( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Prolog


__ADS_3

"Ka ... "


"Kak ... "


Suara itu terus menggema dalam gelapnya tempat dia berada saat ini. Setitik cahaya yang kian membesar, seperti katup matanya yang hendak terbuka menampilkan samar sosok gadis yang dia kenal. Ia tengah meminta tolong padanya.


Hanya saja, entah kenapa dia tak dapat melakukan apapun. Dari kepala sampai ujung jari kaki, dia merasa tak memiliki semua itu. Bahkan untuk membunyikan suara serak halusnya dia sama sekali tak bisa. Hanya sebatas menyaksikan secara samar lambaian tangan sang gadis yang terus berteriak.


Gadis itu terus memanggilnya, semakin lama semakin jauh, jauh, jauh, hingga akhirnya semuanya lenyap dan kembali hanya menyisakan sebuah ruang hampa tiada ujung.


Plukk ...


Bersamaan dengan jatuhnya tetesan air di dalam sebuah lorong yang hanya diterangi oleh cahaya obor yang tertempel di dindingnya, kedua mata laki-laki dengan surai hitam itu perlahan terbuka, dan langsung mengeluarkan suara serak halus yang telah lama berubah menjadi lebih berat.


"Ah ... Rupanya cuma mimpi."


Sedikit teringat akan masa kelam yang dialaminya beberapa belas tahun silam, juga tentang gadis itu yang perlahan mulai terkikis dari ingatannya. Terlebih, saat suara mungil itu memanggil namanya, "Ryuha."


Laki-laki itupun beranjak dari tidurnya, memperlihatkan pakaiannya yang terbuat dari rajutan karung bekas yang dipenuhi dengan tambalan lubang. Dia lalu pergi setelah membawa keranjang yang berisikan batu-bara yang dia dapat dari goa ini yang ternyata adalah sebuah tambang batu bara. Tentu saja, dia tidak melupakan beliung yang tergeletak dekat keranjangnya.


Karena mimpi itu, setiap langkah kakinya seakan menyayat kembali hati yang dulu pernah terluka berat. Sebab dalam pikirannya sekarang hanya ada cuplikan-cuplikan mimpi buruk itu yang terputar secara otomatis dan tak ingin berhenti. Ingatan itu terus berlanjut sampai di detik-detik dirinya sebelum pejamkan mata beberapa menit yang yang lalu. Saat ingatan tentang dirinya terngiang di dalam kepala, helaan nafas berat terlantun melalui mulutnya.


"Tak kusangka sudah lima belas tahun aku melayani para anj*ng kuil sebagai budak."

__ADS_1


Tanpa menghentikan langkahnya, dia terus berjalan sampai ke kedalaman yang tak lagi mendapatkan cahaya obor. Laki-laki itu lalu menyalakan sebuah obor dan memasangkannya di dinding lorong, sehingga cahayanya langsung memperlihatkan jelas batu bara yang siap untuk di tambang. Tentu saja, dia meletakkan penerang itu di tempat yang benar-benar aman. Karena di tempat ini, sekecil apapun api yang menyala dapat menghilangkan ribuan nyawa.


"Hah! Karena aku tidak ingin mati di tempat seperti ini, sebaiknya aku tidak terlalu banyak berpikir."


Kedua tangan itu segera mengayunkan beliungnya yang tergenggam erat, hingga terdengar suara nyaring yang menggema di dalam sana.


TINGG ....


Suara seperti itu terus menggema, entah sampai mana suaranya menghilang.


"Ingin terus hidup .... Kau bercanda?"


TINGG ....


"Budak sepertiku, memangnya kehidupan seperti apa yang bisa aku rasakan selain menambang batu bara?!"


THUANGG ....


Saat ujung beliung menyentuh permukaan kasar itu, entah ada hal apa dia langsung terpental hingga menghantam dinding. Batu bara yang ada dalam keranjang di sampingnya itu berhamburan tak karuan. Punggungnya mati rasa, sesaat dia tak bisa bernafas sampai setelah dia terbatuk beberapa kali.


"Apa-apaan itu tadi, apa aku memukul Bubuk Mesiu?" Matanya sampai terbuka lebar karena penasaran. Dia lalu kembali berdiri untuk memuaskan rasa penasarannya.


