
Kediaman Keluarga Hadiyanto
Oma Angela mengadakan acara syukuran kecil-kecilan dengan semua anggota keluarga Hadiyanto karena Tamara mendapatkan hukuman yang setimpal. Selain acara makan - makan di rumah bersama dengan para anggota keluarga, Oma Angela juga mengirimkan banyak makanan dan sembako ke panti asuhan dan panti Werdha.
Zara tampak bahagia dan senang karena semua anggota keluarga Hadiyanto menerima dirinya bahkan Tante Sisil sepupu Bagas memeluk erat gadis itu saat tahu bagaimana penderitaan yang dialami kekasih Pramudya itu.
"Yang jelas, Pramudya tidak mau kalah dengan Dewa, ingin melepas masa lajang" kekeh Bagas saat mereka semua berada di ruang tengah.
"Aku dan Zara ingin sederhana, Oom. Ijab dan resepsi disini tanpa pasukan sirkus dari keluarga Pratomo..." pinta Pramudya penuh harap.
Dewa terbahak mengingat saat dirinya lamaran ke Alina yang tadinya hendak diam-diam saja, endingnya menjadi rusuh khas keluarga Pratomo.
"Tenang saja Pram. Ini kan acaranya keluarga Hadiyanto, keluarga Pratomo tidak akan ikutan rusuh. Biar nanti Tante yang bilang !" ucap Safira yang tahu kalau Pramudya dan Zara tidak mau pesta mewah karena keadaan.
Zara adalah gadis sederhana dan sudah pasti dia tidak nyaman dengan pesta mewah. Semua keluarga Hadiyanto tahu itu. Oma Angela yang menjadi tetua keluarga pun, meminta menghormati permintaan Pramudya dan Zara. Sisil tampak mengusap air matanya.
"Kalau mas Chandra masih ada, pasti dia senang sekali mendapatkan calon menantu macam Zara. Soalnya pernah bilang berharap Pramudya mendapatkan gadis yang sederhana dan tidak materialistis" ucap Sisil yang kemudian dipeluk oleh suaminya. "Zara, jaga Pramudya ya... Begitu juga kamu Pram. Kalian berdua sudah tidak perlu berhubungan dengan wanita kutu kupret itu dan sudah saatnya mendapatkan kebahagiaan sendiri. Okay?"
"Baik Tante" jawab Pramudya dan Zara bersamaan.
***
Akhirnya diputuskan pasangan Pramudya dan Zara menikah bulan depan dan Dewa terpaksa tidak datang di acara pernikahan Nadya dan Omar Zidane di New York yang akan dilakukan pada bulan yang sama.
Keluarga Hadiyanto pun menyetujui untuk mengadakan ijab dan resepsi sederhana di kediaman Oma Angela dengan tamu terbatas. Zara merasa lega karena semua keluarga Pramudya tidak mempermasalahkan untuk ijab sederhana.
Setelah semuanya setuju, Pramudya dan Zara mulai mempersiapkan semua berkas untuk menikah yang akan diurus oleh Genta nantinya. Usai makan malam, semua anggota keluarga pun pulang meninggalkan Oma Angela, Pramudya dan Zara di rumah.
"Zara, kamu nggak main piano? Oma kangen deh .." pinta Oma Angela.
"Baik Oma... " Zara pun menuju kursi tempat piano milik Keluarga Hadiyanto berada. Tak lama alunan lagu dari film Interstellar berkumandang di ruang tengah rumah itu.
__ADS_1
Pramudya hanya menatap kagum mendengar Zara memainkan dengan penuh perasaan. Usai memainkan lagu dari Interstellar, Zara melanjutkan dengan lagu Golden Hour dari JVKE.
Oma Angela tampak menikmati permainan calon cucu menantunya. "Ya ampun, Zara memang sangat berbakat."
"Yes she is" jawab Pramudya lembut.
***
Zara dan Pramudya memilih berbicara di teras belakang guna membahas rencana pernikahan dan setelahnya.
"Kamu mau tinggal disini atau kita pindah?" tanya Pramudya.
