
Ruang Kerja Pramudya
Pramudya melongo saat Irjen Randy Hutabarat menelepon untuk mengabarkan bahwa Tamara membunuh teman satu selnya dengan ujung sikat gigi yang diasah tajam.
"Oom, apakah wanita itu sengaja melakukannya demi bisa dibilang gila ?" ucap Pramudya.
"Bisa jadi tapi Oom yakin dia sadar saat melakukannya. Semua orang bisa menjadi psikopat dan sosiopat. Kelebihan mereka, bisa menutupi hingga hidup normal."
Pramudya mengusap wajahnya tanda dirinya tidak habis pikir dengan pola pikir Tamara. "Dia pasti dihukum pasal berlapis kan Oom?"
"Pasti ! Oom sudah meminta Letnan Arman yang menangani kasus ini untuk bekerja sama dengan jaksa penuntut umum, jangan memberikan celah bisa bebas dengan alasan kegilaan. Wanita itu memang sinting tapi dia serius melakukannya."
"Terimakasih Oom Randy."
"Sekarang Zara dimana?" tanya Randy.
"Tinggal bersamaku dan Oma sampai persidangan..." jawab Pramudya.
"Usai persidangan?"
"Aku harap, dia mau menerimaku sebagai suaminya."
Randy tersenyum. "Insyaallah Zara memang jodohmu Pram. Tapi kamu ini memang karena mencintai Zara kan? Bukan karena kasihan..."
"Astaghfirullah... Nggak Oom. Aku sudah jatuh cinta dengan Zara sejak dia bermain piano..."
"Alhamdulillah kalau kamu benar-benar mencintai Zara. Anak itu sudah mengalami banyak hal yang menghantam emosinya. Dukung Zara, lindungi dan sayangi Zara, Pram. Dia sangat berharga" ucap Randy.
"Absolutely Oom. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai Zara lagi !"
***
Rumah Keluarga Hadiyanto, Oma Angela dan Pramudya tinggal
Zara merasa senang karena pada akhirnya, gips di kakinya sudah diganti dengan yang baru sebab yang lama membuatnya gatal. Zara tadi ke RS PRC Group bersama dengan Oma Angela yang merasa kasihan melihat Zara tidak nyaman dengan gips lamanya.
"Terima kasih Bu Angela, sudah mengantarkan saya ke rumah sakit" ucap Zara tulus.
"Zara, berapa kali aku bilang. Panggil Oma saja, jangan Bu ... " tegur Oma Angela.
"Eh? Kebiasaan..." senyum Zara.
__ADS_1
"Masih gatal?" tanya Oma Angela yang terkejut kaki Zara merah-merah akibat rasa gatal dari gipsnya.
"Sudah nggak Oma. Kan sudah diganti cortex dan diberikan gips fiberglass. Nggak seberat kemarin juga..."
Suara pintu utama terbuka, membuat kedua wanita itu menoleh dan melihat Pramudya datang bersama Genta dengan wajah kusut.
"Assalamualaikum" sapa Pramudya ke kedua wanita yang duduk di sofa.
"Wa'alaikum salam... Kamu kenapa Pram?" tanya Oma Angela.
Genta memilih menuju kulkas yang ada di balik meja bar untuk mengambilkan dua botol air mineral. Satu untuk Pramudya, satu untuk dirinya. Kami berdua butuh air dingin.
"Pusing... Nggak habis pikir aku..." jawab Pramudya sambil menerima botol air mineral dingin dari Genta. "Thanks Genta."
"Ada apa Pram?" tanya Oma Angela lagi.
"Nenek lampir bikin ulah. Dia membunuh salah satu teman selnya."
Oma Angela dan Zara terkejut mendengar ucapan Pramudya. "Astaghfirullah... Bagaimana bisa? Dia bawa senjata apa?" Oma Angela dan Zara saling menggenggam tangan saking terkejutnya.
"Rupanya dia membawa senjata berupa ujung sikat gigi yang dibuat runcing lalu dia menusuk ke rekan satu selnya membabi buta. Kata Oom Randy, salah satu tusukannya kena aorta hingga putus hingga napi tersebut tewas kehabisan darah" jawab Pramudya sambil menenggak air mineralnya.
