
"Uhukuhuk!" Debu yang beterbangan membuat laki-laki itu terbatuk sesak. Kabut asap segera menghilang, setelah satu lolongan dari sang serigala.
Sontak mulut Ryuha terbuka lebar setelah mendapati monster miliknya telah berevolusi. Penampilannya terlihat telah berubah, tubuhnya kini mejadi lebih besar, terlihat lebih gagah dan lebih dewasa, ekornya semakin panjang, motif di bulunya semakin banyak, selain itu, kekuatannya juga meningkat drastis. Hanya dengan naik satu bintang saja, kekuatannya hampir sebanding dengan monster bintang empat yang belum Awakening.
"Ka, kau, benar-benar bisa berevolusi?" Terkerut alisnya, tak menyangka jika hal seperti itu benar-benar bisa dilakukan. Sang nenek segera terkekeh dengan senyum dingin, dirinya benar-benar sangat puas, bahkan lebih puas dari Ryuha. Mendapati jika Transcendent Monster kini berada di depan matanya, walaupun masih lemah tapi kesempatan untuk melihat sosok sesungguhnya lebih besar daripada sebelumnya. "Sepertinya aku harus menjalin hubungan yang baik dengan bocah ini?!" Batinnya dengan alis terkerut saat memandangi Ryuha yang masih terus bermain dengan serigala jinak itu.
"Eee, nenek? Bagaimana dengan informasi?" Ryuha yang tiba-tiba bangkit dan bertanya segera membuat lamunan sang nenek memudar. "Harga untuk mengevolusikannya sudah setara dengan informasi yang kau butuhkan! Apa kau pikir Anemos Heart bukanlah benda langka?"
"Benda langka? kau bercanda?" Jawab Ryuha. Tentu walaupun tidak tahu menahu tentang Anemos Heart, tapi di dalam dirinya ada Baal yang memiliki ratusan satun pengalaman.
Tidak kecewa, nenek itu malah menyeringai. Hanya dengan itu, keyakinannya terhadap bocah ini semakin bertambah. Dirinya kembali terkekeh.
"Baiklah-baiklah, jika kau merasa benda itu bukanlah benda langka." Jawab si nenek. Wanita tua itu beranjak ke tempat duduknya. Melihat punggung tua yang tertutup oleh mantel, yang dikatakannya barusan langsung terngiang di kepalanya, yang membuat alisnya terkernyit.
"Benarkah bukan benda langka? Baal, ini semua salahmu jika sampai Anemos Heart apalah itu benar-benar benda langka!" Kasar Baal membuang nafas, menyangkut keberlangsungan kultivasi Ryuha, bagaimana mungkin dia asal-asalan dalam bertindak. Kalaupun dia melakukannya, dia yakin yang paling terugikan adalah dirinya sendiri.
"Tenang saja! Itu hanyalah material tingkat menengah yang sepadan dengan lima puluh Gold. Karena hanya sedikit orang yang mengetahuinya, orang-orang beranggapan jika Anemos Heart tak memiliki banyak kegunaan, mungkin di sini kau bisa mendapatkannya dengan sepuluh atau dua puluh Gold?"
Mendengar jawaban panjang dari Baal itu, alis Ryuha sontak kembali terkernyit menampakkan tatapan aneh.
Sang nenek yang baru saja duduk tiba-tiba melanjutkan ucapannya. "Tapi, karena aku telah membantumu, jika kau ingin keadilan maka kau juga harus membantuku!"
Suara itu membuat lelaki bermata merah itu terbangun dari lamunan kecil. Kasar dia membuang nafas karena sang nenek benar-benar berbelit-belit. "Nek, aku akan mengatakan dengan tegas, jika ini tidak menarik minatku, aku tidak akan meneruskan kesepakatan ini."
Sang nenek segera tersenyum kecil. Tentu dia yakin jika laki-laki itu takkan keberatan. "Monster itu, sekarang sudah menjadi monster bintang empat. Aku hanya ingin setiap kali dia akan berevolusi, kau melakukannya di sini. Tapi ingat! Aku tidak menyediakan material-materialnya!"
