
Rasa kejut sontak membuat nyalinya menciut. Bocah ingusan di depannya yang tiba-tiba berada di depannya itu berhasil membuat beberapa keringat menetes. Termasuk dengan seorang laki-laki dengan mantel merah gelap di dalam ruangan tingkat ketiga di gedung lelang.
Lelaki paruh baya berambut silver itu menyeringai melihat keributan itu sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan.
"Apakah ada sesuatu yang anda butuhkan, Direktur Jigan?" Ucap seorang wanita pelayan berambut hitam panjang. Dirinya yang membungkuk kembali berdiri tegap setelah satu lambaian tangan sang direktur. Terus mengikutinya menuruni tangga, tanpa menanyakan sebab dan akibat.
Sementara sang direktur, Jigan Mavros terus menyeringai mendapati bocah laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai mangsa. Mengetahui teknik yang dilakukannya itu adalah sebuah teknik langka yang sudah lama hilang, dan tentu saja hanya diketahui oleh sedikit orang.
Sementara halaman depan Paviliun, keributan belum usai, rasa panas di hati lelaki pelayan kian meningkat, mendapati jika bocah di depannya hanya menggertaknya dengan kata-kata, nyatanya aura yang dipancarkan lebih lemah dari miliknya.
Dia menggertakkan gigi, berkata dengan kesal.
"Cihh, jangan anggap aku hanya bercanda denganmu!" Langsung mendorong kasar Ryuha setelah berucap. Membuat jarak yang terpaut antara mereka menjadi tiga meteran.
"Bocah sepertimu berani menentangku hanya dengan teknik rendahan, seperti itu aku juga bisa!"
Teknik umum, Wind Step dilakukan olehnya. Kedua mata Ryuha melihat jelas pergerakan itu, termasuk belati yang terhunus ke dadanya. Kembali hanya sedikit memiringkan badan, dan kali ini dia meraih lengan itu lalu memuntirnya.
Krakkk!!!
Suara renyah tulang yang patah membuat kedua mata laki-laki pelayan itu terbelalak. Teriak histeris kesakitan terdengar bersamaan dengan kakinya yang memijak tanah.
Dirinya yang bukan manusia biasa dan adalah seorang Summoner itu langsung memanggil monster yang sudah dikontraknya. Dengan wajahnya yang seram menatap Ryuha, sosok peri kucing hitam, Monster bintang empat, Black Cat Fairy, melompat dari dalam bayangan lelaki itu.
Luka patah tulangnya segera pulih, saat aura hijau daun keluar dari dalam tubuh kucing hitam itu dan menyelimuti seluruh lengannya.
Ryuha yang melihatnya tertegun sejenak, mendapati teknik pemulihan yang cukup kuat. Sampai saat suara tawa jahat laki-laki itu terdengar tengah menyombongkan dirinya.
"Tidak perlu terkejut! Ada banyak orang yang pernah melihat Black Cat Fairy milikku, dan mereka semua selalu memperlihatkan wajah ketakutan sama sepertimu!" Ucapnya diikuti tawa jahat. Menyeringai Ryuha mendengarnya.
Sosok Tempest Wolf muncul dari bayangannya, melompat dengan sangat buas dan gagah. Dengan satu lolongan kecil yang memancarkan hawa membunuh pekat, monster itu berdiri di depan Ryuha.
"Kebetulan aku belum mencoba kemampuan baru yang dimiliki Tempest Wolf setelah memasanginya Rune. Karena kau sudah berbaik hati memberikan bahan latihan, maka aku tidak akan sungkan-sungkan."
__ADS_1
Menatapnya dengan satu alis yang sedikit terangkat. Hanya dengan seekor monster bintang tiga bocah yang ada di depannya berani menyombongkan diri. Dia kembali menyeringai.
"Kepercayaan dirimu patut diacungi jempol. Tapi hanya bermodal nyali saja kau tidak akan bisa mengalahkanku! Hyaaakk!!!"
