
Ruang Rawat Inap Zara di RS PRC Group Jakarta... Seminggu kemudian
"Sudah bagus semua, Zara. Kamu boleh pulang besok lusa..." ucap Anarghya Giandra.
"Kenapa nggak pulang besok Sabtu, Oom?" tanya Pramudya.
"Boleh percaya atau nggak, kalau kamu pulang dari rumah sakit hari Sabtu atau Selasa, pasti kamu balik lagi" senyum Anarghya. "Kita itu wong Jowo, jadi tunggu sehari tidak apa kan?"
"Nggak papa Dok. Bagusnya gimana aja, soalnya aku juga nggak mau balik lagi ke rumah sakit. Bosan..." jawab Zara sambil tersenyum.
"Ingat, kaki kamu jangan sampai kena air dulu karena masih di gips._ Anarghya menatap ke Pramudya. "Zara mau kamu bawa pulang kemana?"
"Rumahku. Kan disana ada Oma, ada pelayan, ada bik Romlah. Nggak usah panggil suster, biar sama bik Romlah. Dia kan telaten waktu urus Opa dulu" jawab Pramudya membuat Zara terkejut.
"Tapi pak Pram..."
"Zara, aku setuju dengan Pramudya. Setidaknya kamu aman di rumah Pram apalagi ada Tante Angela dan pelayan. Kamu masih kondisi belum bisa lepas gips sampai dua Minggu ke depan" bujuk Anarghya melihat keponakannya tampak penuh harap dibantu untuk bisa meyakinkan gadis di hadapannya.
Zara menatap ke Anarghya yang tampak serius. Sejujurnya dia juga kesulitan jika mandi dengan kondisi badan masih terbungkus semen putih. Disini dia dimandikan oleh suster, di rumah?
"Lagipula, kamu di rumah Pram, ada banyak orang jadi kamu tidak sendirian..." sambung Anarghya lagi.
Zara menatap bergantian dari Anarghya dan Pramudya. "Baiklah..." ucap Zara akhirnya.
Anarghya tersenyum dan Pramudya tampak lega mendengar keputusan Zara. "Aku yakin kamu akan lebih cepat sembuhnya" kata Anarghya sambil menepuk pelan bahu Zara.
Zara hanya mengangguk.
***
Hari Sabtu di RS PRC Group Jakarta
"Pak Pramudya..." panggil Zara ke Pramudya yang baru datang sambil membawa kantong makanan berisikan bubur ayam, nasi lemak dan minuman teh kekinian.
"Ada apa Zara?" tanya Pramudya.
"Kira-kira kapan wanita ular itu disidang?" tanya Zara.
Pramudya menata makanan yang dibawanya diatas meja yang khusus pasien lalu mendorongnya ke hadapan Zara yang sudah dalam posisi duduk. "Jaksa penuntut umum sedang mengajukan ke pengadilan karena mereka tidak mau wanita itu bisa bebas karena masalah kejiwaan alias gila."
"Dia tidak gila tapi dia psikopat !" geram Zara sambil melihat banyak makanan di meja nya. "Ya ampun banyak banget pak..."
"Biar bisa kuat buat pulang besok..." jawab Pramudya asal.
__ADS_1
"Pak, kalau saya makan sekarang, nanti sudah lapar lagi... Gak bisa bertahan sampai besok ..." senyum Zara.
"Yang penting kamu makan dulu. Makanan rumah sakit nggak terlalu enak kan?" balas Pramudya.
Zara lalu memakan bubur ayamnya dan tersenyum karena rasanya memang enak.
Pramudya menatap lembut ke Zara yang asyik makan sedangkan dirinya memilih memakan nasi lemak khas Malaysia yang berjualan dekat dengan bubur ayam langganannya.
Satu hal yang Pramudya mulai hapal dengan Zara, gadis ini doyan makan. Setiap makanan yang dibawanya, selalu dimakan sampai habis. Pramudya tersenyum sendiri. Definisi gadis tidak perduli gendut. Pramudya melirik ke Zara yang makan sambil nonton acara televisi. Badan kamu kok awet langsing sih? Padahal makannya termasuk banyak.
"Zara..."
"Ya pak?"
"Kamu itu tukang makan tapi kok badan kamu awet langsing... Apa kamu ... Cacingan?"
BUUUKKK !
Wajah tampan Pramudya langsung terkena lemparan bantal Zara.
