Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Kabur


__ADS_3

Ruang IGD Rumah sakit itu disibukkan mengurus dua korban tabrak lari yang terjadi di depan gerbang rumah sakit. Para dokter dan perawat semuanya bekerja keras guna menyelamatkan nyawa dua wanita yang diketahui adalah pasien dan pengantar rumah sakit itu.


Salah satu suster mengenali Zara dan Nenek Aisyah yang langsung menghubungi Ibu Hesti, ibu Martina, sebagai kontak daruratnya.


***


RS PRC Group Jakarta


Hesti yang senang melihat putrinya sudah jauh lebih membaik dan mulai belajar jalan, tampak bingung melihat nomor rumah sakit tempat nenek Aisyah cuci darah. Hesti memang menjadi kontak darurat Zara jika terjadi sesuatu saat mereka di rumah sakit.


"Halo?" sapa Hesti.


"Dengan ibu Hesti? Saya suster Mulyasari dari rumah sakit Bu Aisyah cuci darah..."


"Bagaimana sus? Apakah Bu Aisyah dan Zara baik-baik saja?" tanya Hesti yang merasa tiba-tiba perasaannya tidak enak.


"Sebelumnya saya minta maaf, Bu Aisyah dan mbak Zara mengalami kecelakaan di depan rumah sakit. Mereka jadi korban tabrak lari..."


"Astaghfirullah... Innalilahi... Terus bagaimana?" Hesti mulai panik dan melihat dokter Anarghya sedang berjalan langsung menghampiri.


"Masih kami perjuangkan nyawanya.. Bu Hesti bisa kemari?" tanya suster Mulyasari.


"Saya itu masih di rumah sakit juga Sus. Putri saya juga jadi korban kecelakaan... Tapi saya akan usahakan. ." ucap Hesti.


"Baik Bu. Kami tunggu..." Suster Mulyasari mematikan panggilannya.


"Dokter Anarghya !" panggil Hesti.


Anarghya yang hendak visite pasien, mengehentikan langkahnya. "Ada apa Bu Hesti?"


"Dok, Bu Aisyah dan Zara kecelakaan..." jawab Hesti panik. "Saya tidak bisa Kesana ... Bagaimana ini Dok?"


Anarghya terkejut. "Kecelakaan dimana?"


"Di rumah sakit biasa mereka cuci darah. Mereka korban tabrak lari depan rumah sakit... Aduh bagaimana dok... Saya harus menemani Tina fisioterapi... " Wajah Hesti tampak bimbang.


"Saya hubungi Pram. Nanti saya juga akan Kesana Bu Hesti." Anarghya mengambil ponselnya. "Pram..."


***


Rumah Sakit Tempat Zara dan Aisyah


Pramudya dan Genta berlari menuju ruang IGD setelah mendapatkan kabar dari Anarghya kalau Zara dan Aisyah menjadi korban tabrak lari. Pria itu melihat Letnan Arman dan Jimmy sudah berada di depan ruang IGD.

__ADS_1


"Bagaimana Letnan Arman? Oom Jimbong?" tanya Pramudya dengan nafas memburu.


"Pram, maaf... Nenek Aisyah tidak tertolong..."


Wajah Pramudya memucat. "Innalilahi... Zara?"


"Zara... Harus dioperasi... Limpanya pecah, kakinya patah dan ... Kabar terakhir ovariumnya rusak satu... "


Pramudya langsung menangis mendengar kondisi dua orang yang selama ini selalu dia usahakan lindungi. Genta langsung memeluk tubuh Pramudya yang tampak limbung.


"Siapa pelakunya?" tanya Pramudya.


Letnan Arman dan Jimmy saling berpandangan. "Mobilmu. .." jawab Jimmy.


Pramudya dan Genta terkejut. "Mobilku yang mana?" seru Pramudya emosi.


"Range Rover kamu..." jawab Jimmy.


Pramudya dan Genta saling berpandangan. "Range Rover aku? Tapi mobilku lagi diservis di bengkel tadi pagi... " Pramudya terdiam. "Aku sendiri bersama Genta Kesana. Genta bahkan membawa Honda City aku buat ke kantor... "


Letnan Arman dan Jimmy saling berpandangan. "Kalau begitu, biar kami selidiki ke Bengkel Land Rover langganan kamu Pram."


Pramudya memberikan nomor telepon dan alamat bengkel mobilnya.


