
Nenek Aisyah dan Zara akhirnya mau pergi dengan Pramudya dan Genta menuju ke sebuah rumah yang merupakan salah satu aset milik keluarga Hadiyanto. Mereka pergi dengan tatapan kepo dan pertanyaan para tetangga tapi nenek Aisyah hanya mengatakan hendak pergi berlibur.
Kini mereka berada di dalam mobil Range Rover milik Pramudya yang disetiri Genta menuju ke sebuah komplek perumahan yang memang tidak jauh dari rumah sakit tempat nenek Aisyah melakukan cuci darah.
"Kamu bisa pesan ojek online atau taksi, nanti bisa minta tolong satpamnya" ucap Pramudya saat mereka masuk ke dalam komplek itu.
"Ini rumah siapa nak Pram?" tanya Aisyah.
"Rumah saya Nek. Rumah keluarga tapi ini atas nama saya..." jawab Pramudya.
"Nak Pram punya banyak aset ya?"
Pramudya menengok ke belakang tempat Aisyah dan Zara duduk. "Rejeki saya. Nenek tidak perlu khawatir. Kalian bebas tinggal disini sampai pelakunya tertangkap..." Pramudya sengaja tidak memberitahukan bahwa pelakunya tewas dibunuh agar tidak semakin membuat kedua wanita itu menjadi lebih panik.
Nenek Aisyah hanya mengangguk meskipun dalam hatinya dia merasa cucunya tidak jujur padanya. Apa hubungan kamu dengan Pramudya, Zara? Apakah kamu sudah menjadi simpanan pria ini? Kenapa dia sampai repot - repot?! Banyak pertanyaan yang hendak dia tanyakan pada Zara nanti.
Mereka tiba di sebuah rumah satu lantai dengan desain minimalis, sangat terawat lengkap dengan pagar yang membuat Zara merasa aman. Keempatnya turun dan Aisyah langsung suka dengan rumah itu. Rumah dengan cat putih dan aksen coklat muda seperti kayu itu memang sangat cantik.
"Mari masuk..." ajak Pramudya sambil membuka pintu pagar yang menggunakan password pintu. "Nomornya ini Zara..." Pria itu memberikan kode password pintu pagarnya.
"Baik pak Pramudya..." jawab Zara.
Keempatnya masuk dan lagi-lagi Aisyah menyukai halaman yang minimalis tapi tertata. Ada sebuah kursi gantung di depan hingga membuat suasana sangat nyaman. Pramudya membuka rumah itu dan tampak semua perabotan ada.
"Kalian hanya menikmati tinggal disini... Semua kebutuhan dan keperluan soal alat memasak, cuci pakaian dan segalanya, ada. Istilahnya pindah hanya bawa badan dan baju." Pramudya membuka dua kamar tidur yang sudah terpasang seprai. "Kalau kalian mau ganti seprai, ada semua di lemari bawah." Pria itu membuka lemari tanam dan menarik laci bawah yang menunjukkan tumpukan seprai.
"Bagaimana?" tanya Pramudya.
"Ini nyaman banget nak Pramudya. Terima kasih" jawab Aisyah.
"Oh, kulkas baru aku isi sebagian... Kalian bisa memesan bahan makanan dari mart online... Kamu ada aplikasinya kan Zara?" Pramudya menatap wajah gadis cantik itu.
"Ada pak Pramudya. Dananya juga ada..." jawab Zara akhirnya.
"Kalau begitu saya tinggal dulu. Saya hendak kembali ke kantor polisi dan kantor saya" pamit Pramudya sambil Salim ke Aisyah dan menepuk bahu Zara lembut. "Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Wa'alaikum salam..." balas kedua wanita itu.
Genta pun berpamitan dan Zara mengantarkan mereka hingga ke pagar. Tak lama, mobil mewah itu pun pergi meninggalkan rumah putih tersebut. Zara menutup pagar dan berbalik hendak masuk rumah saat melihat neneknya berdiri dengan wajah garang.
"Apa hubungan kamu dengan Pramudya? Kamu bohong sama nenek ya ?" hardik Aisyah dengan marah.
