
Dua Minggu menjelang acara pernikahan
Zara semakin berdebar-debar menunggu hari H dimana dirinya dan Pramudya akan segera melangsungkan pernikahan. Bagi Zara ini seperti mimpi dan berharap dia tidak akan bangun jika mimpinya seperti ini.
Gadis itu semakin tampak cemas karena hari ini Oma Angela mengajak Zara untuk treatment lengkap termasuk lulur, perawatan wajah dan semuanya.
"Nanti dua hari sebelum ijab, kamu perawatan lagi, Zara. Biar Pram pangling..." senyum Oma Angela saat mereka dalam perjalanan ke salon.
"Ba...baik Oma..." jawab Zara pelan. Duh ! Zara semakin berdebar-debar, takut akan apa yang akan terjadi di depannya. Semangat Zara, kamu cuma ke salon !
***
Usai treatment, Zara dan Oma Angela pun pulang namun gadis itu memilih masuk kamar karena ternyata treatment seharian itu melelahkan. Zara pun meminta ijin untuk tidak makan malam karena memilih untuk beristirahat.
Pramudya yang datang dari kantor, merasa bingung tidak melihat calon istrinya di ruang tengah. "Zara dimana Oma?" tanya pria itu.
"Zara minta ijin istirahat Pram. Seharian nyalon itu juga capek lho" kekeh Oma Angela.
"Duh kasihan... Tadi makan siang dimana?" tanya Pramudya sambil duduk di sofa untuk melepaskan sepatunya.
"Zara minta restauran Indonesia jadi kita makan di restauran dekat salon. Kan enak juga itu nasi kecombrang nya."
Pramudya mengangguk lalu membawa sepatunya ke lemari sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. "Aku mandi dulu ya Oma. Nanti kita makan malam. Zara nggak makan?"
"Katanya masih kenyang."
Pramudya pun mengangguk.
***
Sementara itu di kamar Zara, gadis itu tampak merasa cemas dan kata Alina, sindrom panik hendak menikah. Zara dan Alina memang jadi teman baik apalagi mereka akan jadi ipar. Martina pun mengatakan hal yang sama, bahwa Zara terkena kecemasan berlebih hendak menikah.
Zara baru tahu bagaimana kayanya keluarga Hadiyanto saat mereka semua berkumpul dan semuanya tidak ada yang tidak mengenakan barang branded. Meskipun Alina sudah mengatakan bahwa yang penting Pramudya nya, tapi tetap saja Zara merasa cemas.
Apa aku pantas mendampingi mas Pram? Selama ini kan mas Pram dan Oma Angela sangat baik padaku. Apa mereka bisa berubah saat aku resmi menikah? Apakah keluarga Hadiyanto tidak kecewa dengan pilihan mas Pram... Zara melamun di jendela kamarnya.
Aku ingin pergi... Menenangkan diri... Kemana ya kira-kira. Zara membuka ponselnya dan mulai mencari tempat menyepi yang agak jauh dari Jakarta.
Zara pun memesan tiket dan penginapan. Dirinya sudah bertekad untuk backpacker agar orang rumah tidak curiga.
****
Keesokan Harinya
"Kamu mau ke mall?" tanya Pramudya lagi hari saat mereka sarapan.
"Iya mas. Boleh?" tanya Zara manis.
__ADS_1
"Mau belanja apa Zara?" tanya Oma Angela. "Perlu Oma temani?"
"Nggak usah Oma. Aku ingin jalan-jalan menikmati hari sebelum menikah, menikmati menjadi lajang dulu" senyum Zara. "Boleh mas?"
"Boleh. Uang masih ada?" tanya Pramudya.
"Lha uang dari mas Pram kalong ( kurang ) cuma seberapa tho. Masih mas. Aku nggak beli macem-macem" jawab Zara.
"Kalau kurang, bilang lho ya."
"Iya mas."
***
Pramudya mengantarkan Zara ke Plaza Indonesia karena gadis itu minta Kesana. Zara mengatakan akan menunggu mall buka di Sebuah cafe yang sudah buka pagi. Pramudya pun mengangguk karena tahu disana ada cafe buka dan memberikan ciuman di kening Zara sebelum gadis itu turun.