"Tinggal disini saja mas. Aku bisa menemani Oma juga..." jawab Zara lembut.
"Benar? Kamu ingin bekerja tidak?" tanya Pramudya lagi.
Zara menggelengkan kepalanya. "Maaf mas, aku memilih menjadi ibu rumah tangga dan juga menemani Oma. Bagaimana pun, aku sudah kehilangan nenek tapi aku mendapatkan Oma dan aku ingin bersama dengan beliau... Seperti mencoba membayar kehilangan aku..."
Pramudya memegang tangan Zara. "Aku tidak salah memilih calon istri. Terima kasih Zara..."
"Apa itu?"
"Aku ingin nyekar ke makam nenek. Aku belum laporan kalau pembunuh nenek sudah mendapatkan hukuman yang setimpal..."
"Tentu saja kita akan kesana. Bagaimana besok Sabtu?"
Zara mengangguk dengan wajah sumringah. "Aku setuju mas."
***
Hari Sabtu
__ADS_1
Zara dan Pramudya mendatangi pemakaman tanah kusir tempat nenek Aisyah dimakamkan. Zara duduk di pinggir gundukan tanah kubur itu dan mulai membaca doa. Pramudya dengan sabar memayungi gadis itu karena memang cuaca agak panas, dan dia tidak mau Zara kepanasan.
Pramudya melihat banyak pelayat yang datang di akhir pekan ini meskipun tidak ada hari raya.
"Mas Pram?"
Pramudya menoleh ke Zara. "Ada apa sayang?"
"Tangannya nggak pegal tuh? Pegangi payung ..." goda Zara.
"B aja. Wong biasanya juga angkat barbel" jawab Pramudya santai membuat Zara tertawa kecil. "Sudah doanya?"
"Sudah. Mas Pram mau mengirimkan doa?"
Pramudya mengangguk lalu berjongkok di sebelah Zara. "Assalamualaikum nenek Aisyah... Alhamdulillah, Tamara mendapatkan hukuman yang setimpal dan insyaallah dalam waktu dekat akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Nek, ada satu hal yang hendak aku sampaikan. Insyaallah bulan depan, aku dan Zara akan melaksanakan ijab kabul... Meskipun nenek sudah tidak ada, tapi aku berharap nenek hadir di acara yang sakral itu. Kami menikah secara sederhana saja nek, hanya ijab dan resepsi di rumah keluarga Hadiyanto... Kami...tidak nyaman pernikahan mewah..." Pramudya menatap ke Zara. "Nenek tenang saja, Zara akan selalu dalam perlindungan aku karena aku sangat mencintainya..."
Wajah Zara memerah saat mendengar Pramudya mengucapkan kalimat mesra seperti itu. "Mas..."
"Aku tidak akan membiarkan kamu terluka lagi, Zara. Aku akan selalu melindungi mu tapi tetap memberikan ruang padamu untuk mengembangkan diri ... Kamu mau kursus atau belajar piano lagi, aku bebaskan karena aku tidak mau menjadi burung dalam sangkar emas yang tidak memiliki kebebasan berekspresi... Aku suka melihat kamu bisa lebih menikmati hidup seperti apa yang kamu ungkapkan... Bersyukur bahwa masih diberikan kesempatan hidup di dunia... Aku ingin kamu menjadi orang yang bisa menjadi inspirasi bagi orang lain ..." lanjut Pramudya panjang lebar membuat mata Zara berkaca-kaca.
"Mas Pramudya..." bisik Zara.
"Percayalah padaku Zara... Aku tidak akan menjadi suami yang super posesif karena aku juga tidak suka terlalu dikekang. Selama kamu melakukan tindakan positif bagi dirimu, aku tidak akan melarangnya..." senyum Pramudya.
"Kalau aku tidak ingat sedang ada di pemakaman, aku mau memeluk mu mas... Tapi nanti jadi viral, sepasang kekasih pelukan di kuburan... Kan nggak lucu..." senyum Zara membuat Pramudya tertawa geli.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️