( Re ) Legendary Summoner

( Re ) Legendary Summoner
Kediaman Sang Ahli Monster


__ADS_3

"Permisi..., apakah ada orang di dalam?" Sedikit berteriak di depan pintu. Namun tak ada jawaban sama sekali, dirinya pun segera mengetuk pintu kayu itu. Namun ketika hendak mengetukkan tangannya, jantungnya tiba-tiba saja kembali berdegup, kali ini lebih kencang daripada sebelumnya, dadanya pun terasa sedikit sesak.


"Baal, sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada Tempest Wolf?!" Tanyanya. Segera terkerut alis Baal, memikirkan kejadian yang aneh itu sembari mengingat-ingat kejadian di masa lalu yang mungkin dapat dijadikan petunjuk.


Pikirannya segera terpusat pada Monster Transcendent yang identik dengan warna merah keemasan, dan dia ingat jika Tempest Wolf pernah memancarkan cahaya itu walau hanya sekilas.


"Ryuha, walaupun tidak pasti tapi aku yakin jika Tempest Wolf benar-benar Monster Transcendent. Tapi untuk saat ini, lebih baik kita cari tahu informasi lebih detail dulu, pumpung kita ada di sini!"


Segera setelah anggukan kecil, laki-laki itu pun mulai mengetuk pintu kayu itu.


Tok, tok, tok!!!


Tiga kali ketukan, dan sama sekali masih tidak ada jawaban. Sontak dia membuang kasar nafasnya. Ketika tengah berpikir bagaimana cara masuk ke dalam rumah mengerikan itu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan sendirinya, seketika bulu kuduknya berdiri semuanya.


"Permisiii!!" Sedikit memperkuat suaranya. Namun tetap saja tak ada sahutan dari dalam. Pasrah dengan keadaan, dirinya tak mau menunggu lama dan langsung masuk ke dalam.


Brakkk!!!


Pintu itu segera tertutup dengan sendirinya, membuat Ryuha langsung jungkir balik memasang kuda-kuda. Merasakan tak ada satupun tanda bahaya setelah melihat ke sekeliling, dirinya pun melanjutkan langkah.


Di dalam rumah yang hanya sepetak ruangan, semua yang ada di sana terlihat jelas di matanya. Benar-benar terlihat berantakan, banyak sekali buku-buku juga kertas usang yang berhamburan di lantai, juga sebuah bangku yang ada di dekat meja di samping ranjang. Di atasnya tergeletak sebuah buku, buku bersampul coklat dengan abjad-abjad kuno yang sama sekali tak dipahaminya.


"Buku Diary." Ujar Baal di dalam tubuhnya membaca abjad itu. Alis Ryuha sontak terkerut, dirinya yang penasaran hendak membuka buku itu.


Baru saja menyentuh sampul buku, tiba-tiba saja sebuah aura seperti benang jundat berwarna biru gelap melilit tangannya, tidak hanya itu, benda itu juga menarik tangan kanannya. Dia menyadari sesuatu di arah belakang, sontak langsung membalikkan badan.


Tiga buah pisau melesat ke arahnya, segera dia memiringkan badan. Melakukan hal itu membuat tenaganya berpusat ke titik lain di tubuhnya, alhasil sesuatu yang melilitnya pun berhasil menariknya dan membuatnya terjatuh. Tak sempat untuk berdiri, kumpulan aura yang sama tiba-tiba muncul dan melilit tubuhnya. Dirinya menggertakkan gigi berusaha untuk melepas ikatan itu. Akan tetapi staminanya terasa terkuras dengan cepat.


Sosok wanita tua dengan topi kerucut dan mantel hitam yang entah darimana datang menghampirinya. Aura gelap yang melilitnya tiba-tiba saja membuat tubuhnya melayang. Ryuha terus menggertakkan gigi menahan rasa sakit karena lilitan itu semakin kuat melilitnya.

