
Neos yang berarti baru. Kota yang hampir menjadi reruntuhan itu telah kembali hidup dan terpenuhi oleh para penduduk dan imigran.
Juga terpenuhi oleh bangunan baru. Jalanan yang dulu hanyalah tanah yang akan becek saat terkena air hujan, kini berubah menjadi batu bata yang tertata rapi. Juga tanaman hias yang tertata rapi di tepi jalan.
Kota yang hampir menjadi reruntuhan sepenuhnya berubah. Seperti tanaman yang tidak berhasil mengalami kelayuan.
Beberapa bangunan yang masih dalam proses pembangunan membuat sesuatu terbesit di pikirannya. Tentang kota itu yang direnovasi dalam beberapa waktu dekat silam.
Sesuatu yang membuat Ryuha yakin tempat itu adalah tempat dia tinggalnya dulu yaitu sebuah papan usang yang masih terpasang tidak jauh dari gerbang.
Baal tidak tahu kenapa. Laki-laki berjubah hitam itu sama sekali tidak melakukan gerakan setelah memasuki kota. Hanya terdiam dengan mulut terbuka. Segera dia melontarkan sebuah pertanyaan.
Namun jawaban yang diberikan Ryuha sangat membuatnya terkejut. Pasalnya, laki-laki itu terus berlari kencang, seperti sangat paham dengan lingkungan di sana.
Menuju ke tempat tujuannya. Langkah kakinya terhenti setelah sampai di depan bangunan besar bercat hitam.
Terdiam sesaat dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Rasa kecewa bertamu ke lubuk hatinya saat mendapati jika tempat itu telah sepenuhnya berubah.
Hanya sebatas rasa kecewa. Laki-laki itu segera membuang perasaan itu jauh-jauh sebelum hatinya tenggelam dalam lautan kegelapan.
Namun itu sedikit tertinggal di hati Baal. Dirinya menyadari sesuatu. Tempat yang ingin dilihat Ryuha adalah Panti Asuhan Take, tempat dia tinggal bersama adiknya dulu.
Wanita paruh baya berjalan santai menggandeng bocah laki-laki yang memiliki mimik wajah sama dengannya. Ryuha memberikan satu sapaan halus, lalu melontarkan sebuah pertanyaan untuk memastikan sesuatu.
"Apakah kota ini baru saja dibangun ulang?"
Senyum manis terukir di wajah jelita wanita itu. Jawaban santai dan ramah terlantun dari mulutnya.
"Seperti yang anda lihat, kota ini mulai dibangun ulang tiga tahun silam. Apakah anda salah satu imigran?" Alis wanita itu terkerut.
Memberikan jawaban isyarat dengan menggelengkan kepala. Dia juga memberitahu wanita itu jika dirinya hanya datang sebagai pengunjung.
Mereka pun berpisah setelah salam perpisahan kecil dan lambaian tangan masing-masing.
Kembali laki-laki itu melangkahkan kaki menuju tempat tujuan yang sesungguhnya. Namun langkahnya kembali terhenti setelah berjalan beberapa puluh meter. Kini Baal yang memiliki sebuah keinginan. Dia ingin Ryuha untuk mendatangi toko kecil yang ada di seberang jalan.
Sebuah toko dengan satu petak ruangan seluas sepuluh kali sepuluh meter persegi. Belasan rak tersusun rapi di ruangan satu lantai itu. Dilihat dari pemandangan di sana, toko itu menjual item-item seperti pedang, perisai, zirah, dan beberapa perlengkapan perang lainnya.
Setiap rak memiliki kaca transparan yang terlihat sangat sulit untuk dipecahkan. Seperti kaca anti peluru yang dapat memantulkan sebuah serangan. Kaca itu berfungsi untuk menjaga keamanan benda yang ada di baliknya. Yang kebanyakan dari mereka adalah Tanaman Herbal seperti, Flaming Grass, Deep Blue Lavender, dan tanaman umum lain yang mudah dijumpai di dalam hutan. Juga beberapa jenis Batu Magis.
Namun ada satu rak yang tak mau mengalihkan pandangan kedua mata Ryuha.
__ADS_1
Berada di ujung kanan. Di balik kaca transparan itu terlihat batu seperti kelereng dengan ukuran sedikit lebih besar yang tergeletak di atas bantalan merah di dalam kotak kayu. Berwarna biru cerah. Batu itu mengeluarkan cukup pekat Energi Magis. Juga memancarkan gemerlap cahaya biru muda.
"Esensi tipe Water tingkat rendah. Benda ini adalah material Awakening bagi monster yang memiliki unsur air."
Tercengang mulutnya itu. Bukan karena benda ajaib tersebut, tapi karena sesuatu yang tertulis pada papan kecil di depan kotak kayu.
"S, satu koin emas?!"
Baal ikut tercengang. Bukan karena mendengar harga itu. Tapi karena kata-kata fasih yang diucapkan Ryuha.
"K, kau, bisa membaca?"
Ucapan yang terngiang di pikirannya itu seketika membuat alis Ryuha terkeryit. Tentu saja dirinya bisa membaca. Karena semasa kecil dia selalu diajari baca tulis. Baik saat di panti asuhan maupun di Kuil Cahaya.
"Lupakan itu. Sekarang apa yang harus aku lakukan di tempat ini? Apa aku harus membeli benda ini?" Ujar Ryuha.
Tujuan sebenarnya Baal adalah hanya untuk memperlihatkan kepada Ryuha bagaimana bentuk material Awakening. Dan karena tidak ada hal penting lain, untuk menghemat waktu Ryuha segera pergi meninggalkan tempat itu.
