alina harus menepuk pelan tangan tunangannya.


Hidangan ketiga keluar grilled salmon dan Zara berusaha menahan rasa excited nya melihat ikan yang sudah lama dia ingin makan secara grilled. Sebelumnya dia hanya mencoba warung sushi pinggir jalan untuk memenuhi rasa ingin tahunya rasa ikan itu.


"Kamu kenapa Zara?" bisik Pramudya.


"Tidak apa-apa. Hanya mengagumi bagaimana pintar chef-nya memasak ikan ini..." senyum Zara membuat Pramudya ikut tersenyum.


"At least bukan aku yang masak karena aku tidak bisa masak, paling banter mie instan atau ceplok. Masak ikan begini, yang ada bisa gosong..." jawab Pramudya membuat Zara cekikikan.


"Kalau makan, nggak boleh ngobrol !" hardik Tamara judes.


Valentino yang merasa gerah dengan ketidak nyamanan di meja makan, memilih menghabiskan ikan salmon itu lalu memberikan kode kepada istrinya, Katya yang paham suaminya sudah jengkel tingkat dewa.


"Pak Hamid, mohon maaf tapi saya dan istri harus pulang karena anda tahu sendiri kan Katya sedang hamil. Jadi kami mohon diri dulu" ucap Valentino berdiri sambil melirik judes ke arah Tamara yang hanya melengos.


"Pak Valentino, anda mau undur diri sekarang?" tanya Hamid bingung.


"Iya pak. Maaf tapi kami sungguh tidak nyaman dengan suasana di meja makan ini... Apalagi Katya juga lelah..." jawab Valentino sambil menggandeng Katya yang memasang wajah lelah.


"Buat ibu-ibu yang pernah hamil pastinya tahu kan tri semester kedua itu sering kacau kondisinya dan berbeda dengan tri semester pertama" senyum Katya yang dijawab para kaum wanita disana.


"Iya Bu Valentino, memang sering upside-down ya?" celetuk salah satu wanita.


"Betul itu" balas Katya.


"Pak Valentino, bagaimana dengan urusan bisnis kita?" tanya Hamid sedikit panik karena sudah terbayang akan mendapatkan kerjasama dengan PRC Group yang nilainya tidak sedikit.


"Kita bicarakan besok Senin pak Hamid. Permisi." Valentino lalu menggandeng tangan Katya meninggalkan ruang makan mewah itu.


Pramudya dan Zara saling berpandangan melihat bagaimana Valentino sangat mengontrol emosinya meskipun semua orang tahu, putra Quinn Reeves itu sama dengan ayahnya jika sudah emosi.

__ADS_1


Hamid menatap tajam ke arah Tamara karena dirinya kesal, dengan putri manjanya yang bisa membuatnya kehilangan kontrak puluhan milyar. Tamara hanya membalas tatapan ayahnya dengan sikap acuh.


Pria bertubuh agak gemuk itu kesal dengan sikap kekanak-kanakan Tamara di meja makan yang berisikan para rekan bisnis nya termasuk keluarga Reeves dan Hadiyanto. Jika Reeves mundur, dia akan mengalami kerugian besar di bisnis nya.


Pramudya hanya tersenyum tipis lalu melirik ke arah Dewa. Keduanya tahu, jika Valentino sudah tidak suka, bakalan sulit berbisnis dengannya.


***


Acara makan malam pun dilanjutkan tapi Tamara memilih tutup mulut daripada uang jajannya diblokir apalagi dia tahu Valentino Reeves adalah COO PRC Group di bawah kepemimpinan ayahnya, Quinn Reeves.


Pramudya dan Zara pun berpamitan begitu juga dengan Dewa dan Alina. Mereka memilih tidak ikut acara dugem yang memang diadakan oleh Tamara menjelang tengah malam.


Tamara hanya menatap sebal kearah Pramudya yang menghela punggung Zara masuk ke dalam mobil.


"Mas Pramudya !" panggil Tamara.


Pramudya menoleh lalu membalikkan tubuhnya. "Ada apa Tamara?"


"Bisakah kita bicara berdua ?" pinta Tamara.


Pramudya mendekati Tamara. "Setelah apa yang kamu tunjukkan sikap kekanak-kanakan kamu di acara makan malam... No. Aku tidak suka dengan sifat mu dan aku tidak tahan dengan perilakumu. Dan tidak, percakapan ini sudah selesai."


"Aaaarrrggghhhh!!!" teriak Tamara kesal.


***


Mobil mewah Pramudya tiba di gang rumah Zara usai ke rumah Andre terlebih dahulu untuk berganti pakaian. Zara tidak mau neneknya melihat dirinya memakai pakaian indah dan bisa berpikir macam-macam.


"Terimakasih pak Pram, sudah mengantarkan saya pulang..." jawab Zara kembali ke panggilan formal karena merasa tugasnya sudah selesai. "Ternyata pesta orang kaya tidak ada bedanya dengan orang kampung... Julid dimana-mana."


Pramudya tersenyum smirk. "Yeah, hanya bedanya kami memakai baju bagus dan mahal tapi sifat sama saja."


"Iya pak Pramudya. Hati-hati pulangnya pak. Terimakasih sudah membantu saya biaya cuci darah nenek."


Pramudya mengangguk. "Terimakasih Zara, aku bangga sama kamu. Punya cara untuk membungkamnya dengan cara elegan."


"Bu Andrea yang mengajari saya bahwa saya memiliki banyak potensial yang harus saya tunjukkan agar tidak diremehkan."


"Andrea benar... Permainan piano kamu jauh lebih baik daripada aku. Dan aku tidak menyangka Canon in D Major bisa dimainkan dengan style rock brutal ..." kekeh Pramudya.

__ADS_1


"Pianonya yang membuat saya ingin bermain asyik" jawab Zara. "Saya turun dulu pak. Bisa pada Julid kalau melihat saya turun dari mobil mewah... Gosip kemanapun..."


"Oke Zara. Sekali lagi terima kasih."


Zara mengangguk. "Mari pak Genta, pak Ilham" pamit Zara.


"Sama-sama nona Zara" ucap Genta dan Ilham bersamaan.


Zara keluar dari mobil dan berjalan menuju gaungnya. Dan benar, ketiga pria yang ada di mobil itu bisa mendengar pertanyaan tetangga Zara.


"Dianterin sugar daddy lu ?"


Zara hanya diam dan terus berjalan tanpa mengindahkan ucapan yang menyakitkan telinga.


"Astaghfirullah..." ucap Ilham dan Genta.


"Jalan Ham" ucap Pramudya dan Ilham pun menjalankan mobilnya.


Di dalam mobil, Genta menoleh ke arah kursi tengah. "Bro, aku rasa Zara itu pantas buat elu. Dia punya prinsip dan sangat elegan menghadapi Mak lampir itu."


"Nggak Genta, kami hanya simbiosis mutualisme... Tidak lebih" jawab Pramudya. "Kami hanya kekasih kontrak malam ini."


Genta dan Ilham saling berpandangan. Semoga elu salah, Pram.


Pramudya menatap pemandangan jalan dari jendela mobilnya. Kami hanya butuh malam ini. Dan tidak ada kontrak selanjutnya...



Introducing Pramudya Hadiyanto


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2