
Ting... Ting...
Ting.. Ting...
suara bel menandakan jam istirahat.
" jajan yok ke kantin" kata Erni terhadapku.
"gak ah, aku tadi bawa bekal dari rumah" aku jawab dengan senyum tipis.
" oke aku tinggal " kata Erni yang langsung menunjuk keluar .
aku yang selalu bawa bekal dari rumah. dan uang jajanku tidak pernah aku gunakan. setiap ada uang jajan aku selalu tabung. udah berapa bulan sekolah , aku belum pernah menginjakkan kantin, karena aku selalu bawa bekal yang selalu aku sediakan.
aku ambil bekalku dan kubuka dengan segera aku ingin menyantapnya.
tiba tiba saja
hai mawar.. aku langsung mengarahkan pandanganku terhadapnya.
anak laki laki yang sering menjalin aku dengan tersenyum namanya Hendra.
aku diam saja dan melanjutkan makanku.
aku tidak terbiasa berteman dengan anak laki laki, meskipun ada hanya abangku seorang atau bapakku saja.
" lagi makan ya"
dengan tersenyum padaku. dan aku tidak menoleh sama sekali.
" ada pesan dari dia.. "
katanya dia mau ketemuan denganmu di tempat biasa dia nongkrong sekarang ya.
" awas kalau gak datang". sambil membawa cemilanku sebagian dan langsung pergi.
* aku gak mau teriakku" dengan keras tapi dia tidak menghiraukanku.
berselang beberapa menit temanku lita datang.
" ke taman yok"
aku baru selesai makannya.
"ayo" kataku.
kami langsung menuju ke taman sekolah di di tempat kami biasa nongkrong. dia juga gak terlalu suka jajan .. jadi jam istrahat kami selalu ke taman sekolah , karena adem dan segar yang tidak terlalu panas karena banyak pepohon bunga yang menghalangi matahari.
tiba tiba saja.. ada suara menyapa menganggu kami yang lagi asyik bercerita.
hai mawar..
kami langsung melihat ke arah suara tersebut yang sudah berada di depan kami.
"hai lita" di menyapa temanku juga.
" hai juga" lita membalas sapaannya.
"bolehkah aku ngomong berdua dengan mawar" katanya lagi.
" iya"
jawab lita dan langsung pergi
meninggalkanku.
"bolehkah aku duduk di sebelahmu"
"terserah " aku jawab dengan rada agak kesal.
namanya adalah ijon. dia adalah teman sekelas denganku anaknya pintar, ramah baik, sopan.
"kok ada disini"
"emang kenapa "
bukannya tadi Hendra sudah sampaikan pesanku terhadapmu.??
Hendra adalah sahabatnya , cuman mereka beda kelas . ijon satu kelas denganku sedangkan Hendra satu kelas dengan lita.
ijon sering ajak aku ngobrol , cuman aku susah nyambung dengan orang baru. meskipun sudah sering bertemu dengan dia ngomongnya alakadar saja.
bahkan dia sering ajak aku main ke kantin aku tidak pernah mau.
" aku mau mengatakan sesuatu"
" katakan saja"
"aku suka denganmu"
sambil melihat aku... dengan serius.
__ADS_1
aku juga melihat dengan kaget. dan langsung menundukkan kepalaku.
" jawabanmu apa" kata nya lagi.
aku semakin menunduk kan kepala.
" maukah engkau jadi pacarku"
katanya lagi dengan lembut.
mendengar kata katanya membuatku merinding.. karena aku tidak tau jawab apa.
dan takut aku
menangis terisak isak
dan dia langsung kebingungan.. dan menatapku dan bertanya
" kamu kenapa, jangan nangis nanti anak anak yang lain kira aku apa apain kamu lagi"
aku masih saja menangis terisak Isak.
dan dia mencoba terus membujuk agar aku tidak menangis.
" ada Jon " tiba tiba saja ada suara mengarah kami.
" ini bang dia nangis"
"kamu apain " katanya lagi
" gak aku apa apain bang" katanya lagi.
udah mawar kamu jangan nangis lagi nanti kira anak anak yang lain di apa apain lagi." kata Fero. dia adalah kakak kelas kami. dan sekalian teman dekat ijon, mungkin ijon banyak cerita tentang aku, maka dia tau namaku. dan aku juga baru kenal beberapa hari ini , karena sering main kelasku .
"emang ijon ngomong apa " dia bertanya lagi kepadaku.
aku pelan pelan mengangkat kepalaku yang tertunduk dari tadi dan mengarahkan pandanganku terhadap Fero.
aku menjawab dengan pelan
"dia bilang suka denganku" dengan suara yang masih pelan.
terus Fero mengarahkan pandangannya sama ijon dan mengarahkannya lagi kepadaku.
" terus kenapa kalau. ijon bilang suka denganmu"?? dengan penuh tanya.
" aku masih kecil bang" dengan suara pelan dan masih terisak Isak.
" Jon , mawar masih kecil jangan ajak pacar pacaran ya dengan agak ketawa sambil mengejeknya.
ijon yang bertingkah konyol ketika mendengar kata kata dan di tambah lagi ejekkan Fero terhadapnya.