Wajah Zara dan Oma Angela tampak memucat karena tidak menyangka jika Tamara akan senekad itu.
"Itu juga yang aku dan Oon Randy takutkan. Tapi insyaallah, Letnan Arman dan jaksa penuntut umum bisa membangun kasus dan argumen yang masuk akal agar dia bisa dihukum seumur hidup bahkan mati sekalipun."
Oma Angela dan Zara saling berpandangan. "Oma berharap agar dia dihukum seumur hidup. Biar dia mati di penjara."
***
Malam Harinya ...
Zara terbangun dari tidurnya dan merasa perutnya kelaparan. Gadis itu mengrenyitkan dahinya karena bingung sudah lapar lagi padahal tadi makan sudah banyak. Zara melirik ke arah jam digital yang ada di kamarnya. Ya ampun baru jam sebelas malam? Aku baru satu jam tidur ?
Zara berusaha untuk tidur tapi cacing di dalam perutnya tidak bisa diajak kompromi membuat dirinya terpaksa turu dari tempat tidur. Masih menggunakan kruk, perlahan Zara keluar dari kamarnya menuju dapur. Gadis itu membuka lemari kabinet dan menemukan beberapa bungkus ramen dan udon disana.
Zara mengambil panci dan mengisi nya dengan air lalu diletakkan diatas kompor dan menyalakannya. Gadis itu lalu mengambil telur dan kotak kimchi yang tersedia di kulkas. Dia ingin makan ramen dengan telur rebus dan kimchi.
Zara tampak asyik memasak tanpa tahu Pramudya berdiri di tembok memandang dirinya sambil bersedekap. Zara meletakkan panci berisikan ramen itu di meja dapur, memindahkan ke mangkuk dan menambahkan kimchi serta telur rebus diatasnya.
"Kamu makan nggak ajak-ajak..."
__ADS_1
Zara terkejut melihat Pramudya sudah berdiri di dekat tembok. "Astaghfirullah... Pak Pram mengagetkanku..."
"Kamu kelaparan lagi?" goda Pramudya.
"Iya pak... Tidak tahu tiba-tiba lapar jadi aku buat ramen ..." Zara pun duduk di kursi bar meja dapur. "Maaf pak Pram, aku hanya buat satu."
"Tak apa, aku buat sendiri saja." Pramudya mengambil panci bekas Zara memasak ramen dan wajah Zara memerah karena Pramudya tidak memakai baju, hanya mengenakan celana pendek.
Pak Pramudya bertattoo?
Zara tidak menyangka di balik wajah ganteng Pramudya, tubuhnya terdapat banyak tattoo terutama di punggung dan tubuh sampingnya.
"Pak Pram..."
"Ya?" jawab Pramudya sambil memasak air.
"Apakah. itu asli tattoonya ?" tanya Zara tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Asli lah ! Aku memang suka tattoo... Tapi sekarang tidak boleh nambah lagi sama Oma karena bakalan disuruh hapus. Jadi daripada ini semua hilang, aku memilih untuk tidak menambah..." jawab Pramudya sambil memasukkan ramen setelah airnya mendidih.
"Apakah sakit?"
"Sakit tapi sakit yang nikmat menurut ku... Beda sama Dewa yang takut jarum suntik, aku lebih bisa menerima jarum tattoo. Makanya Dewa badannya bersih..." senyum Pramudya.
"Jangan ditambah lagi pak..."
"Nope. Sudah cukup kok..." Pramudya mengambil mangkok dan menuangkan mie yang sudah matang Kesana. Dirinya mengikuti cara Zara menata ramennya lalu duduk di sebelah gadis itu. "Makan ramen itu tidak enak sendirian... Harusnya berdua."
Zara hanya diam saja karena jantungnya berdegup kencang akibat bersebelahan dengan Pramudya yang tanpa pakaian. Ya ampun, bodinya pak Pram... Bikin aku tidak konsentrasi !
Zara pun menunduk, berusaha syahdu makan ramennya dan mengacuhkan tubuh sempurna Pramudya di sebelah nya.
Koleksi Tattoonya Pramudya
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️