***
Dewa dan Alina datang membesuk Zara usai jam makan siang. Setibanya mereka di kamar Zara, keduanya bisa melihat bahwa terjadi perang Malvinas di ruangan itu. Mungkin sekarang lebih menjurus ke perang dingin macam Soviet dan Amerika dulu.
"Halo..." balas Pramudya dan Zara tidak semangat.
"Kalian kenapa? Kok hawanya macam di puncak Jayawijaya?" tanya Dewa sambil meletakkan pizza dan juice di meja.
"Nggak papa" jawab Pramudya dan Zara kompak membuat pasangan Dewa dan Alina terkejut.
"Fix, pasti ada apa-apa deh!" senyum Alina, tunangan Dewa yang hendak menikah bulan depan.
"Zara, Pramudya apain kamu?" tanya Dewa yang melihat sepupunya manyun.
"Pak Pram bilang aku cacingan, mas Dewa ..." adu Zara membuat Dewa dan Alina melongo.
"Cacingan? Kok bisa?" tanya Alina bingung.
"Katanya... Aku tukang makan kok awet langsing... Jangan-jangan cacingan..." jawab Zara sambil manyun.
Dewa dan Alina langsung terbahak. "Definisi nggolek molo tenan ( cari perkara betul ). Pram, mungkin Zara itu termasuklah golongan pemilik gen makan banyak sesuai cita-cita kurus. Disaat orang lain ingin seperti itu, tapi Zara bisa bikin iri banyak kaum wanita. Ngunu lho ( gitu lho )" gelak Dewa. "Ora maido kalau Zara nyolot ( nggak heran kalau Zara emosi )."
Pramudya hanya manyun mendapat Omelan Dewa.
__ADS_1
"Nanti kamu pulang kemana Zara ?" tanya Alina sambil menyerahkan piring kertas dengan pizza diatasnya.
"Ke rumah Pak Pram..." jawab Zara sambil menunduk tidak enak.
"Baguslah ke rumah Pram. Kamu tidak sendirian... Terimakasih sayang" ucap Dewa sambil menerima piring kertas berisikan pizza dari Alina.
"Aku pikir daripada di rumah yang sekarang kan Zara sendirian, mending di rumah aku" timpal Pramudya.
"Aku rasa itu ide yang bagus. Oma Angela ada temannya" senyum Alina yang memegang tangan Zara. "Everything is gonna be okay... "
Zara membalas senyum Alina dengan memegang tangan Tunangan Dewa itu.
***
Ruang Sel Wanita di lapas wanita kelas Ini di Pondok Bambu Jakarta
Tamara dipindahkan ke sel lapas wanita pondok bambu karena sel di Polda Metro Jaya akan dipakai untuk tahanan para pendemo. Di sel ini, Tamara harus berbagi dengan tiga narapidana lainnya yang juga sedang menunggu sidang pengadilan.
Dua orang diantaranya adalah ibu-ibu berbadan gemuk yang membuat Tamara tidak suka apalagi dua orang itu bau badannya sangat menyengat.
"Heh anak baru ! Kamu kenapa bisa masuk sel? Dari gayamu sebenarnya kamu anak orang kaya kan!" ucap salah satu dari ibu itu.
"Bukan urusan kamu !" jawab Tamara judes.
"Kamu itu anak baru belagu ! Minta diberi pelajaran memang !" ibu itu hendak menyerang Tamara tapi gadis itu sudah siap dengan sikat gigi yang dia asah selama di sel Polda Metro Jaya. Kelalaian sipir penjara membuatnya bisa menyelundupkan senjata itu.
Tanpa ragu, Tamara langsung menghujam ujung sikat gigi itu ke tubuh wanita gemuk yang menyerangnya dan tanpa ampun terus menghujam dan menghujam, membuat wanita itu berteriak kesakitan. Dua orang napi lainnya langsung berteriak minta tolong hingga lima sipir datang untuk menarik Tamara yang kesetanan dan bersimbah darah.
"Mam*pus saja kau ! Wanita bau !" teriak Tamara ke ibu-ibu yang diserangnya dalam kondisi sekarat.
Tamara tertawa mengerikan saat diseret keluar sel membuat semua orang yang mendengar nya merasa merinding.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Kepala Penjara yang merasa kecolongan ke petugas medis yang datang memeriksa ibu itu.
"Dia tewas."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️