
Emersia Malioboro Hotel Yogyakarta
Zara menikmati pagi di kota gudeg itu sambil sarapan di hotel dekat dengan Malioboro, tempat iconic di Jogjakarta. Kabarnya belum afdol kalau kamu belum foto di papan jalan bertuliskan Malioboro sebagai bukti sudah di Jogja.
Gadis itu merasa sudah senang berlibur di Jogja dan ponselnya pun sudah diaktifkan dan langsung bergetar terus karena Zara mensilentnya. Pesan dari Pramudya dan Oma Angela mendominasi getaran ponselnya yang bergetar bertubi-tubi.
Zara masih belum ingin membalas semua pesan dan panggilan karena dirinya merasa ingin sendirian terlebih dahulu. Gadis itu pun menikmati sarapannya sembari melihat pemandangan kolam.
Tiba-tiba Zara terpekik saat seseorang memeluknya dari belakang dan mencium pipinya. Nyaris Zara berteriak minta tolong tapi saat tahu siapa yang berani menciumnya, gadis itu terkejut melihat wajah tampan yang selalu terbayang semalaman.
"Mas...Pram?" bisik Zara.
"Kamu kenapa kabur? Kamu kenapa pergi ? Apa kamu tidak memikirkan kami? Oma sampai nangis saat tahu kamu tidak pulang..." bisik Pramudya di sisi wajah Zara.
"Mas Pram, naik apa kemari?" tanya Zara yang melihat wajah lelah Pramudya.
"Mobil bersama Genta. Untung sudah ada tol jadi bisa delapan jam sampai sini dan langsung check in hotel yang sama denganmu..." Pramudya langsung duduk di sebelah Zara. "Kamu itu kenapa?"
"Mas Pram..."
"Apa?"
"Ambil sarapan dulu, nanti kita makan sambil ngobrol..." senyum Zara manis.
Pramudya menggelengkan kepalanya kesal namun mencium kening Zara. "Kamu njelehi !" umpatnya sambil berdiri dan mengambil sarapan untuknya.
Zara cekikikan.
***
"Jadi kamu ke Jogja buat menenangkan diri ? Ada rasa ragu mau menikah denganku?" Pramudya mendelik sedangkan Genta yang baru menyusul dengan muka bantal, memilih di meja lainnya untuk memberikan privasi pada pasangan calon pengantin yang sedang salah paham.
__ADS_1
"Mas, aku bersyukur keluarga mas Pram bisa menerima aku tapi akunya yang merasa insecure. Apakah aku bisa mendampingi mas Pram kalau ada acara seperti dulu, meskipun aku sudah belajar banyak dari Bu Andrea... Tapi tetap saja..."
"Zara, yang kamu ingat adalah, kamu bersamaku dan aku tidak akan membiarkan siapapun berani macam-macam sama kamu. Paham? Jadi buang rasa insecure kamu, dan tunjukkan bahwa kamu memang yang aku pilih sebagai pasangan hidupku." Pramudya menatap serius ke Zara. "Harus seperti apa aku meyakinkan kamu sayang?"
Zara menatap Pramudya dan mencium pipi pria itu. "Maafkan aku mas. Aku tidak jujur sama kamu kalau aku merasa panik sebelum menikah... Ini yang pertama dan terakhir kalinya aku akan kabur darimu..."
"Kalaupun kamu kabur, aku bakal bisa mencari dirimu seperti ini" senyum Pramudya.
"Bagaimana bisa mas Pram melacak aku kemari?" tanya Zara.
"Zara sayang, Dewa itu pintar dan kamu baru mematikan ponselmu setelah menghubungi oma. Tentu saja ping ponselmu bisa terlacak kamu terakhir dimana. Saat aku tahu kamu di Jogja, tadi malam aku langsung berangkat. Subuh tadi kan ponselmu nyala dan Dewa memberitahu dimana kamu. Aku langsung memesan hotel yang sama jadi bisa bertemu denganmu..." senyum Pramudya.
"Aku terlalu polos ya?" ucap Zara.