__ADS_1


"Bocah sepertimu, beraninya kau masuk tanpa seizinku?!" Suara nyaring khas seorang wanita tua.


Menahan rasa sakit, Ryuha menjawabnya dengan terbata. "A, aku membutuhkan, bantuan, anda." Di hendak mengeluarkan surat yang diberikan Ellisa dari dalam cincin. Namun tangannya tak kuasa dia gerakkan.


"Siapa yang menyuruhmu untuk berbicara?" Ucap sang nenek, lilitan itu semakin kuat lagi setelah ucapannya itu terselesaikan. Ryuha terus meringis kesakitan, sekuat tenaga dia hendak mengeluarkan surat di dalam cincinnya.


Sang nenek mengambil sebuah ranting kayu panjang, itu terlihat seperti sebuah tongkat sihir. Hanya dengan sedikit gerakan, pisau yang tertancap di tembok segera tercabut dengan sendirinya lalu berputar-putar dan melayang, mengitari leher Ryuha.


Laki-laki itu sama sekali tidak merasakan adanya rasa bercanda. Yang dilihat dan dirasakannya adalah tatapan membunuh dan hawa dingin yang menyesakkan dada. Kembali dia menggertakkan gigi.


"Ellisa! Aku datang membawakan suratnya!"


Melonggar seketika lilitan itu, pisau yang berterbangan pun ikut terjatuh. Ryuha terbatuk saat dirinya bertekuk lutut setelah terlepas penuh dari lilitan, segera dia mengatur ulang nafas dia yang terengah-engah. Sang nenek hanya menatapnya dengan dingin. Itu dipahami oleh Ryuha, dirinya pun segera mengeluarkan sepucuk surat dari dalam cincin.


Sedikit terkekeh saat membacanya, nenek itu lalu berkata. "Hukum pertukaran di dunia ini masih berlaku. Mungkin, beberapa ribu Gold cukup untuk membayar ini?!"


Mengerti maksud Ryuha, nenek itu kembali terkekeh. "Bocah sepertimu, berapa banyak pengalaman yang kau miliki, hekhekehekeh. Sudahlah, lebih baik kau pergi dan carilah pengalaman terlebih dahulu sebelum bertukar denganku!" Ucap nenek itu sembari melambai-lambai menyuruh Ryuha untuk pergi. Tentu akan diremehkan jika hanya bermodal mulut dan penampilan. Namun dirinya tak mampu melihat bahkan merasakan ada makhluk seperti apa di dalam tubuh Ryuha, dan itu semakin membuat laki-laki itu tersenyum.


"Yah, yah, pengalamanmu memang lebih banyak dariku. Tapi aku yakin jika kau belum pernah melihat sosok Monster Transcendent secara langsung?!" Ucap Ryuha, di dalam tubuhnya Baal terus membimbingnya walaupun dia sendiri masih tak tahu kepastian dari hal itu. Hal itu cukup membuat nenek sihir itu sedikit membelalakkan mata. Seumur hidupnya, dia hanya melihat Monster Transcendent dari lukisan-lukisan kuno yang dia temukan dan bocah yang ada di depannya berkata jika dia pernah melihatnya langsung, hal itu membuat rasa penasarannya sedikit memuncak.


"Itu memang informasi yang menggiurkan. Sayangnya aku tidak punya waktu untuk pergi ke tempat dimana kau melihat makhluk legendaris itu." Ucapnya sambil membalikkan badan.


"Untuk apa jauh-jauh ke tempat itu?"


Mendengar ucapan itu, sang nenek sontak membalikkan badannya kembali dan memperlihatkan alisnya yang terkerut. Terlihat di matanya senyum dingin Ryuha, juga tangannya yang dilambaikan seperti tengah memanggil sesuatu. Seakan Monster Transcendent itu adalah monster miliknya sendiri.


"Lihat baik-baik Monster Transcendent dengan kedua matamu!"