Zara hanya menunduk. "Aku ceritakan semua nya Nenek..." ucap gadis itu sambil masuk ke dalam rumah dan menggandeng neneknya.
***
Dalam Mobil Pramudya
"Pram, aman ya?" ucap Genta sambil menyetir menuju kantor Polda Metro Jakarta.
"Insyaallah aman..." jawab Pramudya.
"Pram, apa kamu jatuh cinta pada Zara?" tanya Genta.
"Menurutmu...?"
Pramudya tersenyum. "Iya, aku jatuh cinta pada Zara... Dia sangat spesial, Genta."
"Janganlah sampai Zara menjadi korban, Pram. Dia tidak bersalah..."
Pramudya menatap luar jendela. "I know."
***
Rumah Baru Zara dan Nenek Aisyah
"Jadi... Kamu dibayar Pramudya untuk menjadi pacar bohongan? Kamu pakai acara dikontrak? Apa kamu sudah tidur juga dengan Pramudya? Macam Pela*cur saja kamu ! Zara, nenek tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu demi uang cuci darah nenek ! Tidak apa-apa tidak cuci darah jika tidak ada uang ! Jangan kamu menjual diri kamu !" Aisyah tampak tidak bisa mengontrol emosinya sedangkan Zara sudah menangis.
"Aku tidak pernah tidur bersama dengan Pak Pramudya ! Aku hanya menemani ke acara pesta dan setelahnya aku pulang ke rumah Bu Andrea... Aku diantarkan pulang setelah berganti baju di rumah Bu Andrea... Nenek bisa bertanya dengan Bu Andrea..." jawab Zara dengan sesenggukan.
"Halah ! Paling mereka bekerja sama untuk menutupi kenyataannya..."
__ADS_1
"Itu kenyataannya Nek ! Aku hanya dua kali menemani pak Pramudya ! Dan yang kedua, aku yang kena celaka ... "
"Bagaimana kamu bisa kena celaka ? Nenek yakin kamu bukan tertimpa pigura !" Aisyah tampak sangat kecewa dengan keputusan cucunya yang macam sugar baby.
"Nek, itu karena wanita yang mengejar Pak Pramudya tidak suka melihat aku bersamanya..." jawab Zara.
Nenek Aisyah tampak berjalan bolak balik. "Zara, apakah ini cerita yang sebenarnya?"
"Ini cerita sebenarnya Nenek... Aku minta maaf jika Aku tidak jujur pada nenek tapi semua itu demi nenek bisa berobat. Dan Pak Pramudya sangat menjaga aku Nek. Hubungan kami murni bisnis dan Pak Pramudya hanya sekedar bergandengan tangan dengan aku, tidak lebih. Pak Pramudya sangat gentleman, tidak mengambil keuntungan apapun bahkan dia tidak pernah mencium aku, Nek."
Aisyah menatap wajah Zara dan melihat tidak ada kebohongan soal ucapan cucunya yang mengatakan bahwa Pramudya tidak mengambil keuntungan disana.
"Nenek harap, kamu jangan ulangi lagi, Zara. Jika tidak ada uang, janganlah seperti ini... Kira-kira sampai kapan kamu terikat kontrak dengan Pramudya?"
"Kontrak kami sistem putus nek. Pak Pramudya hanya mengontrak aku saat acara. Setelah nya sudah tidak ada hubungan lagi..." jawab Zara.
"Tapi, kenapa dia begitu repot - repot mengurus kita, mengurus Martina... Nenek tahu dia orang kaya, hanya saja ... Tidak mungkin tidak ada alasan di balik semua ini. Pasti ada alasannya karena semuanya sangat tidak berhubungan tapi dia mau berhubungan..." gumam Aisyah.
Zara tampak terkejut dengan ucapan Aisyah. "Apa maksud nenek?"
Aisyah menatap Zara. "Apakah kamu tidak merasa jika Pramudya memiliki perasaan yang berbeda padamu?"
"Hah?"
"Nenek rasa, Pramudya suka padamu, Zara. Dia mulai jatuh cinta padamu..." jawab Aisyah.
Zara melongo dan menatap Aisyah tidak percaya. Masa sih? Tapi kami hanya akting...
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️