Terus berjalan menuju pedalaman kota, sembari melihat-lihat pemandangan di sana yang memiliki hawa familiar namun terlihat sangat asing.
Sampai di satu tempat yang membuat langkah kakinya kembali terhenti. Patung raksasa wanita bergaun panjang, surai bergelombang yang menutupi punggung, dan sepatu hak tinggi yang membuat orang yang melihatnya merasakan aura kewibawaan miliknya.
Di bawah patung terdapat beberapa pot bunga melati yang tertata rapi. Juga sebuah ukiran nama.
"Aku juga memikirkan hal yang sama. Entah apa yang dipikirkan orang-orang sampai menyandangkan nama itu kepadanya?!"
Suara selembut sutra, masuk ke dalam telinga laki-laki itu, yang membuatnya mengalihkan pandangan ke arah belakang.
Klotak, klotak, klotak ...
Gadis dengan wajah ramping yang memiliki manik mata biru langit dengan alisnya yang sedikit tebal, berjalan dengan anggun menghampiri Ryuha. Langkah kakinya yang sangat lembut membuat suara yang dikeluarkan oleh sepatu haknya terdengar seperti irama pembuka lagu. Dress yang terpasang di tubuh langsingnya membuat sosoknya terlihat lebih menawan karena memiliki warna yang sama dengan matanya.
Berdiri persis di samping Ryuha. Aroma wangi tercium pekat di hidung yang memiliki tingkatan yang sama dengan anjing pelacak.
Kulit lehernya yang putih mulus terlihat jelas di mata laki-laki itu saat sang angin meniup surai biru kehitaman sedikit bergelombang itu.
Melihat sosok bidadari tak bersayap yang hanya setinggi pundaknya, Ryuha terpelongo. Bayangan-bayangan adiknya tiba-tiba saja mengisi setiap sudut di dalam otaknya.
Dirinya tersadar saat sang gadis yang tiba-tiba memberikan tatapan keheranan kepadanya. "Apa ada sesuatu di wajahku?"
Ucapannya yang sangat lembut terus membuat Ryuha terdiam sesaat. Menelan ludah ketika hendak memberikan jawaban. Namun ucapannya terhenti di dalam kerongkongan, saat dirinya tak sengaja melirik ke arah patung. Mulutnya gemetaran saking dirinya kebingungan ingin menjawab apa.
__ADS_1
Akan tetapi gadis itu malah tertawa kecil. Tangannya membelai rambut di telinga, lalu mengalihkan pandangan ke arah patung.
Senyum manisnya yang tak kunjung usai, membuat mata yang melihatnya tak ingin berpaling. Suara nan lembut kembali keluar dari bibir merah mudanya.
"Patung ini hanya sebuah penghargaan, karena aku mendapatkan sedikit keberuntungan dan berhasil menyelamatkan kota ini dari kehancuran." Gadis itu menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Mereka bahkan memaksaku untuk menamai kota ini."
"Tentang julukan ini, jujur saja aku sedikit merasa malu saat memikirkannya." Tambahnya.
"Ha? Ah iya-iya."
Entah apa yang baru saja dikatakannya, Ryuha sama sekali tidak mendengarkan ucapan wanita itu. Sesaat setelah curhatan hati sang gadis, dirinya terlelap dalam lamun karena tengah membandingkan sosoknya dan Rin. Dan beruntung sekali lamunannya tersadar tepat waktu.
Sontak gadis itu mengeryitkan kening saat mendapati keanehan dari laki-laki berjubah hitam itu. Namun saat memandangnya, sekilas wajah itu terlihat familiar. Sosok kakak laki-laki kembali terbesit di kepalanya, yang membuatnya terlelap dalam lamunan.
Melihat gadis itu yang terpelongo, Ryuha melambai-lambaikan tangan di depan mata biru sang gadis.
"Halooo... " Alisnya terkerut karena sebatas kacang yang diberikan sang gadis.
Sejenak otaknya berpikir, "Apakah wajahku terlihat aneh sampai gadis ini memandangiku seperti ini?"
Sampai saat linang air mata yang mengalir di pipi. Ryuha yang terkejut segera memberikannya satu buah kejutan dengan menepuk bahunya.
Tersadar seketika. Gadis itu langsung bertingkah aneh. Kedua matanya terbelalak setelah mengelap genangan yang ada di pipi.
"Kenapa, kenapa aku menangis?"
Bagaimana Ryuha bisa tahu. Laki-laki itu hanya menggelengkan kepala sambil mengatakan jika dia menangis setelah memandangi wajahnya yang dia pikir terlihat aneh.
Genangan air tak lagi tersisa di pipi, sang gadis tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang aneh di wajahmu. Aku hanya teringat dengan kakakku yang ... "
Tak kuasa melanjutkan perkataan saat genangan air kembali memenuhi katup matanya. Namun walaupun hanya setengah ucapan, terlantun kata "Kakak" yang membuat rasa penasaran Ryuha melunjak.
Apakah gadis ini benar-benar dia? Atau kakak yang yang dia maksud adalah orang yang berbeda. Hatinya tak lagi bisa menahan rasa yang mengganjal itu.
"Emm, maaf karena aku bertingkah aneh." Ucap gadis itu setelah selesai menghilangkan air di katup matanya.
Ryuha menggelengkan kepalanya. Memberikan jawaban isyarat jika dia tak menganggap hal itu aneh.
"Oh iya, siapa namamu?"
Dengan senyuman manis gadis itu menjawab.
__ADS_1
"Namaku Rin, Take Rin."
Bersambung ...