Seketika dari dalam bayangan, sosok Tempest Wolf melompat dan langsung melolong, hal itu membuat alis sang nenek semakin terkerut.

__ADS_1


"Apa kau sedang mempermainkanku? Ini hanyalah Tempest Wolf dan ini sudah sekarat hampir mati. Darimana yang Monster Transcendent?!" Geram nenek itu. Tongkat kayu itu diangkatnya tinggi-tinggi, sehingga benang-benang aura segera muncul dari lantai hendak melihatnya kembali.


"Tunggu-tunggu, aku tidak bercanda, lihatlah baik-baik terlebih dahulu!" Ucap Ryuha. Sontak benang-benang aura itu berhenti di sekitarnya. "Itu bukan karena Tempest Wolf sedang sekarat. Tapi itu seperti seseorang yang harus melakukan terobosan!"


Sebenarnya Ryuha sendiri tidak tahu dengan apa yang dia ucapkan, dirinya hanya asal bicara karena tak ingin terlilit benang-benang itu untuk kedua kalinya. Namun sang nenek terlihat kembali mengkerutkan kening, seakan apa yang dikatakan oleh Ryuha adalah suatu kebenaran.


Wanita tua itu segera membopong Tempest Wolf untuk mengeceknya lebih detail, dan alisnya semakin terkerut. Seperti teringat sesuatu, nenek sihir itupun mengobrak-abrik rak buku untuk mencari buku yang mencatat hal-hal tentang Monster Transcendent.


Ketemu, itu sebuah buku yang terlihat sangat usang, bahkan sampulnya dipenuhi oleh debu dan sarang laba-laba. Membalik-balikkan halaman, terus sampai dia menemukan apa yang dia cari. Sang nenek lalu membacanya dengan lirih, namun itu masih dapat didengar oleh Ryuha.


Laki-laki berbaju biru dan Iblis yang ada di dalamnya tubuhnya sontak membelalakkan mata setelah mendengar itu semua. Pasalnya, jika yang dikatakan oleh nenek itu adalah suatu kebenaran berarti Tempest Wolf memang benar-benar adalah Monster Transcendent yang baru saja terlahir, dan monster miliknya itu dapat terus berevolusi seperti seseorang yang akan menerobos setelah levelnya mumpuni.


Geraman terdengar di kedua telinga mereka, yang langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah itu. Tempest Wolf nampak tengah menggeram, tubuhnya bergetar seperti menahan sesuatu.


Kedua mata sang nenek sedikit terbelalak karena teringat sesuatu, segera wanita tua itu membalik-balikkan halaman buku untuk memastikannya.


Anemos Heart


"Apa itu?" Gumam Ryuha. Sang nenek segera mengobrak-abrik lemari kayu di dekat rak buku. Setelah menjadi semakin berantakan, benda itu pun berhasil ditemukannya.


Disimpan di dalam sebuah kotak kaca, sebuah kristal kecil berbentuk bintang segi empat yang berwarna cyan dan terlihat mengeluarkan benang-benang aura warna sama setiap beberapa detik. Sedikit menyayat jari telunjuk, sang nenek lalu membuat Magic Circle yang mengitari Tempest Wolf menggunakan darahnya. Di tengah-tengah lingkaran kecil yang ada pada Magic Circle itu, wanita tua itu pun segera meletakkan kristal yang bernama 'Anemos Heart' itu.


Menyala seketika Magic Circle dan Anemos Heart. Cahaya merah darah dan cyan yang berpadu semakin lama semakin terang hingga warnanya itu berubah menjadi putih terang, yang terus menyelimuti sosok Tempest Wolf yang ada di tengahnya, yang membuat tubuh binatang itu ikut bercahaya terang.


Woshhhhh


Hembusan angin memporak-porandakan ruangan itu, debu-debu yang ada di sana sontak beterbangan membuat ruangan itu seperti dipenuhi oleh asap tebal.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2