Zara Untuk Pramudya

Zara Untuk Pramudya
Percakapan Dari Hati Ke Hati


__ADS_3

Ruang Interogasi Polda Metro Jaya Jakarta


Oma Angela menatap tajam ke Tamara yang membalas dengan tatapan yang sama.


"Yang seperti ini yang ingin menjadi menantu keluarga Hadiyanto? Berani pada sama aku... Jangan-jangan jika Pramudya cukup bodoh menerima kamu dan kamu berhasil memperdaya kami semua... Kamu akan membunuhku kan?" ucap Oma Angela.


"Maybe. Jika anda menghalangi kebahagiaan aku dan mas Pramudya..." balas Tamara santai.


Oma Angela tertawa sinis. "Untung cucuku mewarisi kepintaran keluarga nya. Dia tidak akan memilih kamu yang oportunis dan psikopat macam kamu ! Karena kamu sangatlah berbahaya ! Aku harap hakim tidak akan mengirim kamu ke RSJ... Karena kamu bisa memanipulasi hasil psikotes... Kamu itu terlalu cerdas bagi orang-orang yang kurang paham siapa kamu sebenarnya... "


Tamara bertepuk tangan meskipun sedikit kesulitan karena kedua tangannya diborgol. "Bravo nenek tua... Bravo ! Apakah kamu memang terlalu berkhayal atau kebanyakan membaca tentang para pembunuh? Atau... Belajar tentang psikologi?"


"As a matter of fact, aku memang lulusan psikologi dan mengambil jurusan klinis. Jadi, tidak salah kan analisa aku?" senyum Oma Angela. Wanita anggun itu pun berdiri. "Sampai jumpa di pengadilan."


Oma Angela berjalan keluar pintu ruang interogasi yang disambut Irjen Randy Hutabarat.


"Letnan Arman, kawal Polwan Gita dan polwan Yuni membawa tersangka Tamara Hamid ke sel nya. Borgol tangan dan kakinya dengan rantai panjang karena dia sangat berbahaya" perintah Randy.


"Siap pak !"


Randy pun memberikan lengannya ke Oma Angela yang memegangnya. Petinggi polri itu pun menuntun anggota keluarga Hadiyanto keluar ruang interogasi tersebut.


"Dia seorang psikopat, Nak Randy."


"Benar Bu Angela. Saya pastikan, Tamara Hamid dalam kondisi waras saat melakukan semua tindakan kriminal itu" ucap Randy serius.


"Apakah dia akan didampingi pengacara?" tanya Oma Angela.


"Itu hak Tamara, Bu Angela tapi yang jelas, kalau kantor pengacara Blair and Blair di Jakarta tidak akan membelanya."


Oma Angela mengangguk lega.


***


Ruang Rawat Inap Zara di RS PRC Group Jakarta


Zara menatap wajah lelah Pramudya yang sedang asyik makan bento yang dibawa Juned. Entah mengapa ada rasa bersalah membuat hati Zara berdenyut nyeri. Pak Pramudya sampai pergi ke Israel demi membawa Tamara pulang, dan itu bukan biaya yang sedikit.

__ADS_1


Zara menghela nafas panjang. Belum biaya Martina, biaya aku... Ya Allah, apakah aku jadi wanita jahat? Aku tahu nenek meninggal itu bukan kesalahan Pak Pram... Tapi pak Pram seolah mengambil semua tanggung jawab yang dilakukan oleh Mak Lampir itu...


"Kamu kenapa Zara?" Pramudya menoleh ke arah Zara yang dari tadi tidak semangat makan bentonya. "Apa kamu mau makanan lain? Aku pesankan?"


Zara menggelengkan kepalanya dan matanya mulai berkaca-kaca. "Pak Pram..."


Pramudya meletakkan kotak bentonya dan bergegas menghampiri Zara. "Ada apa? Apa yang sakit ? Aku panggilkan Oom Arga ya?" Pramudya hendak memencet tombol dekat tempat tidur Zara namun tangan gadis itu mencegahnya.


"Nggak pak... Saya... " Zara menengadahkan wajahnya berusaha agar air matanya tidak jatuh. "Saya tidak... "


"Kamu tidak apa?" tanya Pramudya bingung. "Katakan padaku. Kamu kenapa?"


Zara menatap Pramudya dengan wajah bersalah. "Maafkan saya pak... Saya sudah memaki anda padahal jauh lebih sakit serta sedih karena saya menuduh anda menjadi penyebab kematian nenek..."