***


Sudah dua hari Zara tidak sadarkan diri dan selama itu Pramudya tetap setia menjaga dan menemani gadis itu. Pria itu sampai tidak masuk kantor dan Genta yang mengurus segala sesuatunya. Oma Angela yang datang membawakan baju ganti karena Pramudya tidak mau meninggalkan Zara.


Bahkan Pramudya sudah mempersiapkan untuk memindahkan Zara ke RS PRC Group agar lebih aman karena keluarganya menjadi dokter disana.


"Bagaimana Zara, Pram?" tanya Oma Angela yang datang bersama dengan salah satu asisten rumah tangganya untuk membantu membawakan baju kotor Pramudya.


"Masih seperti ini Oma... " jawab Pramudya melihat wajah pucat yang terbaring dari balik jendela kaca karena Zara masih berada di ICU.


"Kapan kamu bawa ke PRC?"


"Kalau sudah sadar Oma... Bawa dia sekarang... Riskan ..." Pramudya tampak menitik kan air matanya. "Aku tidak tahu bagaimana reaksi Zara kalau tahu neneknya meninggal dan kondisinya sangat berbeda dengan sebelumnya..."


Oma Angela memeluk Pramudya. "Kehilangan satu ovarium bukan berarti tidak bisa hamil, Pram. Yang satu sehat kan?"


"Alhamdulillah sehat ... Tapi ... Oma, Pramudya akan bertanggung jawab atas semuanya... Gara-gara Pram, Zara dan Nenek Aisyah mengalami kejadian ini ..." Pramudya menangis di pelukan Oma Angela.


Oma Angela mengusap kepala cucunya. "Dengar Pram, jika Oma tahu siapa pelakunya... Oma sendiri yang akan menghajarnya ! Oma tidak perduli !"

__ADS_1


***


Bengkel Land Rover Jakarta


"Bagaimana bisa mobil yang dimasukkan ke dalam bengkel anda hilang?" bentak Letnan Arman ke pemilik bengkel. Sebelumnya bengkel itu tutup dan baru hari ini buka.


"Tapi benar Pak... Pagi kemarin memang mobil milik Pak Pramudya masuk kemari untuk servis. Tapi sekitar jam sepuluh ada kebakaran di jalan sebelah dan kami pun menyelamatkan diri... Lupa dengan mobil - mobil customer kami... " pemilik bengkel tampak takut melihat Letnan Arman, Jimmy, Dewananda Hadiyanto dan Ragil yang datang ke bengkel itu.


"Bullsh1t !" bentak Jimmy. "Tidak ada kebakaran di daerah sini !! Jangan mengada-ada kamu ! Katakan sejujurnya atau kalau tidak, kamu dituntut menjadi kaki tangan pelaku pembunuhan !"


Wajah pemilik bengkel itu memucat. "Pem... Pembunuhan pak?"


"Ya ! Hukumannya 20 tahun penjara sampai seumur hidup ! Sekarang katakan, siapa yang mengambil mobil Range Rover milik Pramudya Hadiyanto !" bentak LetnanArman galak.


***


Kediaman Tamara Hamid


"Kosong?" Letnan Arman mengerahkan anak buahnya untuk masuk ke dalam rumah itu setelah mendapatkan surat penggeledahan dan penangkapan Tamara Hamid.


"Let, kosong. Tidak ada satu orang pun !" lapor anak buahnya ke Letnan Arman yang tampak marah.


"Letnan !" panggil anak buahnya yang lain.


"Apa Bripka Jaka?"


Bripka Jaka membuka garasi dan tampak Range Rover milik Pramudya disana. Jimmy dan Toro bergegas mengambil tas forensik nya menuju garasi itu.


Dewa dan Ragil yang mengikuti hanya bisa menghela nafas panjang.


"Gil, lacak kemana nenek lampir itu pergi ! Kita jauh lebih canggih dari kepolisian yang sedikit terlambat satu hari" perintah Dewa.


"Oke. Karena barang bukti ada di rumah Hamid , jadi sudah pasti pelakunya si nenek lampir. Kita tidak bisa seenaknya macam Hongkong, pak. Bisa diamuk pak Randy..." balas Ragil sambil mengambil iPadnya.


"Kalau kita dapat Tamara lebih dulu dari kepolisian Indonesia, bawa ke markas. Karena Oma Angela sudah pesan, beliau sendiri yang akan turun tangan" seringai Dewa.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2