
Gedung Pengadilan, Sidang Kedua.
"Nona Zara, bisakah anda menceritakan bagaimana kejadian saat anda dan nona Martina di Plaza Senayan..." Jaksa Penuntut Umum itu menatap ke arah Zara.
"Kami turun dari bis trans di halte depan Plaza Senayan dan kami berjalan menuju pintu masuk utama... Saya tidak tahu soal motor itu, Martina yang melihatnya. Lalu... " Zara menghentikan suaranya seperti kejadian itu baru terjadi kemarin. "Maaf... Tina... Maksud saya Martina, melihat motor itu hendak menabrak saya dan... Langsung mendorong saya ... Saya ... Saya melihat Martina terlempar..." Air mata Zara mengalir di kedua pipinya.
"Apakah anda melihat motornya atau plat nomornya?" tanya Jaksa lagi.
"Hanya motornya bewarna hitam dan ada garis merah. Saya... Terlalu fokus dengan Martina..." jawab Zara.
"Baik. Setelah itu?"
"Pengendara motor itu langsung tancap gas dan pergi begitu saja sedangkan saya dan Martina segera ditolong banyak orang... Setelahnya saya tidak ingat lagi..." Zara melirik ke arah Tamara. "Saya terbangun di rumah sakit."
Jaksa itu menatap ke arah Tamara. "Setelah itu?"
"Saya dan Nenek pindah dari rumah lama kami ke rumah milik keluarga Hadiyanto. Kami memang pindah Kesana demi perlindungan dari nona Tamara karena ada indikasi, dalang dari semua itu adalah dia." Zara menunjuk ke Arah Tamara.
"Keberatan, yang mulia hakim!" protes pengacara Tamara.
"Keberatan diterima. Nona Aulia, jangan berspekulasi..." tegur Hakim Ketua.
"Baik pak Hakim..."
"Jadi anda dilindungi oleh pak Pramudya Hadiyanto di rumah milik keluarga. Berapa lama anda disana?" tanya Jaksa.
"Hampir dua bulan."
"Selama itu pak Pramudya ke rumah itu?"
"Tidak setiap hari karena pak Pramudya tidak ingin ada orang tahu kami disana. Beliau tidak mau jika kami celaka lagi..."
"Bagaimana anda dan nenek anda kecelakaan?"
Zara menghela nafas panjang lagi. "Saya dan nenek memang rutin pergi cuci darah di rumah sakit Rena Medika tapi semenjak pindah ke rumah pak Pramudya, kami ke RS PRC Group."
"Lalu kenapa saat hari naas itu, anda tidak ke PRC Group?"
__ADS_1
"Nenek ingin bertemu dengan para pasien disana. Selama menjalani Hemodialisa, nenek memiliki komunitas sendiri sedangkan di PRC tidak banyak kenal. Jadi kami kembali ke Rena Medika apalagi saat itu jadwal di PRC penuh."
"Anda diantar oleh pak Pramudya?"
"Tidak. Kami naik taksi blue bird menuju Rena Medika. Pak Pramudya sedang ada meeting penting saat itu dan saya bilang kami ke Rena via pesan. Pak Pramudya bilang agar kami hati-hati."
"Lalu?"
"Kami tiba di Rena Medika dan tiba-tiba saat kami berdua hendak masuk ke dalam rumah sakit, sebuah mobil menabrak kami..." Suara Zara terdengar tercekat.
"Apakah anda mengenali mobil itu?"
Zara mengangguk. "Range Rover milik Pak Pramudya. Saya hapal karena ada stiker logo Bank Arta Jaya di kaca belakang."
"Menurut anda, apakah pengemudi itu pak Pramudya Hadiyanto atau orang lain?" Jaksa itu menatap serius ke Zara.
"Saya tidak melihat siapa pengemudinya, tapi saya hapal mobilnya. Bukankah membuat asumsi, jika itu mobil pak Pramudya, pasti pak Pramudya sendiri atau pak Genta yang menyetir bukan?" jawab Zara. "Tapi jika diingat lagi sekarang, saat itu pak Pramudya dan pak Genta sedang meeting di kantor pusat Bank Arta Jaya. Bagaimana mobilnya bisa menabrak kami sedangkan kunci mobil pasti dipegang pak Pramudya atau asistennya, pak Genta."