Ting ....
Ting....
Ting...... bel bunyi tanda masuk kelas. kami langsung bergegas masuk kelas dan ijon mengikutiku dari belakang karena kami satu kelas.
"kenapa war" Erni bertanya heran terhadapku.
" gak kenapa kenapa "
terus kenapa mata kamu merah dan sebab, seperti habis nangis??? kata Erni lagi dengan penasarannya.
aku hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Erni. dan langsung duduk di bangku.
"siang anak anak "
siang Bu, kami serentak membalas sapaan Bu guru.
guru yang paling galak disekolahku.
guru matematika Bu ES ( Ely Simanjuntak)
dia suka marah marah tanpa sebab. bukan nya aku tidak suka matematika, tapi karena guru nya aku jadi malas belajar matematika. suka buat tugas banyak banyak, tapi tak pernak di periksa ma dia, setelah beberap Minggu suka di tanyain tugas sudah selesai apa belum, padahal sudah berlangsung beberapa Minggu.
kamu tadi kenapa??
seperti habis nangis pas setelah selesai bicara dengan ijon??
dengan penuh tanya
mengarahkan pandangannya terhadapku.
kami yang lagi rebahan tempat tidur lita karena kakak lagi marah marah di rumah,akunlangsung kerumahnya lita dari pada kenal omel mending menghindar.
" gak " aku jawab
"masa sichh " dengan ejekan
iya - iya aku jawab nada tinggi tapi bukan marah.
__ADS_1
"masa dia bilang suka denganku???" dengan muka polos mengarahkan pandanganku terhadap dia.
" terus kamu jawab apa"
katanya lagi dengan penasaran dan muka serius menunggu jawabanku.
" ya aku nangis" dengan muka masih polos tapi rada agak kesal. mengingat perkataan ijon yang tadi siang.
" kenapa nangis" sambil ketawa seolah olah merasa geli dengan jawabanku.
"aku kan masih kecil ta"
aku jawab masih polos dan bingung mengapa lita mentertawakanku.
" iya iya masih kecil "kamu katanya lagi mengeledekku.
maka nya jangan keseringan nonton Naruto
begini jadinya,
orang ngataiin suka malah nangis"
sambil tertawa mengeledekku lagi.
" udah udah aku mau pulang"
udah magrid. kataku langsung bergegas untuk pulang.
pelan pelan aku masuk ke rumah karena aku mendengar suara keributan dari dalam rumah. aku melihat raut wajah mamak seperti marah terhadap bapakku. yang berada di meja makan, sedangkan mamak ku di depan tv duduk.
mungkin mamak lagi sedang nonton sebelum bapak pulang.. aku masuk langsung ke kamarku. karena aku pulang maka mereka menghentikan pertikaian . dan juga tidak melihat kakak di rumah.
adek.. panggilan terhadap ku
" apa pak" aku jawab langsung bergegas menghampiri bapak.
" udah makan "katanya padaku
aku hanya menggelengkan kepala saja.
"makan ayok" kata bapak lagi.
"mak ayo makan "kataku sama mamakku
mamak tidak menjawabnya
mamak langsung bergegas keluar ntah kemana .
aku sama bapak makan , dan aku juga tidak menanyakan kenapa mereka bertengkar, dan bapak juga enggan untuk mengatakannya kepadaku.
kami hanya membisu dan melanjutkan makan kami.
bertengkar terus .....
bertengkar terus .....
bertengkar terussss....
tiba tiba saja suara itu mengkagetkan kami. dan ternyata adalah kakakku.
" dasar orangtua tidak punya"
" anak sudah besar juga masih saja bertengkar. dengan suara keras dan mengarah ke kamarnya dengan membanting pintu.
kami hanya diam, tidak menggubris apa yang ucapkan kakakku.
setelah selesai makan aku membereskan piring kami makan dan bapak langsung keluar, ntah kemana mungkin ada urusan.
aku sedang membereskan piring kotor , karena aku tidak tahan lagi menahan air mataku, akhir jatuh juga. aku duduk di meja makan sambil mengingat pertengkaran mereka. sebelum masuk aku sudah mendengar semua pertengkaran kedua orang tuaku.
bukan sekali dua kali orang tuaku bertengkar, mungkin sudah puluhan kali mereka , tapi baru pertama kali aku mendengar kata kata itu , dan itu terucap dari mulut ke dua orangtuaku.
" kenapa" kakakku bertanya dengan suara agak masih keras.
dan tiba tiba saja sudah ada di depanku.
aku hanya menatapnya dan menundukkan kepalaku lagi ke arah meja.
gak usah di tangisin.
gak ada gunanya
mereka aja orangtua gak punya malu" kata kakak ku dengan suara masih emosi..
Dia mengambil nasi dan duduk di meja makan , dengan lahapnya dia menghabiskan makanannya.
kakakku tidak pernah menghiraukan ketika kedua orangtua bertengkar.
dan seolah olah tidak peduli dengan mereka.
sedangkan aku, hanya bisa nangis dan tidak bisa berbuat apa apa.
__ADS_1