Betapa terkejutnya dia saat melihat kobaran-kobaran kecil yang keluar dari dalam tanah. Dia sampai terjatuh kembali saat memikirkan tambang ini akan terbakar. Ingin dia berlari, namun seketika tanah di sekitar kobaran itu runtuh hendak menguburnya hidup-hidup. Secara refleks dia melompat ke samping, menghindar dari kumpulan tanah itu.

__ADS_1


Memang tidak tertimpa oleh tanah longsor, akan tetapi raut wajahnya tetap terlihat cemas dan pandangannya tak teralihkan dari kumpulan tanah itu.


"Gawat .... Bagaimana caraku keluar dari sini?"


Semua pikirannya kini hanya mengacu pada kalimat, "Bagaimana caranya keluar." Dia melupakan apa yang menyebabkan tanah itu longsor. Sampai saat hawa panas dan gemerlap kobaran api kecil yang sedikit menerangi tempat itu, Ryuha seketika panik hendak kabur. Akan tetapi, dia menyadari suatu hal yang terasa agak janggal. Bahwasanya tempat ini adalah tambang batu bara. Jikapun hanya api kecil yang tersulut pastinya akan dengan mudah membakar batu bara saat api itu menyentuhnya. Namun yang dia lihat, api itu sama sekali tak membakar batu bara yang termakan oleh kobarannya. Itu membuatnya semakin yakin jika dia tidak meledakkan bubuk mesiu.


Rasa penasaran yang kuat membuat pikirannya sedikit kacau sebab tidak selaras dengan hatinya yang merasa takut. Akhirnya setelah satu tegukan ludah, dia memberanikan diri untuk melihat api aneh tersebut walaupun sekujur tubuhnya tak berhenti gemetaran.


Sebuah kobaran api kecil yang menjalar seperti lubang cacing, nampak seperti tengah mengunci sebuah gulungan kertas usang yang sepertinya telah terkubur selama sekian puluh atau mungkin juta tahun.


Mata dan mulut laki-laki itu terbuka cukup lebar melihat benda yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang di kalangan atas itu. Dia bahkan mengusap matanya beberapa kali memastikan jika dia tidak sedang bermimpi.


"S, Scroll? Bag, Kau bercanda kan?!"


Ryuha sampai terduduk lemas tak mempercayai apa yang ada di depannya itu. Dia lalu terkekeh sambil tangan kirinya memegang kening yang berhadapan dengan langit-langit lorong.


"Sepertinya para dewa sudah bosan sampai ingin menjadikanku tontonan mereka?! Tapi karena sudah diberi sesuatu seperti ini, bagaimana mungkin aku menolaknya?"


Dia lalu berdiri dengan mata terpejam. Ingatannya mengingat tentang masa kelam yang baru saja ingin dia lupakan. Dari saat dia bermain dengan gadis kecil itu, perang antar bangsawan yang menyebabkan kehancuran kota, hingga saat dia dibawa sebagai budak di kuil ini. Perasaan ini, baru pertama kali dia merasakannya. Hati dan pikiran yang selaras, juga semangat bertahan hidup serta pembalasan dendam, yang dia rasakan saat ini adalah berbagai macam emosi yang tercampur aduk sehingga menyulut api di hatinya.


bersamaan dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat, lelaki itu mengambil gulungan itu. Tangannya tak berhenti gemetaran. Api yang seakan menyegelnya seketika sirna saat tangannya menggenggam gulungan kertas tersebut. Dia pun tertawa gelak dan berkata layaknya seorang ketua penjahat. "Akhirnya setelah sekian lama. Para badjing*n itu, sebentar lagi akan kubuat mereka menderita seribu kali lipat lebih buruk dari yang kualami, bhwahahahahaha .... "


Kilatan petir, hembusan angin kencang, bahkan gemuruh ombak di lautan ikut membara seakan alam merestui apa yang akan dia lakukan di masa depan.

__ADS_1


Disisi lain, seorang Cenayang hebat yang tinggal di suatu tempat nan jauh, yang telah lama menunggu hari ini tiba, terkekeh sebelum mengeluarkan suara nyaringnya. "Akhirnya setelah sekian lama, tangis darah, kekacauan, dan kegelapan akan menyelimuti dunia ini kembali. Khe, khe, khe .... "


__ADS_2