" Aku Bukan Anak Kesayangan"

" Aku Bukan Anak Kesayangan"
bab 2 mesteri baju


__ADS_3

"Mak" teriakan kakak sangat keras.


kebetulan hari Minggu di mana kami sibuk dengan kegiatan masing masing.


dia keluar dari kamar menuju ke dapur, karena mamak lagi sibuk memasak di dapur.


mamak hanya menoleh saja.


"mamak lihat gak bajuku warna putih yang bermotif bunga" dengan kentus dia berkata.


" gak tau" mamakku menjawab.


"lah kalau gak tau terus kemana" kakakku bertanya lagi.


"cariin dulu " mamakku menjawab dengan pelan. kembali lagi dia mencari baju ke kamar, dengan mengacak acak rak bajunya.


tiba tiba kakakku mengkagetkanku yang berada di belakang rumah lagi menjemur pakaian yang baru selesai aku cuci.


sambil menarik baju yang pegang dengan kuat.


" kenapa Lo cuci bajuku" dengan suara keras.


"lah mana aku tau, lagian baju kakak ada di keranjang baju kotor" aku jawab dengan kesal.


kakakku selalu memisahkan baju kotor dari baju kotor kami.


dan dia juga tidak pernah mau kalau bajunya dicuci oleh siapa pun termaksud mamakku.


aku melanjutkan kembali kesibukanku.


"udah di cuci , marah marah lagi". dengan kesal aku mengatakannya.


" siapa suruh di cuci, lagian emang ada aku suruh ahhh " dengan suara lebih keras lagi, dengan menatapku melotot.


aku menatap dengan kesal, dan aku langsung masuk ke dalam rumah langsung menuju dapur, mamak yang sudah siap masak dan menyajikannya diatas meja makan. aku yang disusul kakak dari belakang menuju dapur menarik tanganku.


" apa maksudmu ngelihatin aku seperti tadi" dengan seolah menantang ku.


aku yang langsung duduk di meja makan , niat makan karena udah lapar. kakak menarik lagi tanganku


" apa maksudmu" dia bertanya dengan keras.


"gak ada maksud Kak" aku jawab dengan suara masih kesal.


gak usah belagu , sok cari perhatian dengan suara masih marah.


" ada apa " kata mamakku yang menatap kami satu persatu.


berantem terus , berantem terus dengan suara agak kuat, karena mamak kesal melihat kami .


dengan membereskan dapur yang berantakan .


" bela terus, bela terus anak kesayangan"


dengan suara agak menyinggung.


" membela siapa mamakku menjawab" arah pandangannya kepada kakaku dan memberhentikan kesibukannya sedangkan aku sibuk mengambil nasi yang sudah sediakan dan langsung makan karena perutku sudah lapar banget.


" jadi siapa lagi kalau bukan anak kesayangan mamak ini" dengan mengarahkan matanya kepadaku.


aku tidak menghiraukan perkataan kakakku , karena aku sudah terbiasa dengan omongannya seperti itu.

__ADS_1


" kenapa jadi anak kesayangan???


bukan kamu yang tadi marah marah hanya karena baju?? "


baju sudah ketemu, apalagi ???


kata mamak ku dengan menurunkan suaranya yang tadi agak keras.


terus kenapa bajuku di cuci??


dengan suara masih keras.


" aku sudah bilang sama kakak, emang baju kakak di keranjang baju kotor, kalau aku tau gak maupun cucunya." dengan cetus aku menjawabnya dan melanjutkan makannya.


pasti kamu paka baju aku kan?? dengan. ketok kepalaku.


"apa sich kakak, sakit tau kak" dengan mengelus kepalaku dan menatapnya.


" kebiasaanlah tangan ini, ringan tangan ". dengan menarik tangan kakaku.


kakak menepis tangan mamakku.


"biarin emang aku peduli"


dengan ketok kepalaku lagi.


" kamu" kata mamak ku sambil memandangnya,


"bodo amat" kakak langsung pergi kemarnya.


"kamu juga ngapain kamu cuci bajunya"


udah tau kakakmu gampang emosian!!


mana aku tau Mak , tiba tiba aja ada di keranjang baju kotor, namanya udah keburu di rendam. mau di apa lagi ."


aku jawab dengan masih kesal terhadap kakakku.