"Tidak apa Zara... Kamu berhak melakukannya karena kamu tidak tahu yang sebenarnya..." jawab Pramudya lembut.


"Bapak sudah habis banyak untuk saya, Martina bahkan jauh-jauh ke Israel demi menangkap wanita ular itu..." Air mata Zara jatuh membasahi pipinya.


Runtuh sudah pertahanan Pramudya yang langsung memeluk Zara erat. "Aku ingin menebus nya Zara... Aku merasa bersalah karena akulah yang menyeret kalian ke dramaku. Bahkan aku secara tidak langsung penyebab meninggalnya nenek Aisyah, kamu dan Martina harus menerima akibat kecelakaan kemarin... Aku merasa bersalah membuat kamu kehilangan satu ovarium ..." isak Pramudya. "Kamu tidak tahu bagaimana rasa bersalah ku, Zara..."


"Pak Pram..."


"Aku sangat berdosa sama kamu, Zara... Nenek Aisyah, Martina..."


"Pak Pram... Bukan salah pak Pram... " ucap Zara sambil mengusap punggung Pramudya lembut.


"Tetap ini salahku..."


"Pak, bapak sudah banyak bertanggungjawab... Sudah cukup banyak pengorbanan yang bapak lakukan..."


Pramudya melepaskan pelukannya dan memandang wajah Zara. "Aku merasa belum cukup, Zara."


"Pak, apapun yang bapak lakukan, itu sudah lebih dari cukup. Bapak tidak bisa mengembalikan nenek, tidak bisa mengembalikan ovarium saya yang hilang... Tapi bapak sudah berusaha sedemikian kerasnya untuk memperbaiki semuanya dan menurut saya more than I expected." Zara mengangkat tangannya yang tidak kena infus ke wajah Pramudya. "Stop menyalahkan diri bapak sendiri... Karena seharusnya, wanita ular itu yang memiliki perasaan seperti bapak... Tapi karena dia tidak memiliki empati, jadi mana bisa dia seperti bapak... Enough ya pak. Saya tidak akan menuntut bapak macam-macam lagi tapi saya minta agar wanita ular itu mendapatkan ganjaran nya."


Pramudya memegang tangan Zara yang berada di pipinya. "Terima kasih Zara. Setidaknya ucapan kamu membuat beban aku terangkat sedikit..."


Zara tersenyum. "Maafkan saya sekali lagi pak..."

__ADS_1


Pramudya mencium telapak tangan Zara membuat gadis itu terkejut dan wajahnya memerah. "Aku sangat mencintaimu, Zara ... Bahkan saat kamu memakiku seperti kemarin, aku terima dan tetap mencintaimu..."


Zara melongo.


"Aku sudah menyatakan perasaan aku ke nenek Aisyah sebulan sebelum kejadian naas itu tapi aku belum sempat menyatakan padamu... Kalian kecelakaan..."


"Apa kata nenek, pak?" tanya Zara yang penasaran dengan jawaban neneknya.


"Beliau memberikan restu dengan syarat aku harus melindungi kamu tapi ... Aku melanggarnya... Padahal aku sudah berjanji..."


"Bukan salah pak Pram, sekali lagi. Itu salah nenek lampir..." potong Zara. "Tapi pak... Apa bapak yakin?"


"Zara, aku sudah jatuh cinta padamu saat kamu dan aku berduet bersama."


Zara semakin terkejut. "Pak... Bagaimana..."


"Kamu mengkhawatirkan apa Zara? Wanita itu sudah ditangkap polisi dan dipenjara. Kamu aman sekarang dan aku akan lebih ketat menjagamu... Termasuk saat kamu maju di persidangan untuk menjadi saksi."


"Tapi... Saya sudah tidak sempurna..."


"Zara, memiliki satu ovarium bukan berarti tidak bisa memiliki anak. Bisa ... Jika kamu menjadi istriku nanti, dan kamu tidak bisa memberikan keturunan, itu bukan kiamat. Percayalah, Allah pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita..."


"Pak Pramudya yakin?" Zara masih menatap Pramudya dengan raut ragu akan ucapan pria itu.


"100 persen yakin. Zara, aku bukan pria yang suka ingkar janji. Apa yang sudah aku putuskan, maka akan aku jalani..." jawab Pramudya tegas.


Zara hanya terdiam sembari memandang wajah tampan itu.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2