Zara melambaikan tangannya ke mobil Pramudya dan menunggu sampai mobil Mercedez itu tidak terlihat, baru gadis itu menuju stasiun MRT. Dirinya hendak ke bandara dan paling enak dengan MRT.
Siang itu, Zara sudah terbang menuju kota tempat dia ingin menyepi selama dua hari demi memantapkan hatinya.
***
Malam Harinya
Pramudya melongo melihat suasana rumah tampak heboh karena Zara tidak pulang. Bahkan Oma Angela sudah menangis panik karena tadi dia sempat menelpon Zara dan bilang akan pulang menjelang isya karena bertemu dengan Martina.
"Zara kemana Oma?" tanya Pramudya ikutan panik.
"Nggak tahu Pram... Tadi bilangnya ketemu Martina. Tapi kan Tina sudah kerja jadi tidak mungkin tho..." isak Oma Angela.
"Zara tadi juga bilang akan pulang menjelang isya dan minta tidak dijemput karena bisa pulang sendiri pakai blue bird... " Pramudya mengacak rambutnya. "Ya Allah, jangan sampai ada apa-apa lagi."
"Coba cari Pram. Oma khawatir... "
Pramudya bergegas menuju kamarnya untuk mandi kilat dan berganti pakaian casul lalu pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan orang hilang.
***
Kantor Polisi Polda Metro Jaya
"Lho pak Pram?" sapa Letnan Arman yang hendak pulang. "Ada apa pak?"
"Pak Letnan. Saya mau melaporkan orang hilang" ucap Pramudya panik.
"Siapa pak?"
"Zara."
__ADS_1
Letnan Arman terkejut.
***
Menjelang jam sebelas malam, Pramudya sudah merasa lelah mencari Zara kemanapun dan tidak menemukan tunangannya. Akhirnya Pramudya memilih menuju rumah Bagas dan Dewa untuk minta pertolongan.
***
"Calon bini lu hilang?" tanya Dewa. "Kapan terakhir kalian berkomunikasi?"
"Tadi jam dua siang Wa" jawab Pramudya sendu.
"Berikan nomor ponsel Zara. Kamu hubungi tidak bisa ?" tanya Dewa sambil menuju meja yang terdapat iMac disana.
"Nggak bisa Wa. Aku sudah menghubungi rumah sakit takut dia kenapa-kenapa tapi tidak ada nama Zara Aulia" sahut Pramudya sambil menyebutkan nomor ponsel Zara. "Kamu ngapain?"
"Aku lacak lah. Gini-gini meskipun aku tidak sejenius angin Lisus atau valet parking, aku bisa soal beginian karena diajarin Oom Benji." Dewa mengutak-atik data yang memang dibuat aplikasinya oleh Benjiro Smith untuk mempermudah mencari anggota keluarga Pratomo jika tidak bisa dihubungi atau GPS nya error.
Bagas pun mendekati putranya dan terkejut saat mengetahui tempat terakhir Zara.
"Parangtritis? Jogja ?" Ketiga orang disana saling berpandangan.
"Ngapain Zara ke Parangtritis? Nyari Nyi Roro Kidul?" celetuk Safira yang baru selesai melaksanakan ibadah malam di kamar tidurnya setelah sebelumnya baru pulang dari rumah sakit.
"Mungkin Zara merasa cemas dan panik sebelum menikah jadi ingin menenangkan diri dulu" gumam Dewa.
"Kamu tahu dari mana Wa?" tanya Bagas.
"Jeng Alina yang cerita. Cuma aku tidak menyangka dia sampai kabur ke Jogja..." kekeh Dewa.
"Susul sana Pram !" perintah Bagas.
"I... Iya Oom."
"Aku kabari kalau handphone nya diaktifkan, dia ada dimana" sambung Dewa.
"Oke. Makasih." Pramudya mengambil ponselnya. "Genta ! Kita ke Jogja malam ini !"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1