
Prima Hotel Tel Aviv Israel
Rombongan Jakarta pun segera membuat rencana untuk membawa Tamara pulang bagaimana caranya. Mereka tahu jika Tamara dijaga oleh para pengawal dari Lewi Nazarian.
"Ayah Lewi Nazarian kebetulan adalah salah satu klien bisnis perusahaan Jang Corp divisi kemanan perusahaan dan pribadi. Jadi sedikit permintaan dari Mrs Smith, saya rasa keluarga mereka lebih memilih untuk tidak ikut campur dengan urusan hukum Indonesia" jawab Boaz Chaika.
"Apakah Moon sudah menghubungi Mr Nazarian?" tanya David.
"Sudah Mr Satrio. Semoga ada kabar malam ini."
***
Ruang Kerja Benjamin Nazarian
"Aba memanggil aku?" tanya Lewi saat masuk ke dalam ruang kerja ayahnya.
"Tutup pintunya, Lewi" pinta Benjamin.
Lewi menutup pintu ruang kerja ayahnya dan duduk di depan meja kayu jati yang mewah itu. "Ada apa Aba memanggil aku?" tanya Lewi.
"Aba mendapatkan telepon dari Jang Geun-moon."
Lewi menatap bingung. "Pemilik Jang Corp? Ada apa? Apa ada masalah dengan kemanan perusahaan? Selama ini Jang Corp tidak pernah mengecewakan perusahaan kita."
"Bukan soal itu. Ini pribadi." Benjamin menatap putranya. "Jangan lindungi Tamara Hamid di mansion kita."
Lewi terkejut. "Kenapa Aba? Dia mainanku..."
"Dia mungkin mainanmu tapi dia DPO ( daftar pencarian orang ) di Indonesia. Dia membunuh hampir empat orang, Lewi. Cari wanita lain."
"Servisnya..."
"Lewi ! Cari wanita lain !! Kamu tahu ini berhubungan dengan keluarga Jang Geun-moon. Tamara mencoba membunuh tunangan keponakan Jang Geun-moon. Serahkan dia kepada polisi Indonesia yang sudah datang kemari ! Tamara membunuh nenek tunangan Pramudya Hadiyanto dan seorang residivis ! Aba tahu Israel tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia tapi Mossad berteman baik dengan keluarga Pratomo setelah kasus Hongkong. Eli Yaqub juga sudah menghubungi Aba. Intinya negara mengijinkan polisi Indonesia, yang diwakili Irjen Randy Hutabarat dan Letnan Arman untuk menangkap Tamara Hamid." Benjamin menatap serius ke putranya.
"Kapan aku harus menyerahkan mainan ku?" tanya Lewi yang tidak mau berurusan dengan Mossad. Bisa panjang urusannya..
"Besok kamu bawa Tamara ke pusat perbelanjaan. Disana sudah siap orang-orang yang akan menangkap Tamara. Jangan kamu halangi."
Lewi mengangguk.
***
Lewi pun masuk ke dalam kamar Tamara dimana gadis itu sudah siap dengan gaun tidurnya yang menerawang.
"Ada apa Lewi?" tanya Tamara saat melihat Lewi menutup pintu kamarnya.
"Besok kita akan jalan-jalan..." jawab Lewi sambil melepaskan kemejanya. "Dan malam ini, aku ingin kita brutal ... Aku ingin melihat kamu sampai merengek padaku untuk minta dipuaskan berkali-kali..."
__ADS_1
Tamara mendekati Lewi sambil melepaskan gaun tidurnya. "I'm yours Daddy... "
***
Prima Hotel Tel Aviv Israel
Kelima orang dari Jakarta berada di restauran hotel untuk menikmati sarapan saat kenalan David Hakim Satrio datang menghampiri mereka.
"Eli Yaqub !" seru David sambil berdiri dan menghampiri agen Mossad itu. "Tampak segar."
Eli Yaqub langsung memeluk David. "Lama setelah acara pernikahan di New York..." Pria cool itu datang bersama dengan beberapa anak buahnya. Eli memperkenalkan ke semua anak buahnya ke David.
"Iya, pas Bayu dan Ajeng menikah. Ayo, aku perkenalkan dengan rombongan Jakarta." David pun memperkenalkan semua orang dengan pihak Mossad.
"Aku sangat bersyukur kamu bisa membantu kami, Eli" ucap Randy tulus.
"Hei, aku hanya membantu saudara ku. Setelah Hongkong, aku merasa menemukan keluarga dan saudara baru jadi pada saat Benjiro Smith meminta tolong soal pelaku pembunuhan yang mencari aman di negara ku... Aku pasti membantu kalian" jawab Eli. ( Baca Jayde and Wira Stories ).