Pramudya dan Genta tersenyum smirk bagaimana gadis itu secara langsung mencoret nama mereka dengan alibi solid. Alibi yang bisa dibuktikan dengan banyaknya saksi dan rekaman CCTV.
"Yang Mulia Hakim, kita bisa membuktikan bahwa mobil yang dipakai untuk menabrak nona Zara Aulia dan Nyonya Aisyah, memang milik Pak Pramudya Hadiyanto yang dicuri oleh nona Tamara Hamid dari bengkel tempat mobil itu sedang diservis. Kesaksian dari pemilik bengkel sudah kita dapatkan tadi." Jaksa Penuntut Umum lalu kembali menatap Zara. "Bagaimana perasaan anda saat tahu siapa pelakunya?"
Semua orang di ruang pengadilan merasakan hawa dingin yang teruar dari seorang gadis cantik bertubuh langsing itu. Suasana sidang merasakan bagaimana amarah seorang Zara Aulia yang mengalami banyak peristiwa akibat obsesi seorang Tamara Hamid kepada Pramudya Hadiyanto.
"Dengarkan aku, nona Tamara Hamid. Sampai kapan pun, kejahatan tidak akan pernah menang. Dan sekarang aku duduk disini, hidup, dan bebas. Akulah pemenangnya dan kamu hanyalah seorang pecundang !" lanjut Zara dingin.
"Kamuuuu !" Tamara berlari mendekati Zara dan hendak menghajarnya namun Zara sudah siap. Disaat Tamara hendak memukulnya, Zara meninju wajah Tamara terlebih dahulu hingga darah segar keluar dari hidung nya. Tamara pun terjatuh apalagi hidungnya hasil operasi plastik, semakin membuat rusak implannya.
Petugas pengadilan lalu membawa Tamara pergi menuju mobil tahanan guna dibawa ke rumah sakit karena darahnya tidak mau berhenti. Pramudya bergegas menghampiri Zara dan memeluknya apalagi tubuh gadis itu gemetar akibat emosi.
"Itu buat Nenek!" desis Zara dengan suara penuh kebencian.
"Harap tenang ! HARAP TENANG!" seru hakim sambil mengetuk palunya karena ruang sidang menjadi kacau balau.
***
Zara hanya manyun di sel tahanan karena menyerang terdakwa, meskipun technically membela diri tapi tetap saja pihak pengacara Tamara mengajukan tuntutan perbuatan tidak menyenangkan dan kekerasan.
__ADS_1
Gadis itu mendongakkan wajahnya saat melihat Pramudya datang bersama dengan seorang pria tampan berwajah cool dan sepertinya dia seorang pengacara.
"Sudah aku bereskan, Pram. Tenang saja..." senyum pria itu.
"Thanks Tian. Maaf merepotkan..." jawab Pramudya.
"Ya ampun Pram, aku tahu keluarga bossku sudah kacau, tapi kenapa kamu jadi ikutan?" kekeh pria itu. "Sersan Hamidah..." sapa pria yang dipanggil Tian itu ke seorang polisi wanita.
"Pak Septian ... Busy day ?" senyum polwan itu sambil membuka pintu sel.
"Everyday" balas Septian. "Tolong nona Zara Aulia."
"Absolutely. Zara Aulia, silahkan keluar !" ucap Sersan Hamidah.
Zara pun keluar dari sel dengan sedikit tertatih yang dibantu oleh sersan Hamidah karena tongkat nya ditahan agar tidak menjadi senjata.
"Terimakasih Mas Pram..." senyum Zara.
"Tongkat anda nona Zara" ucap Sersan Hamidah sambil memberikan tongkat gadis itu.
"Terimakasih Bu..." Zara menerima tongkat jalannya.
"Sersan Hamidah, kami pamit dulu. Terima kasih" senyum Septian.
"Sama-sama pak Septian. Pak Pramudya, jangan membuat nona Zara marah. Bahaya, main tonjok saja nanti" kekeh Sersan Hamidah.
Pramudya hanya tertawa sedangkan Zara menunduk malu. "Yuk pulang. Oh Zara, perkenalkan ini Septian, pengacara dari Blair and Blair Advocate."
Zara pun bersalaman dengan pengacara muda itu. "Terimakasih."
"Sama-sama" balas Septian. ( Septian pernah disebut oleh Nadya Blair di Love and Justice ).
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