Sosok Black Cat Fairy dengan cepat memudar, berubah menjadi cahaya aura ungu yang terus menyatu dengan lelaki pelayan itu. Seketika sosok lelaki itu pun berubah wujud, menjadi bertelinga panjang, bermata kucing, berekor, dan bercakar tajam. Kulitnya pun menghitam dengan beberapa duri keras yang tumbuh di beberapa bagian tubuhnya.
Hembusan angin kuat terpancar setelah proses penyatuan itu sepenuhnya selesai. Tanpa berkata-kata, laki-laki itu menghentakkan kaki lalu melesat menggunakan Wind Step.
Kecepatannya yang bertambah pesat cukup membuat Ryuha terkejut. Cakar tajam yang terhunus ke arahnya segera dia hindari dengan memiringkan tubuhnya, sehingga cakar itu hanya berhasil memotong sehelai rambutnya.
Terlihat jelas senyuman yang seperti mengejeknya, laki-laki itu sudah paham dengan gerakan yang akan dilakukan Ryuha dan terus memutar tubuhnya lalu melayangkan satu tendangan kuat ke kepala Ryuha.
Hanya karena refleks, Ryuha menyilangkan kedua tangannya menahan tendangan kuat itu. Akan tetapi tekanan yang dia terima melampaui batas kemampuannya, sehingga Ryuha terpental jauh ke belakang sampai menghantam salah satu gapura.
Serangan belum sepenuhnya usai, lelaki pelayan itu kembali melesat hendak memukul Ryuha. Segera Tempest Wolf melesat-lesat memberikan beberapa cabikan kepada lelaki itu. Luka memang tidak berhasil diberikan, namun itu berhasil menghentikan pukulan yang hendak mendarat di perut Ryuha.
Melihat serigala kecil di depannya, lelaki pelayan itu seketika murka, dia segera melayangkan satu cabikan ganas kepada makhluk itu. Namun sayang, kecepatan Tempest Wolf tak bisa ditandingi olehnya, itu membuatnya semakin murka dan tak menghentikan cabikan cakarnya.
"Hanya dengan satu Rune saja sudah meningkatkan pesat kecepatan Tempest Wolf?!" Ucap Ryuha sembari mengatur ulang nafasnya yang terengah-engah. Dirinya terus menyaksikan mereka berdua yang saling beradu kecepatan.
"Direktur, apakah aku harus menghentikan pertarungan mereka?" Ucap wanita pelayan itu. Jigan hanya tersenyum kecil, mengisyaratkan jika dia masih ingin menonton kelanjutan dari pertarungan itu.
Melihat seekor serigala kecil yang melampaui kecepatan salah satu anak buahnya itu, dia semakin merasa tak ingin kehilangannya.
"Sialan kau!!!" Teriak geram lelaki pelayan yang terus menambahkan kecepatan cabikkannya. Namun itu belum bisa menandingi kecepatan dari Tempest Wolf.
Sampai pada satu titik, stamina Tempest Wolf semakin melemah dan itu disadari olehnya, laki-laki itu menyeringai. Satu celah berhasil dia sadari, menggunakan kekuatan penuh kecepatannya, sang pelayan laki-laki hendak meraih kaki kiri belakang Tempest Wolf. Dan itu berhasil tertangkap.
Namun dia tak menyadari sesuatu yang melesat dari arah belakang. Ryuha dengan sekuat tenaga melayangkan Fiery Blow tepat ke kepala lelaki pelayan itu.
Bukkk!!!
Terpental terguling di tanah, dan itu bukanlah serangan akhir dari Ryuha. Melihat musuhnya yang tak memiliki kesiagaan, siapa yang tak ingin terus menyerang.
__ADS_1
Menggunakan Emptiness Step untuk berpindah tepat ke atas lelaki itu, menghunuskan tombaknya yang diiringi dengan teriakan kerasnya.
Boommm!!!
Asap coklat tebal menghalangi pandangan mereka. Sosok Ryuha melompat memutar-mutar tubuhnya dan menjatuhkan dirinya di dekat Tempest Wolf, yang berjarak kurang lebih tiga meter dari asap itu.