"bapak mana Mak , dari tadi aku gak lihat". sambil meneguk kan air minum.


udah pergi ke kebun karet dari tadi masih subuh kata mamakku. dan kami pun melanjutkan makan yang tertunda.


aku dan kakak jarang akur, aku juga tidak tau kenapa. sejak dari lahir aku , kakak suka kata kasar denganku dan aku juga tidak tau kenapa, setiap apa aku lakukan di matanya salah.


mawar ...


mawar...


mawar...


aku menoleh ke arah pintu depan, dan bergegas langsung ke arah suara. dan ternyata suara itu adalah suara temanku.


" apa lita " aku jawab sambil menghampirinya yang sudah duduk di kursi teras.


Lita adalah sahabatku dari kecil, dan sampai sekarang kami masih bersahabat, masih satu sekolah cuman beda kelas,


dia sama denganku orang tertutup, tidak banyak bicara lebih pasnya pendiam.


selama aku berteman dengan dia, dia tidak pernah curhat mengenai keluarganya. meskipun aku tau , keluarga kurang harmonisnya, beda dengan ku dia dari kalangan keluarga yang cukup mampu.


dia tidak pernah kekurangan apapun , segala keperluan selalu di penuhi.

__ADS_1


" main yuk " dengan senyuman manisnya.


"kemana " aku jawab.


" tempat biasa" sambil berdiri dan menarik tanganku.


" iya iya , sambil mengikutinya.


" dasar mamak mamak kurang ajar, kalau gak tau apa apa gak usah banyak omong"


urusin saja keluargamu, kayak benar saja keluargamu.".


hai Lina, mulutmulah sopan sidikit.


itu orangtua lho , kok gitu ngomongnya.


seorang perempuan yang tidak jauh umur dengan kakaku, tapi dia sudah berkeluarga.


" emang kenapa, meski orangtua aku gak peduli. seharusnya dia sebagai orang tua kasih contoh, bukan bisa bisa nya menghina hina keluarga orang. dengan suara masih keras.


hai nenek lampir,, sekali lagi engkau menghina keluargaku., ku matikan dirimu.


dengan menunjukkan jari ke arah yang dia maksud.


" udah udah Lin" gak usah di gubris , sri langsung menarik tangan kakaku.


Sri adalah sahabat kakakku dari kecil, aku juga tidak tau kenapa si Sri betah dengan kakakku yang super galak.


semua orang agak ngeri sih dengan kakakku yang super galaknya.


apalagi mamak mamak yang ada di kampung ku , kalau ketika kakakku sudah marah pasti semua diam.


"sekali lagi nenek lampir ngomong seperti itu, kucekik kau hidup hidup" dengan menatap emosi.


" udah udah ayo kita pergi" kata Sri untuk kakakku Lina.


sambil meninggalkan kumpulan kumpulan mamak mamak lagi gosip.


ketika hari Minggu rata rata mamak mamak di kampung kebanyakan libur kerja. meskipun mereka punya kebun sendiri. tetap aja mereka libur.


" kok segitu kamu marah Lin" kata Sri


sambil melanjutkan perjalanan ke tujuan mereka.


"dia orang tua , gak pantas kamu ngomong seperti itu" Sri masih melanjutkan lagi omongannya.


" terus pantas gimana" kakakku menjawab


Sri tidak bisa menjawab.


" omongan nenek lampir itu sudah keterlaluan, berani beraninya dia menghina keluargaku" dengan suara masih emosi.


"orangnya sudah seperti mau kita apain lagi"


Sri menjawab.


iya , tapi biarkan seperti itu jadi kebiasaan. maunya tadi tu mulut nenek lampir di sobek sobek biar mulut nya gak sembarangan ngomong. dengan masih suara masih emosi.


nenek lampir yang di maksud kakakku adalah tetanggaku yang sering gosip mengenai keluarga kami. kami juga tidak tau kenapa dia tidak suka dengan keluarga kami. bahkan kami tidak pernah bermasah dengan dia, jangan masalah minta beras aja tidak pernah.


tapi dia hobi sekali menghina hina keluargaku. apalagi mengina orangtuaku.

__ADS_1


terkadang aku juga lihat tetanggaku itu agak kesel, cuman aku gak seberani kakaku.


__ADS_2