"Bagaimana dengan pemerintah Israel?" tanya David.
"Mereka mengijinkan kalian membawa tersangka kembali pulang ke Indonesia. Aku sudah menghubungi Benjamin Nazarian dan putranya, Lewi, akan menyerahkan Tamara di Tel Aviv Port Market nanti pukul sepuluh pagi." Eli membaca pesan dari Benjamin Nazarian.
"Good. Kita segera kesana usai sarapan" ucap Randy.
***
Dewa dan Pramudya duduk di sebuah cafe sambil menyesap kopi mereka sambil melihat sekelilingnya. Kedua saudara sepupu itu memilih untuk diam dengan pikiran masing-masing.
"Wa..."
"Yep?"
"Terimakasih..."
"Buat?"
"Semuanya. Bagaimana kamu sampai meminta tolong keluarga besar Tante Safira..." Pramudya menoleh ke arah Dewa.
"Sebenarnya aku malas bantu kamu... Harusnya kamu bisa bereskan sendiri tapi kamu itu terlalu lambat, Pram. Saat kasus tabrakan pertama Zara dan Martina, kamu sudah bisa menuntut Tamara tapi kamu malah menyembunyikan mereka berdua di rumah mu." Dewa menatap judes ke arah Pramudya.
"Aku yang salah, Wa... Sampai terjadi korban jiwa ..." Pramudya mengusap wajahnya. "Dan Zara memanggilku Jinx..."
"Memang sepatutnya Zara bilang kamu begitu ! Kamu terlalu lemot, kampret !" bentak Dewa gemas.
Pramudya menunduk.
"Sekarang tugas kamu adalah jika memang kamu mencintai Zara, yakinkan dia bahwa kamu bukan Jinx. Buktikan bahwa kamu bisa tegas, bisa menjadi imam yang diandalkan ! Macam aku ini ke Jeng Alina !" ucap Dewa lagi.
__ADS_1
"Sudah wejangannya Wa? Target sudah muncul" ucap David melalui earpiece yang dipakai semua rombongan Jakarta dan Eli Yaqub.
"Mana... Oh aku melihatnya... Pantas kalau dia aku bilang daughter of the b1tch ..." seringai Dewa. "Tampaknya ada semalam ada yang menikmati hard s3k5 yaaa..."
"Bagaimana kamu tahu.." tanya Pramudya.
"Hei, aku mantan player dan aku sudah khatam soal begituan... Meskipun sudah pensiun, aku mantan suhu ..." kekeh Dewa santai membuat Randy tertawa terbahak-bahak.
"Ampun deh COO Bank Arta Jaya satu ini" gelak Randy.
"Tenang Oom, aku sudah taubat nasuha jadi aman ... Bisa habis lah aku sama mamaku tersayang..."
"Heads up. Kita akan mulai..." ucap David.
***
Tamara dan Lewi berjalan sambil bergandengan dan sedikit berciuman mengelilingi market itu. Keduanya terkejut saat melihat Randy Hutabarat dan Eli Yaqub lengkap dengan seragam kepolisian dan Mossad.
"Selamat pagi Nona Tamara Hamid. Saya Irjen Randy Hutabarat dan Anda kami tahan dengan tuduhan melakukan konspirasi kejahatan, pembunuhan berencana dan membunuh dua orang, nyonya Aisyah dan Mukhlis alias Bandot. Dan ini adalah surat penangkapan anda nona." Randy menunjukkan surat penangkapan dari kepolisian Republik Indonesia.
"Dan ini adalah surat deportasi anda dari pemerintah Israel." Eli Yaqub memperlihatkan surat perintah deportasi Tamara.
"Apa kamu tidak tahu aku bersama siapa? Lewi Nazarian !" bentak Tamara. "Dan aku tidak perlu pulang ke Indonesia karena aku berada dalam perlindungan keluarga Nazarian !"
"Bawa saja Mr Hutabarat. Perlindungan kami, keluarga Nazarian, kepada Tamara Hamid, resmi kami tarik" ucap Lewi Nazarian sambil berjalan mundur.
"LEWI ! KAMU TIDAK BISA LAKUKAN INI !" teriak Tamara panik.
"Maaf Baby, our party is over. Dan terima kasih atas servisnya semalam yang membuat aku merasa puas berkali-kali" seringai Lewi. "She's yours !"
Pria berdarah Yahudi itu pun pergi meninggalkan Tamara yang berteriak - teriak. Letnan Arman dan David Hakim Satrio langsung memborgol tangan Tamara.
Gadis itu mengumpati semua orang sampai dia melihat wajah yang sangat dikenalnya.
"Mas Pramudya..." bisiknya dengan wajah penuh cinta.
"Pembunuh !" balas Pramudya dingin.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1