Lagi-lagi lelaki berbaju biru itu membuang kasar nafasnya. "Tidak tertarik! Sudahlah lebih baik aku mengurus hal lain daripada harus membuang waktu mengurusi kesepakatan yang merugikan!"
Melihat lelaki itu yang terus beranjak tanpa meninggalkan sepatah kata lain, wajahnya berubah panik, sontak dirinya segera berdiri ketika Ryuha hampir selesai menuruni anak tangga di depan rumah.
"Tunggu!" Itu menghentikan langkah Ryuha, laki-laki itu segera membalikkan badan, sedikit menampakkan senyum liciknya. Sang nenek menyadari itu, dia benar-benar malu karena dipermainkan oleh seorang remaja. Menghela nafas sebelum berkata.
"Baiklah-baiklah kau yang memenangkan kesepakatan ini. Jujur saja, aku hanya ingin menjalin hubungan yang baik denganmu!" Sedikit terkekeh Ryuha mendengar itu. "Baiklah kalau begitu, aku juga tidak akan sungkan lagi!"
__ADS_1
Tanpa disuruh dia kembali menaiki anak tangga, itu membuat sang nenek semakin merasa dipermainkan, serasa semuanya telah dikendalikan oleh bocah itu. Sementara itu, di dalam tubuh Ryuha Baal terus tertawa lepas.
"Dasar nenek tua, itulah yang kau dapatkan jika berani meremehkan orangku!"
Mereka berdua pun duduk di sana, Ryuha duduk di bangku sedangkan si nenek duduk di atas tongkat sihirnya yang melayang. Peristiwa itu sedikit membuat Ryuha tertegun.
"Sebelum aku menjelaskan, akan lebih sopan jika aku memperkenalkan diri. Namaku, Mela, Mela Christina." Wanita tua itu memperkenalkan diri. Ryuha pun mengangguk kecil dan memberitahukan namanya. "Nenek Christina, anda bisa memanggilku, Ryu."
"Ryu..., Namanya mengerikan juga?!" Batin Mela, alisnya sedikit terkerut. "Tentang penjelasan itu... "
Ryuha mengangguk kecil. "Aku ingin detailnya."
"Termasuk dasar-dasar pengetahuan umum?" Alis sang nenek sedikit terangkat. Ryuha menggeleng, "Maksudku penjelasan detail Monster Transcendent, tidak, lebih tepatnya tentang Tempest Wolf."
Mendengarnya membuat sang nenek merasa sedikit lega, dia pikir harus menjelaskan kepada bocah itu sampai ke akar-akarnya. Mengenai Tempest Wolf, dia memandangi binatang yang tengah duduk tegak di samping majikannya itu.
"Agar lebih mudah, kita mulai dari monster biasa terlebih dahulu."
"Tapi, aku pernah menemukan sebuah prasasti, setelah meneliti cukup lama akhirnya aku berhasil memecahkan apa yang tertulis di prasasti itu." Mela tebang menggunakan sapu mengambil sesuatu dari rak buku. Itu adalah buku catatan yang terdiri dari beberapa helai kertas, dia lalu memberikannya kepada Ryuha.
"Semua yang tertulis di prasasti aku cantumkan ke dalam catatan itu."
Ryuha mulai membuka buku catatan itu lalu membaca secara pelan. Itu semacam kisah tentang penelitiannya terhadap monster, tidak ada sama sekali yang penting. Tapi ada kalimat yang membuatnya tak bisa berhenti untuk membaca.
"Setelah berbagai macam penelitian kulakan, akhirnya aku berhasil menemukan suatu teori, singkatnya, monster tidak hanya bisa dikultivasikan dengan Awakening, melainkan itu juga bisa berevolusi."
Itu adalah kalimat terakhir yang ada di catatan itu. Mela lalu memberikan satu lagi buku catatan kepada Ryuha.
"Ini kutemukan belasan tahun setelahnya."
Kembali membacanya laki-laki itu. Semua yang ada di dalamnya hampir sama, itu menuliskan tentang proses penelitiannya berlangsung. Memang sama tidak menariknya dengan catatan yang sebelumnya, tapi ada hal yang juga sama membuatnya tak dapat menghentikan bacaan.