Berdiri tegap mengatur ulang nafasnya yang terengah-engah. Pandangannya tak teralihkan dari asap coklat itu, dirinya mendapati mata tombaknya dihalau oleh orang lain sebelum itu menembus perut sang pelayan.
Sampai saat angin meniup pergi asap itu, suara tepuk tangan dan langkah kaki ringan terdengar dari dalam asap yang menipis, dan itu mendekatinya.
"Luar biasa! Jarang sekali aku melihat seseorang yang bisa mengalahkan salah satu pelayanku?" Ucap serak kasar dan wajah paruh baya jelas tertangkap oleh telinga dan mata Ryuha.
Mendapati aura padat juga berwibawa yang terpancar di sekitar tubuh lelaki paruh baya berambut silver itu, Ryuha menyadari betapa tinggi posisinya di tempat ini. Itu juga karena dibelakangnya ada seorang perempuan yang mengenakan baju khas Paviliun Lelang.
Salah satu anak buahnya baru saja dilumpuhkan olehnya. Namun Ryuha tidak merasakan hawa membunuh atau semacamnya yang terpancar dari lelaki paruh baya itu.
Pelayan laki-laki yang di belakangnya segera bangkit lalu membungkuk memberikan salam hormat kepada atasannya itu.
"Direktur, bocah ini membuat keributan di sini. Aku mencoba menghentikannya tapi-," Belum selesai dia berbicara, sang direktur langsung memotongnya sebelum membuat Ryuha merasa tak nyaman dengan kondisi di tempat ini.
"Tapi apa? Kau yang hampir mencapai level dua puluh kalah saat bertarung dengan seorang yang baru berlevel tiga belas?" Ucapnya dingin. Itu langsung membuat laki-laki itu terdiam dengan tubuh gemetaran. Ryuha yang mendapati hal itu bisa menyadari kondisi di tempat ini. Namun dia tak mengatakan apapun agar masalahnya tidak bertambah jika dia sampai salah ucap.
"Ehk, ehm..., Maafkan ketidak sopanan bawahanku."
Terbelalak mata semua yang melihatnya. Seorang direktur yang sangat sulit untuk ditemui, berhati dingin dan tidak mempedulikan hal-hal di sekitarnya itu membungkukkan badannya meminta mewakili anak buahnya meminta maaf. Terlebih saat Ryuha hanya melambaikan tangan dengan wajah dingin.
Padahal yang ada di dalam hati Ryuha saat ini hanyalah rasa grogi yang sangat kuat. Terlanjur bersikap seperti itu, dia tak ingin terlihat konyol dan menyembunyikan dalam-dalam rasa groginya itu.
Tapi di sisi lain, Jigan yang melihat wajah ketidakpuasan Ryuha itu sebisa mungkin untuk tidak membuatnya semakin tak nyaman. Karena kata maaf tak bisa meluluhkannya, segera dia memberikan tawaran lain yang lebih menggiurkan.
"Aku melihat bawahanku menahanmu saat hendak masuk ke Paviliunku dan tentunya itu menyia-nyiakan waktumu. Sebagai gantinya, katakan saja apa yang kau inginkan. Selama aku bisa memberikannya, apapun itu pasti akan kuberikan kepadamu!"
Itu benar-benar mengejutkan Ryuha. Keberuntungan di belakang kericuhan, kapan lagi dia mendapatkan hal seperti itu. Tersenyum dirinya sebelum mengatakan, "Aku ke sini karena ingin menjual beberapa mineral. Tapi karena anda mengatakan itu, aku tidak akan sungkan lagi."
__ADS_1
"Tempat ini tidak nyaman untuk berdiskusi, bagaimana jika kita masuk ke dalam? Kebetulan kami memiliki beberapa bir yang dipasok oleh orang-orang luar daerah. Aku yakin ada beberapa yang akan membuatmu puas?!"
Bersambung ...