Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Sidang Pertama


__ADS_3

Kediaman Keluarga Hadiyanto


Pramudya menatap Zara yang menunduk, malu sudah berduet hingga membuat semua orang di rumah besar itu terpesona. Pramudya memegang tangan Zara yang saling terpilin. "Nyanyi lagu hepi ya?"


Zara menatap Pramudya bingung. "Lagu hepi?"


Pramudya mulai memainkan lagu. "Seluruh kota, merupakan tempat bermain yang asyik... Oh senangnya... Aku senang sekali..."


Zara dan Oma Angela melongo. "Kenapa jadi lagunya Crayon Shinchan sih?" tanya Zara sambil tertawa.


"Definisi setelah sok romantis, langsung bubar jalan..." gerutu Oma Angela. "Dah, Pram. Kamu mandi, kita segera makan malam!"


***


Pramudya dan Zara semakin dekat dari hari ke hari apalagi Oma Angela sangat setuju hubungan mereka berdua. Wanita paruh baya itu senang melihat bagaimana Zara sudah kembali ceria, sudah bisa move on dari semua kejadian tidak mengenakan sebelumnya.


Menjelang sidang Tamara, Zara sudah mulai menggunakan sepatu khusus untuk kakinya hingga bisa dipakai melangkah tanpa bantuan kruk, cukup tongkat saja. Pramudya merasa senang dengan kemajuan yang dicapai Zara sehingga dia yakin, gadis itu semakin percaya diri saat nanti akan maju menjadi saksi.


Hari ini adalah sidang hari pertama kasus percobaan pembunuhan pada Zara dan pembunuhan terhadap Nenek Aisyah dan Mukhlis alias Bandot. Zara akan datang meskipun belum menjadi saksi tapi dirinya akan tetap mengawal jalannya persidangan.


***


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Oma Angela saat berangkat bersama dengan Zara. Pramudya akan berangkat dari kantornya.

__ADS_1


"Baik-baik saja Oma... Hanya sedikit gugup... " Zara mengusap telapak tangannya yang basah di gaunnya.


"Wajar, sayang..." Oma Angela memeluk Zara. "Don't worry, kami semua akan selalu mendukung dan melindungi kamu..."


Zara membalas pelukan Oma Angela. "Terima kasih Oma..."


"Be brave, Zara. Si Mak Lampir tidak akan bisa menyakiti kamu ! Ingat, sayang, saat kamu maju menjadi saksi esok, jangan takut ! Tatap matanya, buktikan bahwa kamu adalah pemenangnya dan dia hanya wanita pecundang ! Angkat dagumu ke orang seperti itu ! Kamu hidup, kamu bersama kami, kamu bersama Pram, dan dia akan mati di penjara dengan kesendiriannya tanpa bisa mendapatkan kebebasan sama sekali !" Oma Angela terus memberikan semangat pada Zara agar gadis itu kuat dan pemberani.


"Terima kasih Oma. Saya akan mengingat bagaimana dia menabrak saya dan nenek tanpa ampun, tanpa emosi dan tanpa penyesalan. Bagaimana dia sangat despicable dan bodoh !"


Oma Angela semakin mempererat pelukannya. "Itu yang benar Zara. Kamu tidak salah, dia yang salah !"


"Iya Oma."


***


Para wartawan sudah berkumpul di depan gedung pengadilan karena tahu hari ini adalah sidang pertama kasus pembunuhan yang dilakukan putri pengusaha Hamid. Hamid sendiri kabur ke Taiwan dan meminta suaka ke pemerintah setempat hingga pemerintah Indonesia tidak bisa membawanya pulang karena tidak ada perjanjian ekstradisi. Ditambah tidak ada bukti jika Hamid terlibat dalam kasus yang dilakukan oleh putrinya.


Zara dan Oma Angela pun turun dari mobil dengan dikawal dua pengawal dari Ramadhan Securitas. Tak lama Pramudya pun datang bersama dengan Genta dan tiga pengawalnya demi melindungi dari para kuli tinta.


Oma Angela dan Zara tampak lega saat mereka masuk ke ruang sidang tertutup, hanya orang-orang tertentu yang bisa mengikuti jalannya sidang. Zara tersenyum saat melihat Pramudya masuk ke ruang sidang bersama Genta.


Pramudya langsung mengambil posisi duduk di sebelah Zara dan menggenggam tangannya seolah menenangkan kekasihnya. Mereka pun melihat Jimmy dan Toro pun datang bersama Letnan Arman. Dewa Hadiyanto datang bersama tunangannya, Alina Ratnadewi dan asistennya Ragil Wibisono.

__ADS_1


Zara merasa tenang karena dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang sangat melindungi dirinya dan memberikan support agar dia bisa berani serta tegar menghadapi sidang.


Jaksa penuntut umum pun masuk ke ruang sidang disusul dengan pengacara pihak Tamara bersama dengan gadis itu yang sumringah melihat Pramudya berada dalam deretan orang-orang di ruang sidang.


Zara dan Pramudya menatap dingin ke gadis itu. Zara sendiri tanpa sadar mengeratkan genggaman tangannya ke tangan Pramudya, membuat pria itu mengangguk lembut seolah mengatakan "You're safe."


Lima menit kemudian, Hakim ketua dan dua hakim anggota lainnya masuk ke dalam ruang sidang dan langsung menempati tempat yang disediakan yaitu meja dan kursi hakim. Semua orang yang ada di dalam ruangan pun berdiri saat para Hakim datang.



Zara merasa jantungnya semakin berdegup kencang setelah mereka semua duduk kembali. Mau dibilang banyak yang melindunginya tapi tetap saja dirinya merasa gugup luar biasa.


Zara menatap ke arah Tamara yang tampak tenang-tenang saja. Tiba-tiba amarah Zara muncul karena tahu gadis itu akan mengatakan bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa.


Jika kamu mengira dengan mengaku kamu gila merasa bisa bebas, tidak akan aku biarkan ! - batin Zara.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2