"Yep. Besok lagi, kalau ada apa-apa, cerita sama aku, sama Oma. Untung kamu cerita sama Alina yang cerita pada Dewa. Jadi aku tahu alasan kamu kabur kenapa. Dengar Zara, tidak hanya kamu yang gugup menjelang pernikahan, aku juga. Kita maunya sederhana tapi keluarga Dewa mana mau tahu itu. Aku salah ucap qobul, berabe !" Wajah Pramudya tampak serius. "Bisa - bisa jadi bahan ejekan."
"Mas Pram juga gugup?" tanya Zara terkejut. Setahunya, Pramudya adalah pria yang selalu percaya diri.
"Gugup lah sayang ! Serius ! Ijab qobul itu ucapan sakral yang seyogyanya kita ucapkan sekali seumur hidup dengan pasangan yang sudah kita pilih. Itu adalah janji aku kepada Allah SWT bahwa aku akan selalu menjadi imam kamu, pembimbing kamu, suami kamu, sahabat kamu, partner kamu dan ayah bagi anak-anak kita kelak yang wajib aku didik dengan benar baik secara moral dan akhlak."
"Jadi sayang, kita wajib untuk terbuka. Apapun itu. Baik sesuatu yang baik atau tidak. Jika ada masalah, kita diskusikan berdua, kita cari jalan keluarnya.. Jangan kamu pendam sendiri. Masalah tidak akan selesai jika kamu diam saja kecuali kamu sudah memiliki solusi untuk menyelesaikannya..." Pramudya menggenggam tangan Zara. "Kamu masih mau jalan-jalan di Jogja dulu sebelum pulang?"
"Boleh mas?" tanya Zara.
"Boleh lah. Sekalian beli oleh-oleh. Lihat, biarpun Oma cemas, tapi soal oleh-oleh tetap ada listnya" jawab Pramudya sambil memperlihatkan pesan Oma Angela yang berisikan daftar oleh-oleh yang harus dibeli Pramudya.
"Ehem ... " Genta menghampiri pasangan itu. "Kalian sudah berbaikan?"
"Alhamdulillah sudah" senyum Pramudya dan Zara bersamaan membuat Genta tersenyum.
"Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya." Genta duduk di depan pasangan itu. "Pram, elu mau pergi sama Zara kan? Gue kagak ikut ya. Gue mau tidur tapi kalau elu pulang, bawain gue makanan enak ya."
__ADS_1
Pramudya tertawa. "Iya deh, elu tidur aja. Gue pergi sama Zara. Gue kasihan sama elu yang sudah nyetir semalaman. Thanks bro."
"Pokoknya makanan yang enak ye !" ucap Genta sambil berdiri. "Untung kamu perginya cuma ke Jogja, Ra. Coba kalau kamu ke Bali... Lebih seru lagi...." Genta pun ngeloyor meninggalkan pasangan itu.
"Genta ! Kunci mobil?" tanya Pramudya.
"Ada di meja kamar. Ambil saja sendiri !" balas Genta.
Pramudya menatap Zara. "Mau jalan-jalan jam berapa? Kamu ganti baju kan?"
"Ganti mas. Aku jadi go show kesini langsung beli baju..." cengir Zara.
"Dasar !" Pramudya memeluk Zara. "Jangan bikin kami semua panik ya?"
Zara mengangguk dalam pelukan Pramudya.
***
Menjelang jam sebelas siang, Pramudya dan Zara sudah berada di dalam mobil pria itu menuju lokasi tempat daftar oleh-oleh yang dibuat oleh Oma Angela. Zara pun tampak senang berduaan bersama Pramudya, sesuatu yang jarang mereka lakukan jika di Jakarta karena Pramudya selalu sibuk.
Pramudya pun menikmati acara simple escape seperti ini dan mengakui ternyata ide Zara kabur pun tidak jelek - jelek amat. Melihat wajah berseri Zara bersama dengan dirinya sambil bergandengan tangan, membuat Pramudya tersadar jika dirinya selama ini jarang mengajak gadisnya berjalan-jalan karena weekend dia lebih suka di rumah.
Ternyata Zara ingin berduaan dengannya. Pramudya berjanji akan lebih sering mengajak Zara pergi berdua dan mengakui dirinya terlalu workaholic.
Terkadang hal sepele akan menjadi besar jika tidak menyadari bahwa itu merupakan b*m waktu kalau tidak segera diselesaikan.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️