"Lagi, aku menemukan teori baru tentang Monster, setelah mengambil ribuan nyawa makhluk itu, akhirnya penelitianku telah sempurna. Monster itu dapat berevolusi menggunakan 'Hati', hati yang sama antara keduanya."
__ADS_1
Hanya untaian kata itu yang membuat minat bacanya meningkat. Alisnya terkerut, begitu juga dengan Baal.
"Hati, hati yang sama, hati... " Entah kenapa, secara ajaib mereka memikirkan hal yang sama, yakni tentang hati. Itu adalah Heart, seperti contoh Anemos Heart. Tersenyum Ryuha karena jika seperti itu kelangsungan kultivasi Tempest Wolf akan menjadi lebih mudah dan tidak membuatnya kebingungan. Namun alisnya segera terkerut setelah teringat akan satu hal.
"Jika seperti itu, berarti Tempest Wolf bukanlah Monster Transcendent?! Selain itu, kenapa orang-orang tidak mengevolusikan monster mereka? Apakah karena ketidaksepengetahuanku?"
Menyeringai nenek itu, dia kembali memberikan catatan lain kepada Ryuha. Itu membuatnya mendengus kesal.
"Kenapa banyak sekali catatan?" Malas membaca catatan yang sekilas seperti cerita kehidupan seseorang yang tidak menarik. Tapi apa boleh buat, yang ingin dia ketahui ada di dalam sana.
Tidak seperti catatan sebelumnya, catatan yang dibacanya kali ini terinci langsung ke inti tanpa adanya kisah tentang proses penelitian yang berlanjut. Di situ tertuliskan, "Aku pikir semuanya telah sempurna, tapi kini aku mengerti setelah melanjutkan penelitianku. Tidak semua monster dapat dievolusikan. Mereka akan langsung mati jika tidak kuat menahan kekuatan yang meluap-luap saat proses Evolusi. Tapi dengan ini aku yakin, monster yang bisa terus hidup setelah melewati proses evolusi, adalah mereka yang dinamai dengan, Transcendent Monster."
Termenung sesaat memikirkan itu. "Tempest Wolf masih sehat walafiat setelah dievolusikan. Berarti, kemungkinannya sebagai Transcendent Monster masih tetap ada." Gumamnya.
Sang nenek yang mendengarnya mengangguk-anggukkan kepala. "Memang tidak seratus persen tapi aku yakin jika Tempest Wolf bisa terus berevolusi sampai ke tingkat Transcendent."
"Evolusi, evolusi, haisshh... " Ucapnya malas sembari menyandarkan tubuh ke meja kayu. Dirinya yang lagi-lagi teringat sesuatu segera bangkit kembali.
"Oh iya, bagaimana tentang Awakening?!" Mendengar itu membuat sang nenek kerutkan alis. "Apa? Kau ingin lagi penjelasan?"
Kasar Ryuha membuang nafas. "Tidak, aku cukup paham dengan Awakening itu. Yang ingin aku tanyakan adalah di mana aku harus mencari Essence?"
"Tentu di Dungeon, lebih tepatnya Elemental Dungeon!" Jawab Mela. "Apa kau tahu di mana letaknya?"
Hanya gelengan kepala yang dilakukan Mela saat wanita tua itu membereskan catatan hendak meletakkannya ke rak buku kembali. Ryuha kembali menyandarkan tubuhnya ke meja kayu.
"Kenapa kau tidak bertanya kepada kakakmu saja?!" Ucap sang nenek. Tiba-tiba teringat, laki-laki sontak bangkit kembali.
"Benar juga?! Baiklah kalau begitu, karena urusan kita sudah selesai, jadi, aku mohon undur diri." Setelah melantunkan salam perpisahan, laki-laki itu pun beranjak meninggalkan kediaman Mela Christina.
Hatinya sedikit dipenuhi rasa tidak sabar untuk mencoba kemampuan baru monster miliknya, sekaligus mencari material untuk meng-Awakennya.
Bersambung ...
__ADS_1