
Rentetan cahaya obor terlihat menghampiri mereka dari kejauhan. Entah darimana datangnya para penduduk mendatangi mereka, seakan mereka mengetahui pasti kelangsungan dari pertempuran mereka.
Melihat kondisi mereka bertiga, tak sedikit warga yang mulai meneteskan air mata. Pasalnya, pemimpin yang mereka junjung sudah terbaring tak bernafas.
Bersamaan ketiga orang itu dievakuasi oleh para warga, mereka menunggu semuanya tenang sebelum melakukan pemakaman.
Cahaya matahari mulai terlihat di langit timur, satu persatu para warga mulai beranjak meninggalkan makam junjungan mereka, menyisakan beberapa lelaki termasuk Ryuha dan Louise.
"Ka, kami benar-benar minta maaf! Tolong maafkan kelancangan kami waktu itu." Lelaki paruh baya yang pernah mengusir Ryuha dan Louise waktu itu, dia terus membungkuk meminta permohonan maaf.
Ryuha tersenyum, tidak seperti Louise yang terus memalingkan wajahnya. Mengangkat tubuh paruh baya yang membungkuk, dia berkata. "Paman, semuanya telah berlalu, kondisi kalian pun sedang tidak baik-baik saja. Sebaiknya lupakan masalah ini dan mulailah menempuh hidup baru. Kami pun meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan nyawa kakek Illiam." Ryuha membalas membungkuk, dirinya melihat Louise yang terus acuh lalu menepuk bahunya, menyuruhnya untuk ikut membungkuk. Laki-laki itu pun ikut membungkuk setelah membuang kasar nafasnya.
Para warga yang ada di sana hanya kebingungan dan segera menyuruh mereka untuk tidak membungkuk lagi, mereka merasa tidak pantas menerima perlakuan seperti itu.
Setelah kedua belah pihak merasa sedikit tenang, Ryuha dan Louise pun beranjak pergi meninggalkan desa. Tidak lupa Ryuha mengambil kepala Shaman Goblin untuk dijadikan barang bukti jika misi mereka telah berhasil terselesaikan.
Berjalan di dalam hutan, mereka memutuskan untuk beristirahat karena hari sudah mulai gelap.
Kayu bakar dikumpulkan, api unggun di nyalakan. Tepat setelah selesai menyantap daging bakar, Louise membaringkan tubuhnya di atas tumpukan daun dan mulai memejamkan mata, sedangkan Ryuha masih terjaga di depan api unggun.
Baal mengetahui apa yang tengah berputar-putar di dalam kepala bocah itu, dia membuang kasar nafasnya. "Katakanlah."
Itu membuat Ryuha tersenyum pahit. Dirinya lalu berkata. "Homonculus. Jadi itu diriku yang sebenarnya? Baal, apa kau bisa memberikan sedikit penjelasan?"
Menghela nafas, Baal pun mulai menjelaskan kepada bocah itu sesuai permintaannya.
Homonculus, itu adalah makhluk buatan, tepatnya itu adalah manusia buatan. Terbuat dari setiap unsur yang ada di dunia. Setiap lekuk tubuh dan penampilannya benar-benar tidak bisa dibedakan dari manusia. Hanya saja, mereka memiliki jantung yang berbeda daripada manusia, dimana jantung mereka terbuat dari suatu Benda Magis yang mungkin hanya satu dari sekian banyaknya manusia yang pernah melihatnya. Makhluk itu tidak bisa menua, dan umurnya bisa mencapai puluhan ribu tahun sebelum energi yang tersimpan di jantung mereka terkuras habis.
Membuat manusia mendekati abadi tidak sama dengan membangkitkan manusia yang telah mati. Jika membangkitkan manusia mati itu membutuhkan sekian banyaknya tumbal, maka pembuatan manusia membutuhkan tubuhnya sendiri sebagai tumbal.
"Setahuku seperti itu. Lalu, waktu itu aku bisa membangkitkanmu hanya menggunakan Primordial Natural Essence, itu karena dirimu lebih domain dengan unsur Nature ketimbang yang lain. Selain itu, melihat kondisimu aku benar-benar terkejut karena Homonculus ternyata bisa memiliki keturunan?! Atau mungkin, ada ritual khusus lain, aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku akan membantumu menemukan jawabannya!" Ujar Baal. Tentu hati Ryuha mendapatkan rasa kecewa, walaupun kecil. Namun mau bagaimana lagi, dia menyadari jika dirinya termasuk sosok misterius.
Merasakan pening di kepala, Ryuha memutuskan untuk melelapkan dirinya ke dalam mimpi.
__ADS_1
Waktu yang sama mereka butuhkan untuk kembali ke Skull City, mereka berdua berpisah di pintu masuk, menuju ke tempat tujuan masing-masing.
Di bangku receptionis, Ellisa yang tengah menunggu kepulangan Ryuha segera membelalakkan mata setelah mendapati kepulangan adik barunya. Segera dia berlari menghampirinya.
"Bagaimana kondisimu? Kau baik-baik saja bukan?" Ucapnya sembari mengecek seluruh tubuh Ryuha.
Ryuha segera mengangguk yakin agar tangan itu berhenti menyentuhnya. Dia juga memberikan kertas misi beserta kepala Shaman Goblin yang tersimpan dalam kandi kecil. Kembali terbelalak mata Ellisa karena misi yang hampir naik tingkat itu telah berhasil diselesaikan.
Namun tidak dengan anggota yang lain, mereka hanya menatap sinis Ryuha yang mendapatkan pelayanan khusus dari wanita pujaan mereka. Walau sadar, Ryuha sam sekali tak menghiraukannya.
Degg!!!
Hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang, entah perasaan apa itu, namun dia tahu jika itu disebabkan oleh Tempest Wolf. Segera dia membisikkan sesuatu kepada kakak barunya itu.
"Di mana aku bisa mencari informasi lengkap tentang Monster?"
Mendengar itu membuat alis Ellisa terkerut, dirinya mengingat-ingat dimana tempat yang menyediakan hal itu. Tak ingin membahas di sana, wanita itu pun menarik tangan Ryuha masuk ke dalam ruangannya.
"Cihh, bocah sialan!" Otaknya mulai berputar memikirkan cara seperti apa agar bisa menghabisi lelaki itu tanpa sepengetahuan orang-orang.
Raka yang ada di sana menyadari apa yang tengah laki-laki itu pikirkan dan terus menghampirinya. Dia lalu membisikkan sesuatu, sesuatu yang membuatnya langsung tertawa lepas.
"Bocah, sebentar lagi ajalmu akan tiba!" Gumamnya.
Sementara itu di dalam ruangan pribadi Ellisa. Wanita itu teringat akan sesuatu lalu memberikan sebuah benda kepada Ryuha.
"Ini adalah lencanamu, simpan baik-baik!" Ucapnya sembari menyerahkan sebuah plat besi, itu memancarkan cahaya merah di tengah-tengahnya membentuk huruf E. Selain itu, dia juga memberikan imbalan berupa tiga ratus Bronze yang ada di dalam kantung.
Ryuha menerima semuanya dengan senang hati. Nampak di mata Ellisa, alis Ryuha yang terkerut saat memandangi plat besi itu.
"Huruf E itu adalah peringkatmu saat ini. Setelah mendapatkan prestasi yang memenuhi syarat untuk naik tingkat, itu akan naik secara otomatis! Selain itu, sistem penurunan tingkat juga akan otomatis aktif jika kau melakukan suatu kesalahan." Mendengar penjelasan itu, Ryuha yang langsung paham mengangguk kecil lalu menyimpannya di dalam cincin.
Baru saja menatap wajah Ellisa, wanita itu langsung membuang kasar nafasnya karena sudah tahu apa yang akan dikatakan Ryuha.
__ADS_1
"Sebenarnya aku mengenal seseorang yang sangat faham mengenai monster. Tapi... " Menggigit ibu jari kiri, Ellisa mengambil pena dan langsung mencoret-coret sehelai kertas putih di atas meja. Berlangsung selama beberapa menit, kertas itu hampir terpenuhi oleh abjad-abjad yang tersusun rapi, dia lalu melipat dan memberikannya kepada Ryuha.
"Berikan saja surat ini kepadanya!" Ujarnya. Ryuha menerima itu dengan alisnya yang terkerut.
"Kepada siapa aku harus memberikannya?" Tanyanya. Ellisa pun mulai membisikkan sesuatu kepada Ryuha, yang membuat laki-laki itu segera mengangguk kecil.
Segera setelah faham, Ryuha meranjakkan kaki meninggalkan ruangan itu. Suasana yang aneh sontak terasakan saat dirinya melangkahkan kaki di tempat perkumpulan anggota Guild, tempat yang mirip Bar itu. Semuanya terlihat berbeda, Ryuha sama sekali tak menyadari adanya tatapan sinis dari orang-orang.
Sampai pada saat lelaki berotot penuh tato menepuk bahunya dari belakang. Walau tersenyum namun Ryuha bisa merasakan sesuatu di balik semua itu.
"Hei, hei, kudengar kau berhasil menyelesaikan misi tingkat E yang sudah gagal dua kali itu?! Bagaimana jika kau bergabung dengan kelompok kami?"
Tersenyum sinis Ryuha. Dirinya berkata lirih sambil melepaskan tangan besar yang menyentuh bahunya. "Sayang sekali aku tidak tertarik." Jawabannya dingin. Sontak lelaki bertato itu menggertakkan gigi mendapati kesombongan Ryuha, tangannya langsung terkepal sebab amarahnya sudah berada di ujung saat melihat punggung laki-laki yang terus menjauh darinya itu.
Dalam tubuh Ryuha, Baal tertawa lepas. "Dunia dipenuhi dengan anj*ng penjilat!"
Tersenyum kecil menggeleng-geleng Ryuha mendengar itu. Tap mempedulikan yang ada di belakang, laki-laki itu terus berjalan ke arah barat daya, tempat yang sudah diberitahukan oleh Ellisa kepadanya.
Kurang lebih tujuh ratus meter jika digambarkan dengan garis lurus dari Slayer Guild. Tempat itu berada di pojok kota, sangat sepi di daerah sana. Ryuha bahkan tidak melihat bangunan lain di wilayah itu.
Tertegun dirinya melihat bangunan satu petak sebesar gubuk kayu. Hawa mistis benar-benar pekat memancar dari dalamnya.
"Apakah ini benar-benar tempatnya? Kenapa aku merasa jika aku sedang berada di tengah-tengah makam?" Ujar Ryuha.
Baal hanya menampakkan tangannya yang berupa kumpulan dari kobaran-kobaran api yang meyatu, dan langsung menunjuk ke kiri, tempat yang hampir tertutup oleh kabut.
Sungguh terkejut Ryuha saat dirinya menyadari ada puluhan batu nisan yang masih tertancap di atas gundukan tanah. Laki-laki itu sontak menelan ludahnya mendapati jika dirinya memang benar-benar di wilayah makam.
"Haish, kau ini. Melihatku kau tidak takut sama sekali. Giliran melihat gundukan tanah kakimu langsung bergetar!" Ujar Baal.
Sudah sampai sini, takutpun tidak ada guna, dia memberanikan diri untuk terus melangkahkan kaki yang sedikit gemetaran menuju kediaman seorang kenalan Ellisa.
Bersambung ...
__ADS_1